Pariwisata, Cara Singkat Pulihkan Ekonomi NTB Pasca Gempa

oleh -402 Dilihat

MATARAM, SR (23/10/2019)

Dr. H. Zulkieflimansyah, SE., M.Sc—Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah M.Pd, resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, 19 September 2018 lalu. Awal pemerintahan dua doktor ini terasa begitu berat. Perekonomian NTB terpuruk dampak dari gempa bumi beruntun yang mengguncang Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa kala itu. Bencana dahsyat ini tidak hanya merusak sendi kehidupan, tetapi juga menghantam sektor pariwisata yang menjadi andalan NTB. Kunjungan wisatawan langsung menurun drastis, investor lokal serta asing merasa takut untuk menanamkan modalnya. Untuk memulihkan kondisi tersebut, Gubernur dan Wakil Gubernur bergerak cepat melakukan pembenahan di berbagai sektor dan meyakinkan para investor bahwa NTB sudah aman untuk berinvestasi. Apalagi Presiden Joko Widodo usai melantik keduanya di Istana Negara memberikan tugas khusus agar segera menyelesaikan proses perbaikan dan merekonstruksi semua kerusakan agar kembali pulih akibat gempa. Kini, lebih setahun gempa dahsyat itu berlalu, perlahan namun pasti NTB sudah berbenah. Beberapa investor mulai menjajaki bisnis. Sektor pariwisata kembali bangkit dan bergeliat, seiring dengan perekonomian masyarakat terus bertumbuh. Hal ini sangat terasa ketika pemerintahan berjargon “NTB Gemilang” tersebut sudah berjalan lebih dari setahun dengan masa jabatan 2018—2023. Dalam menjalankan pemerintahan, dua doktor ini memiliki visi RPJMD membangun NTB gemilang. Visi tersebut tertuang dalam enam misi pembangunan. Adapun enam misi tersebut yakni, pertama, NTB Tangguh dan Mantap, melalui penguatan mitigasi bencana dan pengembangan infrastruktur dan konektivitas wilayah. Kedua, NTB Bersih dan Melayani yang akan diwujudkan melalui transformasi birokrasi yang berintegritas, berkinerja tinggi, bersih dari KKN dan berdedikasi. Ketiga, NTB Cerdas dan Sehat, melalui penguatan kualitas sumber daya daerah sebagai pondasi daya saing daerah. Keempat, NTB Asri dan Lestari, melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Kelima, NTB Sejahtera dan Mandiri, melalui penanggulangan kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan pertumbuhan ekonomi inklusif bertumpu pada pertanian, pariwisata, dan industrialisasi. Keenam, NTB Aman dan Berkah, melalui perwujudan masyarakat madani yang beriman, berkarakter, dan penegakan hukum yang berkeadilan. Untuk mewujudkan misi NTB Gemilang, Pemprov NTB memiliki 6 program strategis. Yaitu pengembangan pariwisata andalan dan strategi NTB. Industrialisasi. Pengembangan daya saing SDM. NTB ramah investasi. Pengembangan konektivitas dan aksesibilitas wilayah NTB. Dan NTB bersih dan berkelanjutan.

Salah satu focus saat ini yang gencar-gencarnya dilakukan Pemprov NTB, adalah sektor pariwisata. Sektor ini memiliki peran strategis dalam meningkatkan pendapatan, membuka lapangan kerja, menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkesinambungan, seimbang dan inklusif. Program strategis pengembangan pariwisata andalan NTB ini disertai dengan pengembangan pariwisata pulau-pulau kecil (Gili) dan sekitarnya, pengembangan Kawasan KEK Mandalika dan menggelar event MotoGP. Selain itu pengembangan Samota (Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Gunung Tambora) dan Rinjani sebagai Global Geopark yang telah ditetapkan oleh UNESCO di Paris, pengembangan Tambora sebagai Geopark Nasional, pengembangan wisata halal kelas dunia, dan penanggulangan kemiskinan dengan pendekatan Community Based Tourism (99 Desa Wisata). Program strategis pengembangan pariwisata ini didukung Peraturan Daerah (Perda) NTB No. 7 Tahun 2013 tentang Rencana Induk Pariwisata Daerah (RIPARDA) Tahun 2013-2028. Perda ini mengatur Aspek Pembangunan Kepariwisataan Daerah meliputi destinasi pariwisata, pemasaran pariwisata, industri pariwisata, dan organisasi kepariwisataan.

Pengembangan Pariwisata Pulau-Pulau Kecil (Gili)

Untuk pengembangan pariwisata pulau-pulau kecil (Gili) dan sekitarnya, di bagi dalam 7 kawasan. Pertama, Kawasan Tiga Gili yakni Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Salah satu yang membuat pariwisata di Pulau Lombok semakin terkenal oleh para wisatawan baik domestic dan mancanegara adalah tiga gili tersebut. Seperti Gili Trawangan. Yang menjadi daya tarik, wisatawan dimanjakan tidak hanya keindahan dan kenyamanan menginap di gili tersebut, tapi juga disediakan paket wisata 3 hari 2 malam. Dengan paket ini para wisatawan dapat mengunjungi berbagai objek wisata Lombok yang paling favorite, di antaranya melihat keindahan Tanjung Aan dan Kuta Lombok—dua pantai paling populer di Lombok, mengunjungi langsung desa adat Lombok, Desa Sade dan Desa Banyumulek. Di desa dengan suku Sasak asli Lombok ini terkenal dengan rumah adatnya yang masih tradisional, serta kental akan budaya dan adat istiadatnya. Wisatawan juga dapat melihat sekaligus belajar membuat berbagai macam kerajinan gerabah yang unik. Gili Meno letaknya berdekatan dengan Gili Trawangan. Meski demikian gili ini memiliki karakteristik yang berbeda. Perairan Gili Meno memiliki keunikan karena adanya titik Gili Meno Wall. Di gili ini dapat ditemukan penyu-penyu berenang di pagi hingga sore hari. Tidak heran jika Gili Meno dijuluki syurga tersembunyi nan romantis. Demikian dengan Gili Air, wisatawan dapat menyaksikan kura-kura, spot kuda laut, dan berbagai macam ikan yang beraneka macam warna. Sangat cocok bagi mereka yang memiliki hobby snorkeling karena spot diving yang begitu menakjubkan.

Kedua, Kawasan Gili Sulat meliputi Gili Sulat, Gili Petagan, Gili Lawang, Gili Kondo, Gili Lebur, Gili Bidara. Sejumlah gili ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).  Gili tersebut mempunyai potensi wisata alam berupa pantai pasir putih, ekosistem terumbu karang dan mangrove. Sedangkan atraksi wisata dapat berupa renang, snorkling, selam, berjemur (sun bathing), dayung (boating), perahu layar (sailling) dan camping.

Ketiga, Kawasan Teluk Ekas (Gili Sunut, Gili Petelu, Gili Maringkik, Gili Ree, Gili Bembek, Gili Belek).  Pantai di Teluk Ekas memiliki perairan yang tenang, dengan ombak yang lembut serta air laut yang jernih. Sehingga pantai ini sangat tepat untuk aktivitas snorkling, berenang dan memancing. Paling menarik dari Teluk Ekas adalah aktivitas para nelayan. Ada sekitar 50 pondok apung dengan sampan yang bersandar di sampingnya. Pondok apung tersebut dibuat oleh para nelayan untuk menangkarkan Ikan Kerapu dan udang.

Keempat, Kawasan Lembar yang merupakan kawasan Gita Nasa. Kawasan ini terdapat sejumlah gili yaitu Gili Tangkong, Gili Nanggu, Gili Sudak, Gili Kedis, Gili Asahan, Gili Rengit, dan Gili Lontar. Kawasan ini ditetapkan sebagai ekowisata mangrove. Awalnya hanya berupa hutan mangrove yang rimbun kemudian disulap menjadi destinasi wisata mengingat potensi wisata yang menjanjikan. Kini di kawasan itu telah dibangun fasilitas-fasilitas pendukung, membuat wisatawan tertarik untuk berkunjung, menjadi lokasi selfie serta menyaksikan pesona senja saat matahari mulai terbenam.

Kelima, Kawasan Alas Utan Pototano terkenal dengan Gili Balu (Kenawa, Paserang, Namo, Belang, Mandiki, Kambing, Kalong, Ular), Pulau Panjang, Kaung, Bedil, Keramat, dan Temudung. Untuk Pulau Kramat banyak dilirik sejumlah perusahaan asing untuk berinvestasi di bidang pariwisata. Ketertarikan ini karena Pulau Kramat masuk gugusan pulau bersama Bedil dan Temudong yang membentuk formasi segitiga atau disebut Kawasan KBT (Kramat, Bedil dan Temudong). Tidak heran jika berdiri di Pulau Kramat, rombongan dapat melihat dengan jelas Pulau Bedil dan Pulau Temudong. Jarak terdekat antara Pulau Kramat dengan Pulau Bedil hanya 0,7 mil laut, sama seperti Pulau Kramat dan Pulau Temudong atau Pulau Bedil dengan Temudong. Ketiga pulau ini dilingkupi Laut Flores di sebelah utara, Selat Alas di timur dan selatan, serta Selat Temudong (Pulau Seringgit dan Selat Alas) di sebelah barat. Untuk mencapai Pulau Bedil dari daratan, paling dekat dari Dusun Labuan Padi, Desa Pukat, Kecamatan Utan yang hanya berjarak 1,3 mil laut. Sedangkan akses terdekat menuju Pulau Kramat adalah Dusun Karang Anyar, Desa Pukat sekitar 1,5 mil laut.

 

Keenam, Teluk Saleh-Moyo-Tambora (SAMOTA). Di kawasan ini terdapat 48 Pulau. Untuk pengembangannya, Pemda Sumbawa bersama tim koordinasi propinsi mendorong percepatan pembangunan kawasan tersebut. Ketujuh, Kawasan Waworada Sape, meliputi Gili Banta, Pulau Kelapa, dan Pulau Sangiang. Yang menarik lagi, baru-baru ini dikembangkan kawasan terpadu SAKOSA (Sape—Komodo—Sangiang). Ada empat upaya pengembangan kawasan ini. Adalah pariwisata, terdiri dari pengembangan pariwisata, pengembangan destinasi pariwisata, pengembangan pemasaran, dan pengembangan kelembanggan pariwisata. Kemudian konektivitas dan energy. Untuk udara, pengembangan Bandara Salahuddin Bima dengan rute baru, Bima—Labuhan Bajo. Darat, pengembangan rute penyeberangan Sape—Labuhan Bajo dan pengembangan jalan lingkar utara Pulau Sumbawa. Laut, pengembangan rute langsung Gilimas Lembar—Komodo melalui jalur wisata terkoneksi dan pengembangan rute Sumbawa—Moyo—Tambora—Hu’u—Kilo—Sape, dalam rangka linkage wisatawan. Selanjutnya, pengembangan kelistrikan Pulau Sumbawa, termasuk di dalamnya rencana pembangunan PLTU II Sumbawa (2×50 MW) di perbatasan Empang—Plampang. Namun sayang, karena sengketa lahan di lokasi rencana pembangunan PLTU, menyebabkan PLTU itu gagal dibangun tahun ini.

Masih di kawasan terpadu SAKOSA, diplot lokasi komoditas. Di lokasi ini dilakukan pengembangan perikanan tangkap, pengembangan perikanan budidaya, pengembangan komoditi agro seperti kopi, bawang, jagung, gula dan tambang. Untuk memperkuat hal ini termasuk pariwisatanya, pemerintah melakukan pengembangan manajemen. Yaitu melakukan pengembangan dengan NTT dan swasta. Kemudian pengembangan branding kawasan, investasi dan SDM. Melakukan adopsi dalam dokumen perencanaan spasial dan non spasial. Pengembangan Desa Wisata, serta penyiapan masterplan, DED dan Feasibility Study Kawasan. Pengembangan desa wisata merupakan sebuah konsep mengembangkan potensi alam, budaya dan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat, yang didukung dan dijalankan oleh masyarakat sehingga sedikit demi sedikit akan tercipta suatu kreatifitas agar ke depannya mengembangkan pariwisata sudah mendarah daging dalam masyarakat. Manfaat keberadaan Desa Wisata ini di antaranya menjadi sumber ekonomi atau pendapatan masyarakat desa, menyediakan lapangan kerja, meningkatkan perhatian masyarakat kepada sumber alam dan memperbaiki lingkungan. Selain itu meningkatkan ketrampilan SDM warga desa. Contoh Desa Wisata yang cukup berhasil adalah Desa Sade, Desa Setanggor, Desa Tete Batu, Pasar Pancingan, dan Desa Kerujuk.

Mandalika dan MotoGP

Untuk mendukung pengembangan dan pelaksanaan event dunia tersebut, Presiden Jokowi telah menetapkannya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata. Pemprov pun menyiapkan 26 ribu kamar hotel, lima pantai utama dengan garis pantai mencapai 16 kilometer (km) yang dilengkapi marina atau dermaga untuk kapal pesiar mewah. Sementara dukungan infrastruktur, dilakukan pembangunan jalan bypass BIL–KEK Mandalika (17,8 Km), peningkatan dan pengembangan jaringan jalan nasional yang menghubungkan BIL – Kuta (15,5 Km), peningkatan dan pengembangan jaringan jalan yang menghubungkan pelabuhan Gili Mas–KEK Mandalika. Serta peningkatan dan pengembangan jaringan jalan provinsi yang menghubungkan Bilelando–Awang–Kuta–Selong Belanak-Montong Ajan (55 Km) dan Montong Ajan–Penunjak (31 Km). Selain itu perpanjangan Runway Bandara Internasional Lombok (BIL) menjadi 3.300 meter, pembangunan SPAM Regional Pulau Lombok, penataan lingkungan sekitar kawasan, dan pembangunan Rumah Sakit Internasional. Di bidang energi, adanya peningkatan dan pengembangan Gardu Induk Kuta (30 MW), peningkatan dan pengembangan Gardu Induk Sengkol (20 MW), serta dan pengembangan Gardu Induk Sengkol (20 MW). Kemudian menyiapkan sistem telekomunikasi, dengan dibangunnya jaringan serat optik/STO dan SST (4662 SST), dan pengembangan jaringan nirkabel melalui pengembangan menara telekomunikasi. Tidak infrastruktur dan sarana prasarana lainnya, Pemprov juga menyiapkan sumberdaya manusia (SDM). Di antaranya pembangunan Politeknik Pariwisata, penguatan Balai Latihan Kerja (BLK) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Wakil Gubernur NTB Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalillah ketika memaparkan potensi pariwisata NTB di hadapan ratusan peserta Rakornas Pariwisata III tahun 2019 Rabu, di Ballroom Swiss Hotel PIK Avenue Jakarta, 11 September 2019, menjelaskan, Mandalika ditetapkan sebagai salah satu destinasi super prioritas nasional saat ini terus bergerak menyelesaikan dan melengkapi berbagai infrastruktur serta fasilitas penunjang lainnya. Mandalika akan menjadi lokasi balap motor paling bergengsi di dunia, MotoGP pada tahun 2021. Sirkuit Mandalika memiliki panjang lintasan 4,32 Km dengan 93,2 ribu kursi serta area terbuka untuk 138,7 ribu penonton.

Pengembangan Rinjani UNESCO Global Geopark

Geopark Rinjani sukses sebagai tuan rumah Simposium Asia Pacific Geopark Network (APGN) 2019—event berskala dunia yang digelar di Lombok, NTB, 31 Agustus—6 September 2019 lalu. Simposium ini selain mengenalkan dan membahas geopark di Kawasan Asia Pasifik juga mengusung tema besar soal lingkungan, mengajak masyarakat lokal di setiap geopark agar perduli dan paham bagaimana mengurangi resiko bencana geologi. Tidak hanya bagi keberlangsungan situs warisan geologi namun secara umum untuk kesejahteraan masyarakat. Secara umum kepentingan pemerintah provinsi terkait gelaran APGN 2019 keenam ini adalah bagaimana membangkitkan kepercayaan dunia khususnya pariwisata pasca bencana gempa pada tahun lalu.

Gunung Rinjani memiliki warisan geologi secara vulkanologi, di samping sumber air Pulau Lombok. Potensi yang dimiliki Rinjani ini menjadi magnet bagi para wisatawan. Karena itu kunjungan wisatawan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kenyataan ini menumbuhkan partisipasi generasi muda dan masyarakat untuk lebih menjaga sekaligus mengambil manfaat dari keberadaan Geopark Rinjani. Rinjani ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark saat sidang Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) sejak 12 April 2018. Rekomendasi sebagai global geopark tersebut tidak lepas dari peran Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) NTB dalam mendorong Kawasan Rinjani sebagai geopark nasional pada 2018. Pada tahun yang sama juga ditetapkan sebagai zona inti dari  area Cagar Biosfer Lombok. Geopark Rinjani termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) NTB. Kompleks hutan Gunung Rinjani memiliki luas 125.000 hektare yang terdiri atas beberapa fungsi hutan. Di mana 41.330 hektare atau 32,86 persen merupakan hutan konservasi yang dikelola Balai TNGR. Gunung Rinjani juga menjadi satu-satunya sumber air untuk 54 sungai atau sekitar 90 persen sungai di Lombok berhulu di Gunung Rinjani. Banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari keberadaan Gunung Rinjani sebagai destinasi wisata. Tercatat terdapat 90 pemegang ijin track organizer (TO), baik badan usaha maupun perorangan, 449 pemandu wisata, dan 1.157 porter. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Sudiyono menyebutkan, minimal terdapat 1.696 sumber daya manusia (SDM) yang terlibat secara langsung dalam objek destinasi wisata Gunung Rinjani. Bentuk intervensi konservasi yang dilakukan BTNGR dalam Model Desa Konservasi yaitu dengan memberikan sejumlah bantuan kepada kelompok masyarakat, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui gerakan pemberdayaan, sehingga dapat mengurangi konflik dan tindakan pelanggaran kehutanan di kawasan taman nasional tersebut.

Pengembangan Tambora Geopark Nasional

Letusan dahsyat Gunung Tambora terjadi pada tahun 1815 dengan skala 7 VEI (Volcanic Explosivity Index). Dentumannya terdengar hingga Batavia, Makasar, Ternate dan Bangka yang berjarak 2600 kilometer dari Gunung Tambora. Gunung yang terletak di wilayah Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima ini memiliki bentang alam kawasan meliputi kaldera Gunung Tambora yang terletak di pusatnya dan Pulau Satonda sebagai wilayah terluarnya di bagian barat laut. Pada tahun 2017 Gunung Tambora telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional. Tambora mempunyai integrasi hubungan yang kuat antara geologi (Geodiversity), biologi (Biodiversity) dan budaya (Cultural Diversity). Masyarakat merasakan manfaat dari geopark Tambora melalui kegiatan pariwisata. Terlebih lagi kawasan SAMOTA yang di dalamnya Tambora telah resmi menjadi cagar biosfer dunia dalam The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Prancis pada Juni 2019 lalu. Hadir dalam kesempatan itu Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj.Sitti Rohmi Djalilah. Dikatakan Wagub Rohmi dengan ditetapkannya Rinjani dan Tambora sebagai cagar biosfer maka Pemerintah Provinsi dan masyarakat NTB telah siap mengalokasikan 30 persen dari kawasan NTB untuk menjadi area konservasi (kawasan hijau), termasuk Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali dan area konservasi lainnya di bawah program pengelolaan terpadu. Pastinya ini yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya, bisa menggerakkan aktivitas jasa ekosistem, kegiatan produksi dan kelestarian budaya. Selain itu, memiliki manfaat sebagai kawasan konservasi yang akan mendukung kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem. Juga pengembangan ekonomi berkelanjutan, mempertahankan nilai sosial budaya dan citra pemerintah. Dan bagi sektor swasta, akan memberikan nilai tambah berupa penyediaan komoditas.

Pengembangan Wisata Halal Kelas Dunia

Dalam mendukung pengembangan wisata halal, Pemprov menerbitkan Perda No. 2 Tahun 2016 tentang pariwisata halal dengan ruang lingkup pengaturan meliputi destinasi, pemasaran dan promosi, industri, kelembagaan, pembinaan, pengawasan dan pembiayaan. Pengelola destinasi pariwisata halal ini harus membangun fasilitas umum untuk mendukung kenyamanan aktivitas kepariwisataan halal, seperti tempat dan perlengkapan ibadah wisatawan Muslim, serta fasilitas bersuci yang memenuhi standar syariah.

Dengan konsep wisata halal, menempatkan NTB berhasil mendapat penghargaan kontes wisata halal dunia, pada Tahun 2015 dan 2016. Desa Sembalun terpilih sebagai destinasi bulan madu halal terbaik (World’s Best Halal Honeymoon Destination) dan Novotel Lombok Resort & Villas sebagai resort halal tepi pantai terbaik (World’s Best Halal Beach Resort) . Tahun 2019, Lombok, NTB kembali terpilih sebagai destinasi wisata halal terbaik di Indonesia mengungguli 10 destinasi lain di Tanah Air. Terlebih lagi dengan telah diterbitkan Perda No. 2 Tahun 2016 tentang Pariwisata Halal, memiliki ruang lingkup pengaturan. Meliputi destinasi, pemasaran dan promosi, industri, kelembagaan, pembinaan, pengawasan dan pembiayaan. Pengelola destinasi pariwisata halal harus membangun fasilitas umum untuk mendukung kenyamanan aktivitas kepariwisataan halal, seperti tempat dan perlengkapan ibadah wisatawan muslim, serta fasilitas bersuci yang memenuhi standar syariah.

Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya saat menghadiri The International Halal Tourism Conference, di Hotel Golden Palace, Kota Mataram, Kamis, 10 Oktober lalu, mengatakan sebelum ditetapkan sebagai destinasi wisata halal, pembangunan wisata di NTB berjalan lamban. Termasuk, jumlah wisatawannya juga masih sekitar satu juta orang. Namun, setelah memenangkan penghargaan sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia dan Destinasi Honeymoon terbaik dunia, pariwisata NTB mengalami peningkatan yang signifikan. NTB mengalami lompatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke NTB dari hanya tumbuh dua persen, ketika mendapat the world best halal award, melompat tajam, 32 persen. Demikian dengan domestic touristnya juga meningkat 47 persen. Menpar pun memuji bahwa NTB memang jago dalam hal wisata halal.

Sementara Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengungkapkan komitmennya untuk terus mengembangkan wisata halal di NTB. Apalagi NTB memiliki eksotisme dan aura yang berbeda dibanding daerah lain di Indonesia, bahkan dunia, sebagaimana dirasakan turis dari Australia dan Korea. Saat ini wisata halal menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat dunia. Untuk terus memajukan wisata halal di NTB, Gubernur berupaya menjalin kerjasama dengan berbagai maskapai penerbangan membuka direct flight. Misalnya penerbangan langsung Lombok–Perth Australia memberikan kontribusi yang mengagumkan dalam mendongkrak pertumbuhan angka kunjungan wisatawan Australia ke NTB. Hal itu terlihat dari data yang dihimpun Imigrasi Bandara Internasional Lombok, kurun waktu Januari-September 2019. Data tersebut memperlihatkan, sepanjang Januari-September 2018, jumlah warga Australia yang datang ke NTB melalui Bandara Internasional Lombok hanya mencapai 2.633 orang. Sementara, data per Januari-September 2019, jumlahnya meningkat menjadi 13.814 orang. Naik 425 persen atau lebih dari empat kali lipat dibanding tahun lalu. Peningkatan serupa juga terjadi pada warga Jerman yang mengunjungi NTB melalui Bandara Internasional Lombok. Jumlahnya meningkat dari 4.877 orang per Januari-September 2018 menjadi 5.204 orang per Januari-September 2019. Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah meyakini, dibukanya penerbangan langsung Lombok–Perth menjadi salah satu faktor utama yang memicu pertumbuhan mengesankan ini. Peningkatan jumlah pengunjung dari Australia dan Jerman ini membuat kondisi pariwisata NTB kini nyaris menyamai kondisi NTB sebelum terkena imbas gempa bumi pada Agustus 2018 lalu. Dilihat dari data imigrasi, total pax keseluruhan per Januari-September 2019 mencapai 197.033 orang. Angka tersebut nyaris menyamai data per Januari-September 2018 yang mencapai 220.003 orang. Tidak hanya Lombok—Perth Australia, Pemprov juga sudah mengikhtiarkan penerbangan langsung Lombok-Jeddah, dan kini bekerjasama dengan Kedutaan Besar Indonesia untuk Brunei Darussalam akan menggagas penerbangan langsung dari NTB ke Brunei atau sebaliknya.

Intinya, membangun pariwisata tidak identik dengan promosi wisata maupun mendesain destinasi yang menyedot anggaran besar. Seluruh sektor harus bergerak. Enam program strategis yang dilaksanakan pemerintahan Zul—Rohmi ini saling terkait dan mendukung satu sama lain. Program zero waste dibuat untuk kepentingan mendukung pariwisata. Sebab yang dikeluhkan wisatawan adalah tentang sampah, karena lingkungan dan alam yang bersih membuat liburan mereka merasa nyaman. Penerbangan langsung untuk konektivitas menjadi bagian memajukan pariwisata. Suksesnya pembangunan infrastruktur MotoGP serta jalan Baypass BIL-Kuta juga merupakan pendukung pariwisata. Menurut Gubernur, konsep besar, membangun infrastruktur, konektiviti, program zero waste, dan revitalisasi posyandu, semuanya mendukung kemajuan pariwisata NTB. (*)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *