Harga Gabah Anjlok, Petani KSB Datangi Distan dan Ketahanan Pangan

oleh -507 Dilihat

Petani KSB, Sebut Pemerintah Tidak ada tenggung jawab atas anjloknya harga gabah.

SUMBAWA BARAT–Para Petani di Sumbawa Barat mengeluhkan sikap pemerintah yang dianggap bertanggung jawab terhadap anjloknya harga gabah. Bahkan pemerintah terkesan mencari alasan untuk menyalahkan petani dengan anjloknya harga gabah menjadi Rp 3000 perkilogramnya.

Pantauan media ini, sejumlah petani mendatangi dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian yang selalu menyalahkan petani karena memanen terlalu cepat sehingga harganya anjlok.

“Kami datang mempertanyakan tudingan yang selalu diarahkan ke petani sebagai biang dari anjloknya harga gabah karena petani panennya cepat. Saat ini kami belum panen, umur padi kami sudah maksimal bahkan sudah lebih umurnya, tapi para pembeli meminta harganya sangat jauh dari HPP yaitu 3.200 bahkan ada yang 3000, sekarang kami datang minta solusi kepada pemerintah kalau memang betul yang kalian katakan kalau kualitasnya bagus maka akan dibayar sesuai HPP,” tegas Nadi yang diamini rekan-rekannya di Kantor Dinas Pertanian, belum lama ini.

Selain itu mereka datang untuk menuntut direalisasikannya informasi terkait adanya uang pengamanan harga gabah sebesar Rp 2,5 milyar. Sebelumnya Pemda beralasan bahwa anggaran itu belum bisa digunakan  karena harga gabah masih normal.

“Apakah dengan kondisi ini harga masih dikatakan masih normal, padahal harga saat ini sangat rendah dari HPP dan kulitas padi kami sangat bagus. Silahkan cek sendiri di lapangan,” tukasnya.

Ia menyesalkan kondisi tersebut terjadi setiap tahun dan petani selalu dihadapkan dengan persoalan yang sama yakni anjloknya harga gabah. Setelah petani mengeluh, pemerintah mulai sibuk mencari solusi, yang menurutnya sangat lambat.

“Saat ini padi kami sudah mau gugur, kepastian dari pemerintah belum ada, ini yang membuat kami mau tidak mau menjual dengan harga yang murah, karena kami butuh makan untuk bertahan hidup karena satu satunya pencaharian kami ya petani,” tandasnya.

Ia melihat sikap pemerintah terkesan lepas tanggung jawab terhadap nasib petani. Parahnya lagi Dinas Pertanian, dan Dinas Ketahanan Pangan saling lempar tanggung jawab membuat petani merasa dipimpong.

Menanggapi keluhan petani, Kabid Pertanian di Dinas Pertanian KSB, Idrus, mengaku sebelum panen pihaknya sudah melakukan antisipasi, terus berkoordinasi dengan Bulog sebagai sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah untuk membeli gabah.

Namun sampai saat ini serapan Bulog masih sangat rendah. Sedangkan pemerintah telah  menyiapkan dana pengamanan harga gabah yang segera dikucurkan. “Pemerintah terus berupaya yang terbaik untuk masyarakat,” pungkasnya. (HEN/SR)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *