Hijaukan Pulau Terpadatku

oleh -388 Dilihat

Oleh:  Ani Sulastri, S.Biotek (Universitas Teknologi Sumbawa)

Perjalanan menuju “pulau terpadatku” memang tidaklah mudah. Rasa ingin menyerah karena perjalanan yang tak kunjung sampai dan badan yang mulai letih akibat kelelahan. Namun, semua hal tersebut tidak menjadi alasan untuk tidak mencapai tujuan karena rasa lelah itu harus dilawan dan akan banyak hal menarik dan indah ketika tiba di sana yakni Pulau Bungin. Aksi pelestarian lingkungan kembali dilaksanakan oleh civitas akademika Fakultas Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa (FTB UTS). Bekerjasama dengan Sobat Bumi (SOBI) Sumbawa, FTB UTS, STKIP Para Cendikia dan lintas jurusan yang ada di UTS melakukan kegiatan penanaman Pohon ketapang (Terminalia cattapa), pohon flamboyan (Delonix regia) dan pohon mahoni (Swietenia mahagoni) di kawasan pulau terpadat di dunia Desa Bungin, Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa, NTB. Kegiatan ini merupakan kegiatan penanaman pohon pertama yang dilakukan di Pulau Bungin diinisiasi oleh SOBI Sumbawa mengingat Pulau Bungin jarang terdapat pepohonan. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan rutin SOBI Sumbawa dan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen FTB UTS dengan mengajak mahasiswa baik dari Fakultas Bioteknologi maupun lintas Fakultas di UTS, Organisasi Saka Wanabakti dan STKIP Para Cendikia untuk berpartisipasi sebagai ajang pembelajaran keilmuan di lapangan yakni belajar bersama alam. Sesuai tema yang diusung yaitu “hijaukan pulau terpadatku” rangkaian kegiatan ini bertujuan untuk ikut menjaga dan membuat Pulau Bungin menjadi lebih hijau. Pulau Bungin di Sumbawa selama ini telah dikenal sebagai salah satu pulau terpadat di dunia dilihat dari jumlah penduduk sebanyak 3.226 dari 963 keluarga berdasarkan data pemerintah Pulau Bungin.

Kepadatan penduduk yang terdapat di Pulau Bungin berkaitan erat dengan kepercayaan yang masih erat dipercaya oleh masyarakat Bungin. Masalah kepadatan penduduk di Bungin berkaitan dengan jumlah lahan dan rumah. Jarak antar rumah sangat rapat sehingga kambing atau hewan ternak di Bungin kesulitan dalam mendapatkan rumput sehingga hal inilah yang membuat unik ternak di Pulau Bungin yang memakan plastik dan kertas sebagai sumber makanan. Lokasi konservasi berada di Desa Bungin, kegiatan penanaman bibit pohon yang kami lakukan berada di lahan milik desa, di sepanjang jalan menuju Desa Bungin, di halaman Museum Nelayan yang terdapat di Bungin dan ditanam di bagian depan halaman rumah warga. Perjalanan menuju ke lokasi kegiatan menempuh jarak sekitar 2 jam dari Kota Sumbawa dengan kondisi jalan menanjak dan berliku khas jalan pegunungan yang berada di dekat pantai. Bibit tanaman yang telah diberikan oleh pihak KPHP Batu Lanteh dibawa menuju lokasi penanaman yang tipikal jalannya berbatu, menanjak dan berkarang. Akhir tahun dipilih sebagai waktu penanaman pohon dilihat musim kemarau Sumbawa yang lebih panjang dibandingkan musim penghujannya dan harapannya di musim hujan akhir tahun tanaman dapat tumbuh dengan subur seiring dengan perawatan yang dilakukan. Tanaman pohon Flamboyan yang ditanam di sepanjang gerbang menuju masuk desa dipilih karena tanaman ini memiliki bunga yang indah yang tumbuh tinggi dan gugur bak seperti musim semi sehingga menambah indah desa terpadatku.

Penanaman dilakukan dari pukul 13.00-16.00 Wita. Sebelum menanam, kegiatan yang dilakukan adalah sambutan dari pihak desa dan penyampaian materi oleh Dekan Fakultas Teknobiologi UTS terkait dengan kegiatan konservasi lingkungan. Kegiatan berikutnya pembersihan lahan, dibuat lubang tanamnya lalu disiram. Bibit pohon yang diperoleh sebanyak 300 bibit dari pihak KPHP Batu Lanteh. Antusiasme warga Bungin terhadap aksi penghijauan yang dilakukan oleh SOBI Sumbawa bersama volunteer sangat diapresiasi dengan baik mengingat rumah warga Desa Bungin sangat jarang yang terdapat pohon. Anak-anak kecil yang ikut melakukan aksi penanaman diberikan pengajaran sedini mungkin bahwa pentingnya menjaga lingkungan untuk keberlanjutan kehidupan dan menjaga Pulau Bungin untuk menjadi asri dan hijau. Selain menjadi pulau terpadat di dunia Pulau Bungin juga berperan penting dalam sektor pariwisata di Sumbawa mengingat terdapat museum nelayan di Desa Bungin dan bendera kerajaan Sumbawa yang masih tersimpan rapi di pemuka adat Bungin. Karena itu, menjaga kelestarian dan keasrian desa terpadatku ini adalah sebuah kewajiban bersama dari seluruh elemen masyarakat Pulau Bungin, pemerintah dan masyarakat Sumbawa khususnya.

Salam Sobat Bumi

CINTAI BUMI, SELAMATKAN BUMI!

TIDAK PEDULI BUMI SILAHKAN NGUNGSI DARI BUMI !

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *