Home / HukumKriminal / Bertambah Jumlah Murid SD Jadi Korban Pencabulan Oknum PNS

Bertambah Jumlah Murid SD Jadi Korban Pencabulan Oknum PNS

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (29/5/2020)

Ternyata TF (28)—oknum PNS di puskesmas, tidak hanya mencabuli 6 orang murid SD. Hasil pengembangan penyidikan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reserse dan Kriminal Polres Sumbawa, korbannya mencapai 11 orang. Hal ini berdasarkan hasil pengembangan penyidikan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reserse dan Kriminal Polres Sumbawa. “Korbannya ada 11 orang, ini menurut pengakuan tersangka. Saat ini kita masih dalami pemeriksaan apakah ada korban lainnya lagi,” kata Kapolres Sumbawa, AKBP Widy Saputra SIK didampingi Kasat Reskrim, IPTU Akmal Novian Reza SIK dalam keterangan persnya, Jumat (29/5/2020).

Semua korban ini ungkap Kapolres, berasal dari sekolah yang sama. Hanya terbagi dalam dua kelompok. Yaitu sebagian kelompok ilmiah siswa yang dibina tersangka, dan sebagian lagi kelompok bimbingan belajar untuk menghadapi ujian yang juga dalam binaan tersangka. Peluang inilah yang dimanfaatkan tersangka untuk menjalankan aksinya. “Kejadiannya pada Tahun 2018 lalu dan berlanjut Februari 2020 kemarin,” sebut Kapolres.

Baca Juga: Modus Ngajar Les Oknum PNS Diduga Garap Sejumlah Murid SD

Sejauh ini penyidik sudah melakukan pemeriksaan 14 orang saksi termasuk saksi korban. Para korban juga sudah divisum yang nantinya akan dijadikan alat bukti pendukung saat proses persidangan. Dalam penanganan kasus ini jelas Kapolres, pihaknya melibatkan psikolog dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA). LPA memberikan pendampingan kepada korban selama menjalani proses di kepolisian hingga persidangan nanti. Sedangkan psikolog akan melakukan trauma healing guna memulihkan kondisi psikis korban. Dari pemeriksaan psikolog, kondisi mental korban cukup stabil dan tidak ada tanda-tanda mengkhawatirkan. Selanjutnya Psikolog yang didatangkan dari Polda NTB ini juga melakukan pemeriksaan jiwa dan prilaku tersangka. Hasil pemeriksaannya sudah dibawa ke Polda NTB untuk didalami lebih jauh. “Yang jelas saat ini tersangka sudah kami tahan guna proses hukum lebih lanjut,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, tersangka menjalankan aksinya dengan modus mengadakan kegiatan bimbingan belajar atau les malam yang diikuti para korban. Les itu diadakan di rumah dinas yang menjadi tempat tinggal tersangka. Saat ada kesempatan tersangka memaksa korban untuk berhubungan badan. Karena diancam korban tidak berani menceritakannya kepada orang tuanya. Terungkapnya kasus ini, setelah salah seorang korban memberanikan diri menceritakan perbuatan tersangka kepada bibinya yang tinggal di luar daerah melalui WhatsApp. Oleh bibinya ini disampaikan kepada orang tua korban. Setelah didesak orang tuanya, akhirnya korban berterus terang. Ternyata bukan hanya satu orang yang mengaku mengalaminya, beberapa teman korban juga bernasib sama. Untuk menghindari adanya aksi massa, tersangka dan keluarganya diamankan dan dievakuasi pihak kepolisian. Selain itu Kapolres yang langsung turun berupaya mengendalikan situasi dengan melakukan pendekatan dan menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondusifitas. Selain itu menyerahkan persoalan itu kepada aparat kepolisian untuk diproses secara hukum. Untuk diketahui, tersangka adalah ASN di sebuah puskesmas. Tersangka pertamakali melakukan aksinya pada tahun 2018 saat masih mengabdi sebagai guru di salah satu sekolah dasar. Dan perbuatan itu kembali terulang Februari 2020 saat tersangka sudah berstatus sebagai ASN di salah satu Puskesmas. (JEN/SR)

Lihat Juga

Terekam CCTV, Pelaku Pengrusakan Depot Air Minum Diringkus Tim Puma

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (1/7/2020) Aksi penyerangan dan pengrusakan di Depot Air Minum Isi Ulang “Aquaris” ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *