SUMBAWA BESAR, SR (3/8/2019)
Masih tingginya angka stunting di beberapa kecamatan di Kabupaten Sumbawa, mendorong pemerintah daerah memasifkan gerakan cegah stunting, termasuk melalui kegiatan sosialisasi di berbagai media massa. Difasilitasi oleh Sub Bagian Peliputan dan Dokumentasi Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Sumbawa, Pemerintah Kabupaten Sumbawa diwakili Dinas Kesehatan dan Bappeda menggelar talkshow interaktif bertajuk “Kolaborasi Bersama Turunkan Stunting” di Radio Rasesa FM Sumbawa, Kamis (1/8) lalu. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Sosial Budaya Bappeda, dan Kepala Seksi Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Drs. H. Didi Darsani, Apt dalam paparannya menjelaskan bahwa stunting adalah kondisi dimana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya tumbuh tidak optimal dibanding teman-teman seusianya yang tumbuh normal. Masalah stunting adalah akumulasi dari permasalahan gizi. Salah satu tanda stunting adalah panjang badan saat lahir kurang dari 48 Cm. Anak-anak yang sudah terlanjur tumbuh stunting akan sulit diperbaiki, terlebih jika sudah berumur 2 tahun, sehingga ketika dewasa akan menimbulkan banyak problem jika tidak diantisipasi sejak dini. Disampaikan Didi Darsani, stunting adalah problem yang kompleks. “Terdapat dua penyebab stunting, yaitu penyebab langsung berkaitan dengan intervensi spesifik Dinas Kesehatan seperti kunjungan ibu hamil, pemberian vitamin FE dan lainnya, ini sudah dilakukan secara intensif oleh teman-teman di Dinas Kesehatan,” ujarnya.
Faktor lain yang lebih besar pengaruhnya lanjut Didi, faktor perilaku dan faktor lingkungan masyarakat seperti kondisi keluarga yang kurang mampu, keluarga dengan pendidikan rendah, keluarga yang sanitasi airnya buruk, keluarga dengan kelahiran anak terlalu rapat, pernikahan dini, dan lainnya. Berdasarkan riset, 70% penyebab stunting adalah faktor di luar kesehatan. Menurutnya, upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah adalah intervensi sensitif yang langsung dilakukan oleh Dinas Kesehatan, dan intervensi spesifik oleh OPD terkait lainnya serta melibatkan peran serta masyarakat. Ditambahkan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah membentuk Tim Percepatan Penanganan Stunting Kabupaten yang diketuai Sekretaris Daerah beranggotakan seluruh perangkat daerah terkait.
Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Sosial Budaya Bappeda Kabupaten Sumbawa, Dr. Budi Prasetyo, S.Sos., M.AP, dalam paparannya mengatakan bahwa angka stunting di beberapa kecamatan di Kabupaten Sumbawa cukup tinggi, namun persoalan tersebut telah dan akan diupayakan bersama agar terjadi penurunan dan bahkan diharapkan Kabupaten Sumbawa bebas stunting. Dijelaskan, penyelesaian masalah stunting merupakan prioritas nasional, sejalan dengan prioritas pemerintah Kabupaten Sumbawa, yaitu
penurunan kemiskinan, penurunan stunting, dan pemenuhan hak sipil anak. Hal tersebut ditindaklanjuti dengan melakukan kolaborasi atau konvergensi lintas sektor melalui aksi-aksi yang dilakukan secara paralel dan bertahap. Di antara aksi-aksi tersebut yaitu menganalisis situasi dan wilayah-wilayah yang basis stuntingnya tinggi sehingga intervensi yang dilakukan di wilayah itu harus lebih kuat. Selain itu, melakukan intervensi yang bersifat intensif yang ditangani oleh Dinas Kesehatan, dan intervensi spesifik oleh 11 perangkat daerah lainnya yang terlibat dalam penanganan stunting. “Inilah yang coba kita sinergikan, sebab stunting bukan hanya persoalan gizi semata. Penyebab stunting dari faktor genetik hanya 10%, sedangkan persoalan terbesar pada perilaku masyarakat, dimulai dari perilaku-perilaku sederhana seperti pola makan teratur, makan makanan yang sehat, bergizi dan seimbang, pola hidup bersih dengan menerapkan 5 pilar STBM, pola asuh, dan hal-hal lainnya yang berdampak pada anak-anak kita ke depan,” bebernya.
Ditambahkan bahwa stunting bukan hanya tentang tubuh yang kerdil tetapi juga mengecilnya organ otak anak sehingga ke depan mereka tidak dapat bersaing dan target generasi emas tidak dapat dicapai. “Aksi konvergensi harus lebih besar mengarah kepada faktor perilaku dan lingkungan masyarakat, termasuk melibatkan semua pihak dan menggencarkan sosialisasi,” imbuhnya.
Sementara itu, Sri Haryati, S.SIT, MPH, Kepala Seksi Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa dalam paparannya menyebutkan data stunting tahun 2017 hasil pemantauan status gizi Bappenas dan Kemenkes RI, Kabupaten Sumbawa menempati urutan tertinggi dari 10 Kabupaten/Kota di NTB yakni mencapai 41,92%. Namun pada tahun 2018, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar, angka tersebut menurun menjadi 31, 53%. Penurunan ini tidak terlepas dari upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan OPD terkait. Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa juga mempunyai data internal sebagai data pembanding, yakni data yang diperoleh dari Pekan Penimbangan, dimana semua balita di Kabupaten Sumbawa diukur, dan hasil pada Bulan November 2018, stunting di Kabupaten Sumbawa berada pada angka 11,87%. (SR)






