SUMBAWA BESAR, samawarea.com (26 Juli 2026) – Sebanyak 20 pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMP Negeri 1 Lopok mengikuti kegiatan Sekolah Warga Muda Berdampak 2026 yang digelar Sabtu (25/7/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Malang dengan SMPN 1 Lopok, Kabupaten Sumbawa.
Kepala SMPN 1 Lopok, Anwar, S.Pd, menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi tantangan zaman.
“Kegiatan ini sangat kami apresiasi karena kami juga di sekolah berkomitmen menghadirkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Tema literasi kewargaan sangat penting agar siswa mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri sebagai pelajar maupun sebagai Tau Samawa,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 1 Lopok, Roswati, S.Kom. Ia menilai tema literasi kewargaan dan aksi sosial sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
“Banyak pelajar dalam beberapa tahun terakhir menjadi korban teknologi karena minim literasi. Karena itu, siswa perlu dibekali pemahaman literasi kewargaan yang tidak hanya memahami hak dan kewajiban, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis,” katanya.
Roswati menegaskan, SMPN 1 Lopok terus berupaya mencetak generasi muda Sumbawa yang kritis, peduli lingkungan, serta mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan sosial di sekitarnya.
Menurutnya, kerja sama dengan Tim Pengabdian FISIP Universitas Brawijaya menjadi salah satu ikhtiar agar siswa tidak hanya memahami teori kewargaan di ruang kelas, tetapi juga mampu menerapkannya melalui aksi nyata di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dibekali pembelajaran menggunakan pendekatan Project-Based Learning (PjBL). Melalui metode ini, para pengurus OSIS diajak mengidentifikasi berbagai persoalan di lingkungan sekolah, seperti pengelolaan sampah, pencegahan perundungan (bullying), hingga penghijauan lingkungan sekolah.
Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan berkomitmen untuk merealisasikan rancangan proyek sosial (social project) yang telah disusun. Hasil pelaksanaannya nanti akan dilaporkan kepada pihak sekolah sebagai bentuk tindak lanjut dari program tersebut.
Roswati berharap kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi seperti ini dapat terus berlanjut sebagai upaya memperkuat karakter dan literasi kewargaan peserta didik.
“Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan. Sinergi antara sekolah dan kampus dalam memperkuat literasi kewargaan siswa merupakan langkah nyata mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” harapnya. (SR)






