SUMBAWA BESAR, SR (28/1/2019)
Loka Latihan Kerja (LLK) Kabupaten Sumbawa mulai menggelar Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK). Ditargetkan pelatihan ini diikuti 624 orang dalam 4 tahap pelaksanaan. Terdiri dari 30 paket institusional 480 orang dan 9 paket non institusional (MTU) 144 orang. PBK ini resmi dibuka Bupati Sumbawa diwakili Kadis Nakertrans, Senin (28/1). Hadir dalam pembukaan tersebut Kasdim 1607 Sumbawa, perwakilan Kepala Bappeda, dan sejumlah Kasi dan Kabid di Disnakertrans Sumbawa, serta para peserta.
Kepala LLK Sumbawa, Syamsuddin dalam laporannya menyebutkan bahwa anggaran pelaksanaan PBK ini berasal dari DIPA RM Binaan UPTP BLK Lombok Timur, senilai total Rp 3.341.010.000. Bagi peserta yang mengikuti pelatihan ini telah melalui proses seleksi dengan persyaratan bisa baca tulis, usia minimal 16 tahun, sehat jasmani dan rohani, dan memiliki KTP. Untuk angkatan pertama sebanyak 10 paket. Antara lain Kejuruan Menjahit 16 orang, Kejuruan Basic Office (2 paket) 32 orang, Kejuruan Teknisi Listrik (2 paket) 32 orang, Kejuruan Sepeda Motor (dua paket) 32 orang, English for The Office (satu paket) 16 orang, Kejuruan PHP 16 orang dan Kejuruan Las Smawa 3G 16 orang. Totalnya mencapai 160 orang. Para peserta mengikuti pelatihan mulai Selasa (29/1) besok hingga 12 Maret 2019. Selain mendapat ilmu atau kompetensi yang siap masuk dunia kerja, ungkap Syamsuddin, selama pelatihan peserta mendapat uang tansport, ATK, bahan praktek, konsumsi, pakaian kerja dan kaos olahraga, serta sertifikat. Tak hanya itu peserta juga mendapat honor kegiatan, dan asuransi. Ia berharap para peserta mengikuti pelatihan ini dengan serius dan tekun. “Tidak ada alasan bagi para peserta untuk tidak hadir karena semua dijamin. Kalau tidak hadir selama 3 hari maka kami coret untuk digantikan dengan yang lain,” tegasnya.
Sementara itu Kadisnakertrans Sumbawa, Ir. Syafruddin Nur mengatakan bahwa para peserta pelatihan adalah orang-orang terpilih karena melalui seleksi yang panjang. Pelatihan ini dilaksanakan karena adanya persoalan tenaga kerja yang cukup komplek. Mulai dari persoalan pengangguran. “Pengangguran erat kaitannya dengan orang bekerja. Bekerja erat kaitannya dengan penghasilan dan kebutuhan kita. Lebih parah lagi, ketika tidak ada kerja, tidak ada penghasilan, maka akan muncul persoalan sosial berikutnya yakni kasus-kasus kriminalitas,” katanya.
Pengangguran ini timbul karena adanya ketimpangan. Lapangan kerja yang ada lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja. Khusus Kabupaten Sumbawa, angka pengangguran terbuka mendekati 4 persen atau sekitar 10 ribuan orang. Karena itu pemerintah selalu berusaha bagaimana menyiapkan lapangan kerja dengan cara membangun industry, mendatangkan investor dan lainnya.
Selain pengangguran, persoalan lain adalah kualitas tenaga kerja. Rendahnya kualitas tenaga kerja lokal akan kalah bersaing dengan kualitas tenaga kerja daerah lain. Sehingga tenaga kerja lokal mendapat posisi rendah. Masalah lain adalah serbuan tenaga kerja asing. Kondisi ini tidak bisa dipungkiri. Meski demikian ungkap Syafruddin, pemerintah tetap berpihak kepada tenaga kerja lokal. Ini dibuktikan dengan adanya komitmen dan perjanjian kerja di sejumlah perusahaan untuk merekrut sebagian besar tenaga kerja lokal. “Tapi kita jangan keenakan pada posisi non skil atau pekerja kasar, kita harus bisa merebut posisi tenaga skill bahkan hight skill. Salah satunya melalui pelatihan seperti ini,” imbuhnya.
Ada juga persoalan pembayaran upah di bawah UMK atau gaji kecil. Saat ini UMK Sumbawa mencapai Rp 2 jutaan naik dari sebelumnya Rp 1,8 juta. Tapi masih ada juga perusahaan yan membayar di bawah UMK bahkan sangat tidak layak. Masalah berikutnya adalah PHK. Tenaga kerja lokal kerap mendapat perlakuan tak adil. Terkadang dilakukan PHK sepihak dengan beragam alasan.
Untuk itu suka atau tidak suka dengan perkembangan sekarang ini terjadi kompetitif di semua lini. Agar tidak menjadi penonton, maka persiapkan diri dengan baik. Melalui pelatihan ini, peluang bagi masyarakat untuk mengasah potensi dan mendapatkan skill sesuai kebutuhan pasar, sehingga ke depan lahir tenaga-tenaga terampil. “Inilah tujuan dari pelatihan ini yaitu mencetak tenaga kerja yang professional,” pungkasnya. (JEN/SR)






