MATARAM—Masyarakat Sumbawa harus bersyukur bahwa pelaksanaan Kejuaraan Motocross dunia (MXGP) digelar di Samota. Sebenarnya MXGP itu dilaksanakan di Lombok, tepatnya di Selaparang, Kota Mataram. Selain sirkuit sudah ready, juga fasilitas pendukung lainnya telah terpenuhi. Bahkan aksesnya pun lebih dekat, jika dibandingkan dengan Sumbawa.
Karena ‘rayuan’ Gubernur dengan mengajak Tim INFRONT ke Pulau Moyo, membuat segalanya berubah. Keindahan Pulau Moyo dengan air terjun Mata Jitu–tempat Lady Diana, dan tokoh dunia lainnya mencari ketenangan dan menikmati keindahan, membuat tim seketika luluh dan terhipnotis yang akhirnya memilih Samota, Sumbawa menjadi tuan rumah MXGP.
Sikap sedikit memaksa Gubernur ini karena melihat betapa dahsyatnya dampak MotoGP terhadap geliat ekonomi di Pulau Lombok. Mulai dari pembangunan infrastruktur jalan, bandara, rumah sakit, hingga menyulap rumah penduduk dari kumuh menjadi indah dan tertata. Semuanya dirubah menjadi berkelas internasional. Bang Zul sapaan Gubernur juga menginginkan Pulau Sumbawa juga seperti Lombok.
Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah ketika diwawancarai salah satu media online nasional belum lama ini, mengakui bahwa MotoGP memberikan dampak yang luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi Pulau Lombok di tengah pandemi Covid. Hanya dalam tiga hari pelaksanaan MotoGP di Mandalika, perputaran uang mencapai Rp 606,7 miliar berada di atas estimasi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Kegiatan akbar ini mampu menyedot perhatian besar dan sukses. Hanya dengan satu MotoGP mampu menggerakkan semua sektor, termasuk promosi pariwisata. “Nama Pak Jokowi, Indonesia, dan NTB menjadi dikenal luas di seluruh dunia, orang mengenal juga Mandalika bahkan Rara,” kata Bang Zul.
Melaksanakan suatu event internasional diakui Bang Zul, banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Misalnya rumah sakit harus berkelas internasional. Untuk menyulapnya, Menteri Kesehatan dan pihak terkait lainnya turun memastikannya dengan menyiapkan dan melengkapi segala fasilitas guna memenuhi standar yang diinginkan.
Bandara juga diperpanjang untuk bisa didarati pesawat berbadan besar, demikian dengan terminal bandara yang akan didatangi ratusan ribu orang. “Bandara pun akhirnya dibuka selama 24 jam dengan frekwensi penerbangan ditambah,” imbuhnya.
Kemudian jalan by pass dari bandara menuju Mandalika diperbaiki. Presiden langsung memerintahkan Menteri PUPR untuk segera mengerjakannya. Presiden juga tidak ingin hanya Sirkuit Mandalika yang tampak indah, tapi pemukiman penduduk sekitar harus terlihat cantik. Pemukiman inipun ditata dan dibenahi sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi para tamu yang ingin menginap.
Taman-taman diperbaiki dan kuliner khas NTB menjadi menu yang menggugah selera. Dengan sendirinya banyak bermunculan destinasi wisata baru. Semua menjelma dalam waktu singkat.
“Memang benar dengan satu international event mampu menggerakkan investasi. Apalagi kita dapat kontrak untuk menjadi tuan rumah MotoGP selama 10 bahkan 20 tahun ke depan. Ini memantik para investor berdatangan untuk berinvestasi. Impact-nya sangat dahsyat. Ini menjadi satu strategi juga buat kita ternyata membangun daerah itu sebenarnya tidak hanya harus bersandar pada APBD yang ruas fiskalnya terbatas tapi bagaimana kepiawaian kita membangun sinergi dengan pemerintah pusat dan kabupaten kota agar bisa menghasilkan satu hal yang penting yang tidak pernah terpikir sebelumnya,” ungkap Bang Zul.
Setelah MotoGP di Mandalika, lanjut Bang Zul, dalam waktu dekat digelar MXGP di Samota Sumbawa. Ini menjadi momentum bagi masyarakat dan daerah untuk mendapatkan manfaat dari keberadaan event tersebut.
Bang Zul tidak menampik bahwa sebenarnya MXGP dilaksanakan di Lombok tepatnya Selaparang. Namun dirinya ingin MXGP digelar di Pulau Sumbawa. Dengan sedikit memaksa mengajak tim ke Sumbawa, meski mereka agak keberatan dengan berbagai macam argumentasi.
Setelah melihat keindahan Pulau Moyo dan Mata Jitunya, tim tersadar karena mereka telah menemukan serpihan syurga. Belum lagi Teluk Saleh yang dikenal sebagai aquarium dunia dengan Hiu Pausnya, serta Gunung Tambora yang melegenda dengan ledakan dahsyatnya yang mengguncang dunia. Saat itu juga mereka langsung memutuskan untuk menggelar MXGP di Samota (Saleh, Moyo, Tambora).
“Kalau berdasarkan pengalaman kita menjadi tuan rumah MotoGP, terlampau banyak bantuan pusat nimbrung di Pulau Lombok. Kalau MXGP tidak digelar di Sumbawa, maka Sumbawa jauh tertinggal. Dengan telah ditetapkannya Samota menjadi tuan rumah, maka bandara, pelabuhan, rumah sakit, jalan dan lainnya mulai dibenahi, sehingga benar-benar memenuhi standar yang diinginkan tim. Hotel dan homestay juga demikian yang diharuskan memiliki toilet duduk, rumah-rumah bersubdisi yang sebelumnya sepi peminat, mulai banyak dilirik. Semua ini terjadi karena adanya satu event internasional namun mampu menggerakkan semua sektor,” ujarnya.
Memang menggelar event perdana pasti ada kekurangannya. Masyarakat tidak boleh memiliki ekspektasi berlebihan bahwa semua harus sempurna. Segala kekurangan yang ada di awal, akan terus dibenahi menuju kesempurnaan.
“Perjalanan panjang itu dimulai dari langkah pertama. Tinggal bagaimana kita berani atau tidak untuk melangkah. Jadi mari kita sukseskan MXGP ini karena kesuksesan itu akan memanggil kesuksesan-kesuksesan berikutnya,” demikian Bang Zul. (SR)






