SUMBAWA BESAR, SR (12/09/2018)
Desa Labuhan Jambu di Kabupaten Sumbawa meluncurkan Wisata Hiu Paus berbasis masyarakat pertama di Indonesia pada acara Sail Moyo Tambora, 9-23 September 2018. Wisata ini merupakan upaya dalam mendorong pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai salah satu destinasi prioritas nasional. Pada peluncuran ini, budaya masyarakat Bugis turut diperkenalkan melalui tour kampung pesisir, pertunjukan seni tari dan musik tradisional, serta kegiatan pengamatan Hiu Paus di bagan.
Kepala Desa Labuhan Jambu Kecamatan Tarano, Musykil Hartsah yang ditemui Selasa (11/9) mengemukakan hal itu. Menurutnya, berdasarkan data yang dihimpun Conservation International (CI) Indonesia, Teluk Saleh kerap didatangi Hiu Paus karena berasosiasi dengan bagan untuk mendapatkan masin atau Ikan Puri sebagai makanannya. Selama periode September 2017 hingga Agustus 2018, jumlah individu yang teridentifikasi mencapai 49 ekor.
Dari temuan ilmiah ini, CI Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Desa Labuhan Jambu dan masyarakat, mempersiapkan dan merencanakan pengembangan potensi Wisata Hiu Paus yang berkelanjutan. Melalui survey persepsi masyarakat, pemetaan partisipatif dan forum diskusi terpadu, proses persiapan menghasilkan wisata pengelolaan berbasis masyarakat yang dimulai dengan kegiatan perencanaan untuk pengelolaan dan penyedia jasa penginapan, pemandu wisata, transportasi darat, laut, kuliner dan produk lokal. “Kami ingin Wisata Hiu Paus ini dikelola oleh masyarakat desa secara mandiri agar keuntungan yang didapat langsung dirasakan. Untuk itu, kami bersama dengan CI Indonesia mencoba mengidentifikasi, mengembangkan potensi dan meningkatkan kapasitas masyarakat yang dimiliki desa untuk mengelola Wisata Hiu Paus,” ujar Musykil.
Dalam rangka mendukung kegiatan Sail Moyo Tambora 2018, Wisata Hiu Paus di Desa Labuhan Jambu menjadi bagian dari promosi wisata di Kabupaten Sumbawa. Wisata Hiu Paus adalah kegiatan rekreasi melihat hiu paus di habitatnya dengan variasi kegiatan pengamatan dari kapal, berenang/snorkeling dan menyelam bersama Hiu Paus. “Wisata Hiu Paus ini merupakan wisata minat khusus yang bermuatan edukasi tentang konservasi biota laut, dan budaya masyarakat terkait Hiu Paus dan bagan,” jelasnya.
Dalam rangka mendukung pelestarian Hiu Paus dan pengembangan Wisata Hiu Paus yang berkelanjutan di Desa Labuhan Jambu, CI Indonesia melakukan pendampingan masyarakat dalam mewujudkan keuntungan ekonomi dan konservasi yang berjalan secara sinergis untuk jangka panjang. Sebagai referensi dari Cagua, et.al. (2014) wisata ini memberikan pemasukan tahunan sebesar Rp 130 miliar di Maladewa.
Victor Nikijuluw, Senior Marine Program Director CI Indonesia menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif CI Indonesia di tingkat nasional. “Secara khusus di Sumbawa, kami mendukung penguatan kelola Wisata Hiu Paus berbasis masyarakat sebagai bagian dari strategi besar program kami untuk upaya konservasi kelautan di bentang Laut Sunda–Banda. Kami harap kegiatan di Sumbawa ini memberikan bukti manfaat nyata konservasi bagi kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, sebagaimana telah terbukti pada sejumlah lokasi program CI Indonesia lainnya,” pungkas Victor. (SR)






