SUMBAWA BESAR, SR (27/1/2019)
Isak tangis dan kesedihan menyelimuti rumah duka milik Muliyono di Desa Selante, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa. Di rumah itu Mulyono dan istrinya menyambut jenazah putrinya, Titin Martalina yang tewas terbunuh di Doha, Qatar. Jasad korban ditemukan di rumah majikannya Nabil Zakaria Abdul Qadir Al Duwaik (warga negara Palestina). Sebelumnya jenazah pahlawan devisa ini diterbangkan ke Indonesia dari Doha Qatar dikawal perwakilan KBRI Qatar Al-Fikri Al Hadiq yang kemudian disambut BP3TKI NTB Elif Suryo, Staf Khusus Gubernur NTB Inalawai Daeng Kombo, Kabid Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Sumbawa, Khaeril dan stafnya Ida Farida. Selanjutnya jenazah ibu satu anak tersebut diserah-terimakan di rumah duka kepada keluarga, Sabtu (26/1).
Kadisnakertrans Kabupaten Sumbawa yang dihubungi melalui Kabid Penempatan Tenaga Kerja, Khaeril Anwar S.Sos menyebutkan bahwa korban meninggal dunia akibat kasus pembunuhan yang terjadi 25 November 2018 lalu. Hasil penyelidikan polisi setempat mengidentifikasi pelakunya adalah tenaga kerja asal Banglades yang menjadi tukang kebun satu majikan dengan korban. Saat kejadian majikan tidak berada di tempat karena sedang berlibur dan baru pulang sebulan kemudian. Di rumah itu hanya ada korban dan pelaku. Setelah menghabisi korban, pelaku kabur. Belakangan polisi berhasil meringkus pelaku. Setelah tiga hari tertangkap, tanpa diduga pelaku mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di dalam sel tahanan negara setempat.

Terkait dengan kepulangan jenazah korban, Khaeril mengaku cukup alot. Sebab kasus pembunuhan memerlukan proses penyelidikan, penyidikan dan autopsy jenazah, di samping adanya prosedur dari pihak kejaksaan di sana. Kendati demikian, pihak Disnakertrans Sumbawa terus berkoordinasi dengan KBRI Doha Qatar. Selain mengkomunikasikan mengenai kepulangan jenazah korban, pihaknya juga meminta KBRI untuk mengusahakan santunan dan asuransi korban. “Alhamdulillah berjalan lancar. Dan proses kepulangan dan penyerahan jenazah korban langsung didampingi pihak KBRI Qatar,” ungkapnya.
Karena itu atas nama pemerintah daerah ia menyampaikan terima kasih kepada KBRI yang telah mengurus segala hal terkait kepulangan jasad dan hak-hak korban selama menjadi TKW. Khaeril juga dalam kesempatan itu berharap keluarga bersabar menerima ujian itu dengan ikhlas.
Sementara itu orang tua korban, Mulyono mengaku khabar kematian putrinya ini diketahui dari pihak KBRI yang menghubungi November 2018 lalu. Kabar duka ini sempat membuatnya syok. Namun dia tak berdaya selain pasrah menerima takdir tersebut. Ia mengaku tidak ada firasat apapun bahkan tidak pernah mendengar adanya persoalan yang menimpa korban selama bekerja di sana. Korban juga sudah dua kali berangkat setelah sempat cuti Tahun 2014 lalu. “Saya sudah ikhlas, dan saya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Indonesia, pemerintah Sumbawa dan KBRI yang telah memulangkan jenazah anak kami ini,” ucapnya. (BUR/SR)







