Pengembangan Pantai Balad Butuh Sosok Pengganti Malik Salim

oleh -1013 Dilihat

SUMBAWA BARAT–samawarea.com (8 Desember 2021)

Meski memiliki panorama pantai yang menarik, namun masyarakat tidak tertarik untuk berkunjung ke Pantai Balad. Kondisinya yang tak terurus dan kotor, minimnya fasilitas pendukung terutama kamar mandi, menandakan bahwa pantai yang secara administratif berada di Kelurahan Telaga Bertong, Kecamatan Taliwang atau berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota Sumbawa Barat ini, kurang mendapat perhatian pemerintah melalui leading sektor terkait.

Untuk membersihkan diri, terkadang pengunjung menggunakan kamar mandi masjid. Bahkan tidak jarang pengunjung memandikan anaknya di tempat wudhu, sehingga aktivitas ibadah terganggu.

Namun kenyataan itu adalah kondisi beberapa tahun silam. Sebab saat ini Pantai Balad sudah tidak seperti dulu. Lokasinya kian terawat, fasilitas mulai dilengkapi, bahkan telah ditetapkan sebagai destinasi wisata unggulan Kabupaten Sumbawa Barat. Perubahan ini tidak terlepas dari sosok Malik Salim—pengusaha dan tokoh inspiratif.

“Saat itu saya datang ke Dinas Pariwisata dengan harapan ada perbaikan atau tambahan kamar mandi. Dinas hanya mengatakan tidak ada anggaran, sehingga kami tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Sempat saya putus asa. Tapi setelah saya menghadap Bapak Malik Salim membuat saya dan masyarakat mendapatkan energi baru untuk bergotong royong membangun wisata Balad,” kenang A. Halil, Ketua RT setempat.

Malik Salim bak dewa penolong. Keluhan dan harapan masyarakat yang teramputasi birokrasi, diakomodir mantan petinggi PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) ini. “Oke mari kita bekerja” merupakan satu kata yang dilontarkan Malik Salim sebagai pemecut semangat masyarakat membangun wisata Balad. Pohon-pohon kayu besar yang tidak terawat yang dianggap merusak keindahan dan keleluasaan, serta sampah berserakan, habis dibersihkan secara bergotong royong. Lapak-lapak dibangun dan ditata sebagai pusat kuliner.

Tidak hanya mengerahkan alat berat, Malik Salim juga menggelontorkan modal usaha stimulan untuk menghidupkan UMKM setempat. Pertumbuhan ekonomi di lokasi Balad lambat laun mulai terasa.

“Bukan hanya fisik kami dibantu untuk menata Balad, Bapak Malik Salim juga mengajarkan kami tentang konsep wisata itu sendiri, yaitu masyarakat harus bekerja sama terutama dalam menjaga kebersihan, karena masalah kebersihan salah satu faktor pendukung dalam kemajuan wisata itu sendiri, di samping keramahan para pedagang dan masyarakat sebagai bentuk penerimaan kita sebagai tuan rumah yang baik. Alhamdulillah sampai sekarang ini ajaran itu tetap kami terapkan,” kata Halil.

Meski Malik Salim telah berpulang, namun namanya tetap harum dan hidup. Masyarakat Balad melihat sosok panutan itu tetap ada dengan melihat kondisi Balad sekarang ini.

Semua fasilitas di Balad sangat lengkap, pantainya bersih, dan pengunjung tetap ramai apalagi di hari libur. Semua lapak penuh, membuat para pengunjung rela duduk di pasir beralaskan tikar untuk menyantap kuliner.

“Hari biasa sehari saya dapat keuntungan minimal 500 ribu, kalau hari libur bisa sampai 5 juta sehari. Semua ini tidak terlepas dari peran penting Bapak Malik Salim yang biasa bekerja di lapangan dan memiliki jaringan yang sangat luas, serta mampu menyambung semua kebutuhan untuk pengembangan Pantai Balad dengan orang yang lebih tinggi,” kata Halil.

Hanya satu mimpi Malik Salim yang belum terwujud. Adalah menjadikan Pantai Balad tempat wisata nomor wahid di NTB. Tekad dan mimpi Malik Salim menjadi tugas masyarakat Balad untuk mewujudkannya.

“Keberadaan Bapak Malik Salim di Balad ini sangat penting. Sekarang beliau sudah meninggalkan kami. Masyarakat Balad merasa sangat kehilangan,” timpal Amola (53) salah seorang pemilik lapak di Pantai Balad.

Amola berharap ada figur pengganti Malik Salim untuk meneruskan mengembangkan lokasi wisata Pantai Balad. Sebab masyarakat setempat hanya mampu mengembangkan Balad di tataran bawah, sedangkan untuk koordinasi ke tingkat atas mereka sangat lemah.

“Kami merindukan orang seperti Bapak Malik Salim yang rela berkorban, waktu, tenaga dan materi serta bekerja dengan hati untuk menata destinasi ini, dan mengembangkan perekonomian masyarakat Balad. Kami takut dengan kehilangan Bapak Malik Salim, pengembangan Balad terhenti,” ujarnya.

Amola mengaku sebelumnya mencari nafkah dari hasil melaut. Setelah Pantai Balad mulai ramai, ia banting stir dari nelayan menjadi pedagang. Dari sebelumnya hanya mendapat hasil Rp 100 ribu per hari, kini bisa sampai 2—3 juta setiap harinya.

Keindahan Pantai Balad kini menjadi magnet para wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Hamparan pasir putih yang indah, pantai yang bersih, serta ombaknya bergulung indah dan bersahabat. Di kawasan itu beragam kuliner tersaji mulai dari makanan serba ikan khas Sumbawa seperti Sepat, Singang, Sirasang dan lainnya. Ada juga jajanan yang cukup beragam. Semua memenuhi selera dengan harga yang terjangkau.

Menariknya lagi di kawasan itu ada spot foto yang menarik. Yakni tulisan “I Love U Balad” yang setahun lalu dilaunching Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat. Tulisan yang menjadi icon dan berdiri di atas perahu tua ini menjadi favorit para milenial dan keluarga untuk berfoto-foto. Ini menjadi bukti jika wisatawan pernah berkunjung ke pantai tersebut.

Bagi yang hobi menyelam pun juga difasilitasi untuk diving melihat keindahan bawah laut. Di bawah air ini terdapat bangkai-bangkai kapal karam yang menjadi pelengkap indahnya berwisata. Tidak heran jika ada adegium yang mengatakan, tidak ke Sumbawa Barat jika tidak ke Pantai Balad. (*)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *