Libatkan 200 Relawan, Lab Genetik STP Lakukan Swab Massal, Ini Lokasinya

oleh -392 Dilihat
simulasi pengambilan swab

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (15/5/2020)

Laboratorium Genetik Sumbawa Techno Park (STP) akan melakukan pengambilan sampel swab massal, Sabtu (15/5/2020) besok pagi pukul 07.00 Wita. Pengambilan sekaligus pemeriksaan sampel massal ini melibatkan sekitar 200 relawan penelitian. Ada dua lokasi yang digunakan untuk pengambil sampel ini. Yaitu di Kantor Bupati Sumbawa dan Taman Mangga.

Direktur STP, dr. Arief Budi Witarto yang dihubungi samawarea, Jumat (15/5) siang, mengakui akan melakukan swab untuk penelitian pool test kepada 200 relawan. Dalam pengambilan sampel swab ini, dilakukan dengan dua cara, yakni drive through di dalam Kantor Bupati Sumbawa. Modelnya, orang tetap berada di dalam mobil untuk menjaga physical distancing. Sedangkan yang tidak memiliki mobil menggunakan bilik swab di Taman Mangga. “Karena ini sifatnya sukarela tidak bisa diarahkan. Memang lokasinya berdekatan, tapi dengan teknik GIS (Geographical Information System) seperti ini bisa dipetakan lokasinya untuk prediksi lanjutan,” kata Peneliti Muda Terbaik Indonesia 2002 bidang Ilmu Pengetahuan Tehnik dan Rekayasa ini.

Para relawan ini ungkap Doktor Arief, bersedia antri dan datang pada waktunya seperti diumumkan melalui grup WA peserta. Artinya tidak ada peserta dadakan, semua sudah mendaftar. Antrian ini untuk mencegah kerumunan di tengah pandemic Covid.

Lebih jauh dijelaskan mantan Rektor UTS ini, bahwa tujuan penelitian tersebut untuk memastikan 2 metode swab bisa dilakukan yaitu drive through (peserta tetap di dalam mobil), dan bilik swab. Termasuk menghitung waktu yang diperlukan untuk ke depan bila dilakukan dengan skala missal. “Jadi kita bisa memperkirakan waktunya lebih tepat, di samping mengukur kemampuan petugas swab (swab outdoor dan swab dalam bilik), sehari maksimal mampu berapa orang di-swab,” jelas jebolan Tokyo University of Agriculture and Technology di Tokyo-Jepang.

Penelitian ini juga, sambungnya, untuk memastikan secara teknis lab, bahwa sampel pool test dapat diperiksa (ekstraksi RNA, real-time PCR). Kemudian penggunaan data GIS (Geographical Information System) untuk secara visual memetakan klaster yang bisa dianggap “bersih” dari virus. “Intinya pool test ini untuk memastikan daerah yang negatif sehingga masyarakat di situ bisa lebih bebas beraktivitas. Dan awalnya kami menagetkan 300 orang relawan, tapi sampai batas akhir hanya 200-an orang,” pungkasnya. (JEN/SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *