SUMBAWA BARAT, samawarea.com (18/6/2020)
Wabah Corona Virus Desease 2019 atau Covid-19, membuat sejumlah petani rumput laut di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat (NTB) menjerit. Pasalnya harga komoditi tersebut anjlok hingga mencapai 50 persen dari normal. Ini diakui Sudarmi (52) warga Desa Kertasari Kecamatan Taliwang kepada samawarea.com, Kamis (18/6/2020). Merebaknya pandemic Covid menyebabkan tak ada lagi pembeli yang datang dari luar, sehingga harganya turun drastic. Sedangkan pembeli lokal ungkap Sudarmi, sering berpatokan dengan pembeli dari luar. Jika harga pembeli dari luar naik maka pembeli lokal juga ikut naik. Sekarang tak jalan lain kecuali menjual kepada pembeli lokal yang harganya turun sampai 50 persen. “Biasanya harga rumput laut di tingkat petani berkisar Rp 22 ribu hingga 23 ribu per kilogram (kg), namun setelah tidak adanya pembeli dari luar, harganya hanya bisa dibeli pedagang setempat antara Rp 13.500 hingga Rp 15 ribu per kg,” keluhnya.
Menurut Sudarmi, anjloknya harga rumput laut saat ini membuat para petani resah. Ketika kondisi ini berlangsung lama, otomatis sangat mempengaruhi keberlangsungan kehidupan karena mereka hanya bersandar kehidupan dari hasil rumput laut yang hanya bisa panen sekali dalam 3-4 bulan tersebut. Untuk mencukupi kebutuhan sampai masa panen, seringkali mereka terpaksa harus berhutang guna memenuhi kebutuhan sehari hari. “Masyarakat di sini juga rata rata menyekolahkan anaknya dari hasil rumput laut. Jadi untuk kebutuhan sekolah anaknya tidak sedikit harus berhutang juga, karena biaya kuliah tidak terpengaruh oleh Corona, besaran biayanya sama seperti hari normal,” tukasnya.
Karenanya ia sangat berharap kondisi cepat normal agar harga jual rumput laut membaik. Jika kondisi ini belum normal, dia beharap pemerintah memiliki kebijakan tentang besaran biaya pendidikan terutama biaya kuliah untuk bisa diturunkan.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Budidaya Dinas Kelautan Sumbawa Barat, Parham SP.i mengakui harga rumput laut turun akibat Virus Corona yang melumpuhkan semua sektor perekonomian. Selama ini pangsa pasar rumput laut KSB adalah luar negeri. Karena sebagian besar hasil rumput laut dikirim ke luar negeri. Selama pandemic ini, pengiriman keluar negeri dihentikan sementara, sedangkan tempat penampungan di perusahaan rumput laut di Surabaya sudah full karena tersendatnya eksport.
Meski harga rumput laut turun, Parham mengakui tetap ada pembelinya. Pastinya dengan dijual dengan harga rendah. Ketika pengusaha lokal masih siap menampung hasil panen petani, Parham berharap petani bisa bersabar karena pemerintah terus memeras otak untuk menormalkan keadaan ini. Parham juga menyebutkan luas tanam rumput laut KSB tahun ini meningkat sampai 5 persen lebih. Sehingga total persentasi lahan yang berpotensi untuk ditanam mencapai 40 persen lebih. Ini menunjukan bahwa sektor rumput laut sudah dianggap menjadi sektor menjanjikan guna peningkatan ekonomi masyarakat. (HEN/SR)






