Dua Mahasiswa UTS Meninggal Dunia, Wisuda Diwakilkan Orang Tua

oleh -816 Dilihat
Sakia—ibu kandung almarhum Ade Apriansyah menerima ijazah putranya yang meninggal dunia jelang wisuda

SUMBAWA BESAR, SR (28/9/2019)

Wisuda adalah momen sukacita bagi mahasiswa dan orang tuanya. Karena momen itu sebagai bukti perjuangan dan pengorbanan mahasiswa tersebut dalam menyelesaikan proses pendidikan di bangku kuliah selama 4 tahun. Selain itu salah satu bagian sejarah yang menjadi kebanggaan orang tua karena telah memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya. Itulah yang dirasakan para mahasiswa dan orang tua pada Wisuda III Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Sabtu (28/9/2019). Bertempat di Ruang Publik Kreatif (RPK) yang dihadiri Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc ini, UTS mewisuda sebanyak 324 mahasiswa dari 6 Fakultas dan 14 Program Studi. Namun di tengah sukacita dan pekikan kebahagiaan itu, rasa sedih menyeruak. Sebagian besar tamu undangan termasuk mahasiswa yang diwisuda meneteskan air mata saat nama Ade Apriansyah dan Zainul Ikhsan—dua mahasiswa Fakultas Ekonomi dibacakan untuk menerima ijazah kelulusannya. Sakia—ibu kandung Ade Apriansyah maju ke depan. Dengan terisak-isak wanita setengah baya ini naik ke panggung kehormatan untuk menerima ijazah putranya yang diserahkan langsung Rektor UTS, Dr. Andi Tirta M.Sc serta menyalami Ketua Yayasan Dea Mas, Hj Niken Saptarini Widiawati. Hal yang sama juga dilakukan Muhammad Zain yang didampingi putrinya Ria Maulidiyanti menerima ijazah Zainul Ikhsan. Pria yang sudah berumur lebih dari setengah abad ini tak mampu menahan tangisnya. Ade Apriansyah dan Zainul Ikhsan adalah dua mahasiswa UTS yang meninggal dunia menjelang wisudanya. Keduanya meninggal karena sakit.

Muhammad Zain—ayah Zainul Ikhsan didampingi putrinya saat menerima ijazah almarhum pada acara Wisuda III UTS

Ditemui SAMAWAREA, Sakia menuturkan, putranya ini menghembuskan napas terakhir tepat Lebahan Idul Adha setelah jatuh sakit selama tiga bulan. Ade Apriansyah adalah putra satu-satunya hasil pernikahan dengan Musa Fendi—petani asal Desa Sebasang Unter Kecamatan Moyo Hulu. Ade merupakan harapan yang diyakini mampu memberikan peta jalan bagi masa depan keluarganya. Karena itu apapun kondisi ekonominya, Saskia dan suaminya menginginkan Ade menempuh pendidikan agar lebih baik dari mereka. Namun takdir berkata lain, Ade dipanggil Yang Maha Kuasa. “Ini sudah takdir Allah, Allah telah mengambil titipan-Nya. Tidak ada lagi anak kami, karena dia satu-satunya. Kami hanya berdoa semoga anak kami ini menjadi penghuni syurga,” ucapnya terisak.

Sementara Muhammad Zain—ayah Zainul Ikhsan juga mengaku putranya meninggal dunia menjelang wisuda akibat sakit yang diderita selama 3 bulan. Ia sebenarnya tak kuasa untuk hadir pada acara wisuda karena tak ingin dirundung kesedihan di tengah kebahagiaan mahasiswa dan orang tua lainnya. Tapi, karena wisuda adalah bukti perjuangan almarhum, Zain yang juga seorang petani asal Desa Tatede Kecamatan Lopok ini akhirnya berusaha hadir. “Meski anak kami sudah tiada, ijazah yang saya pegang ini bukti ikhtiar anak kami dalam menyelesaikan pendidikannya. Kami sebagai orang tua sudah melaksanakan salah satu kewajiban untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak. Kakaknya sudah sarjana dan telah bekerja sebagai guru SMP. Kami harap dia (almarhum) bisa lebih baik. Ternyata Allah lebih menyayanginya, dia dipanggil lebih awal dari kami,” ujarnya lirih.

Untuk diketahui almarhum adalah mahasiswa berprestasi. Almarhum Zainul pernah mewakili NTB untuk mengikuti OSN di Bandung, Jawa Barat dan berhasil meraih juara kedua. (JEN/SR)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *