Bangun 14 Lapak Desa, Pemprov Pulihkan Ekonomi Desa di NTB

oleh -286 Dilihat

LOMBOK TIMUR, samawarea.com (21/1/2021)

Dampak pandemi Covid-19 menyebabkan banyak pengrajin dan UKM kesulitan mengakses pasar. Padahal di masa sebelum pandemi berbagai produk kerajinan lokal NTB memiliki pangsa pasar yang cukup menjanjikan. Seperti produk kerajinan lokal dari Desa Pringgasela yang telah banyak diketahui oleh masyarakat nasional bahkan internasional. Karenanya, untuk menggairahkan kembali pasar kerajinan lokal dan memajukan ekonomi desa, Pemerintah Provinsi NTB membangun 14 lapak desa yang tersebar di berbagai wilayah. Salah satunya adalah lapak Desa Pringgasela, yang diharapkan dapat menjadi sarana bagi semua produk lokal agar dapat terjual dan terserap pasar dengan baik. Hal itu dikatakan Wakil Gubernur NTB, Dr. Ir. Hj, Sitti Rohmi Djalillah, M.Pd., saat meresmikan bangunan Lapak Desa Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur.

Dikatakannya, Desa Pringgasela sejak lama dikenal dengan kerajinan tenunnya yang sampai ke mancanegara. Untuk itu, selain meminta masyarakat benar benar memanfaatkan lapak desa, ia juga tak berhenti belajar strategi pemasaran yang baik. Salah satunya memanfaatkan jaringan internet dan bergabung dengan marketplace lokal NTB Mall. “Di masa pandemi harus semangat dalam keadaan susah dan mencari peluang bagaimana bersaing, tapi juga harus tetap saling support dan tidak saling mematikan,” ucap Wagub Ummi Rohmi.

Sementara itu, Bupati Lombok Timur, H. Sukiman Azmy, mengatakan, dalam kurun waktu 2,5 tahun terakhir, pembangunan Desa Pringgasela cukup progresif. Akses jalan dan fasilitas lain sudah sangat baik. Pembangunan showroom untuk pengrajin ini harapannya dapat seperti Sukarara dan Sade. Tak semua pengrajin memiliki artshop sehingga lapak desa ini dapat dimanfaatkan maksimal. Selain belum dimanfaatkannya bantuan alat tenun dari BI. “Bukan bermaksud mematikan artshop yang sudah ada tapi membina kelompok UKM yang  belum maksimal,” ujar Sukiman.

Kepala Desa (Kades) Pringgasela Mul’an menyambut baik peresmian lapak desa. Menurutnya keberadaan lapak desa ini mampu menggairahkan kembali usaha masyarakat desa. “Di desa kami terdapat 800 pengrajin tenun mandiri,” kata Kades yang baru menjabat 2 tahun ini.

Mul’an berharap, keberadaan lapak diharapkan mampu menopang perekonomian masyarakat desa Pringgasela. Ia juga mengungkapkan bahwa kelompok-kelompok penenun di desanya juga telah dikoordinasi dan tergabung di bawah binaan BUMDes. Harapannya, dengan upaya ini maka berbagai produk lokal lainnya, seperti produk hasil pertanian maupun peternakan juga berpeluang terserap pasar dengan baik. “Kita kumpulkan dalam satu lapak supaya mudah di koordinasi, ketika ada tamu atau pembeli yang berkunjung ke Pringgesela, mudah menemukan hasil UMKM masyarakat,” tuturnya.

Lapak Desa Pringgasela ini merupakan salah satu dari 14 (empat belas) Lapak Desa yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Perdagangan Provinsi NTB. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk stimulus ekonomi bagi masyarakat terdampak pandemi Covid-19 untuk sektor perdagangan sekaligus menunjang program Desa Wisata. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *