SUMBAWA BESAR, samawarea.com (15/7/2020)
Upaya Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sumbawa untuk membersihkan lingkungannya dari narkoba patut diapresiasi. Meski dulu sempat kebobolan ada warga binaan yang positif narkoba, namun dengan penerapan SOP yang ketat, kini Lapas Sumbawa telah bebas dari narkoba. Tidak ada lagi warga binaan yang positif narkoba, mengingat tes urine intensif dilaksanakan secara mendadak.
Kepala Lapas Sumbawa, M. Fadli S.Sos., MM didampingi Kasubag TU, Hamdia dan KPLP M. Syaripuddin Hazri dalam keterangan persnya di acara Media Gathering, Rabu (15/7), mengakui sebelumnya Lapas Sumbawa tidak 100 persen steril dari narkoba. Ada saja warga binaan yang positif narkoba setiap dilaksanakan tes urine. Namun itu dulu, karena sekarang lingkungan Lapas Sumbawa steril dari narkoba. Keberhasilan ini ungkap Fadli—akrab Kalapas low profil ini, karena iktiar tak lelah dari jajaran Lapas untuk berjuang dan berperang melawan narkoba. Warga binaan yang kedapatan positif dan diduga terlibat, diberikan sanksi tegas agar menjadi contoh dan pelajaran bagi yang lainnya. Inilah yang dilakukannya saat menjabat sebagai Kalapas Sumbawa yang baru berjalan sekitar 2 bulan. Hasil evaluasi dengan cara tes urine secara acak kepada 100 orang warga binaan, ternyata semua negatif. Ini juga telah dibuktikan oleh Tim dari kantor wilayah yang melakukan sidak sekaligus tes urine, hasilnya sama yaitu negatif. Dengan kolaborasi semua pihak di internal Lapas Sumbawa melalui penerapan SOP yang ketat, dapat dikatakan sudah tidak ada lagi narkoba di lingkungannya. “Ketika aturan ditegakkan dan SOP dijalankan dengan baik, saya yakin tidak akan datang narkoba,” tukasnya.
Selama ini, masuknya narkoba karena ada kelalaian dari petugas dalam menerapkan SOP. Dengan kelalaian ini, narkoba akan mudah masuk ke Lapas. Ketika SOP diperketat, dengan menerapkan prosedur pemeriksaan badan dan barang pengunjung, serta larangan menggunakan HP, tidak ada celah bagi warga binaan untuk mendapatkan suplay narkoba. Bahkan tidak ada kesempatan bagi bandar narkoba yang menjadi warga binaan untuk mengendalikan peredaran narkoba dari dalam Lapas. Sebab HP menjadi kunci bagi warga binaan berhubungan dengan pihak luar baik untuk kebutuhan narkoba di dalam Lapas maupun mengendalikan peredaran narkoba di luar dari dalam Lapas. Tak hanya itu jajaran Lapas menggiatkan pembinaan bagi warga binaan mulai dari pembinaan spiritual, pembinaan kemandirian, serta refreshing. “Kita perkuat keyakinan keagamaan mereka dan kegiatan lain yang menyehatkan jiwa dan raganya agar mereka tidak stress. Sehingga lambat laun kebutuhan warga binaan terhadap hal-hal yang negatif dapat dicegah,” pungkasnya. (JEN/SR)






