KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN DINAS PERTANIAN PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN SUMBAWA BARAT SUMBAWA BARAT
SUMBAWA BARAT, SR (19/09/2018)
Pasokan sayur masyur dari luar Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sulit bisa dibendung. Pasalnya kebutuhan akan sayur mayur di KSB begitu tinggi, sedangkan petani lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Sehingga hukum pasar yang tidak bisa diintervensi oleh pemerintah dikuasai pedagang dari luar KSB. Melihat kenyataan itu Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan KSB melalui Bidang Hortikultara yang baru saja dibentuk, mendorong petani dengan cara memberikan bibit sayur mayur, obat obatan dan juga bimbingan sampai mereka bisa.
Ditemui SAMAWAREA belum lama ini, Kepala Dinas PPP Dr. Khairul Jibril mengaku sangat memahami kondisi pasar yang dikuasai pedagang luar KSB. Pasokan terbesar sayur mayur didatangkan dari luar KSB di antaranya Lombok, Bima dan Sumbawa. Ini terjadi karena ketidakberdayaan petani KSB untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga pedagang luar melihat pasar KSB begitu menjanjikan. “Pedagang itu berbondong-bondong datang ke KSB untuk berdagang dan kita tidak bisa berbuat apa-apa, satu-satunya cara untuk memperkuat petani KSB kita sudah siapkan bantuan bibit sayur mayur, lengkap dengan obat obatannya bahkan kami akan bimbing langsung petani tersebut agar hasilnya bisa maksimal,” ujarnya.
Ia menyebutkan telah membagi benih tomat, benih kobis, benih terong panjang, benih terong bulat, benih buncis, benih melon, pupuk organik, pupuk organik cair, NPK (15-15-15) Insektisida, Fungisid, kepada 13 kelompok tani di KSB yang tersebar di 8 kecamatan. “Kami bimbing langsung tehnik penanaman bibit yang baik dan benar. 13 kelompok ini kami maksimalkan untuk membantu dan kami bombing sampai dia menjadi petani handal dan memiliki minat untuk bertani dengan memberikan solusi dalam setiap persoalan yang dihadapi,” katanya.
Haerul menyebutkan dalam satu kelompok terdiri dari 10 orang. Jika 13 kelompok berarti ada 130 orang. Jika setiap tahunnya bisa melahirkan petani horti 130 orang, ia optimis pasar di KSB perlahan tapi pasti bisa dikuasai masyarakat lokal. “Kalau masalah persaingan harga tentu petani kita diuntungkan oleh jarak tempuh dengan pedagang dari luar KSB, karena dalam berdagang pasti akan dihitung sampai dengan cost angkutan, sehingga ini menjadi peluang untuk petani di KSB,” pungkasnya. (HEN/SR)






