AMLAPURA, SR (31/05/2018)
Galungan di Karangasem dibarengi beberapa tradisi unik. Saat penampahan Galungan warga juga masih mengedepankan tradisi mepatung. Dimana memotong babi untuk sarana upacara secara bersama sama. Hal ini sangat membantu karena daging menjadi lebih murah. Mereka tinggal membeli satu ekor babi lalu dipotong beramai ramai. Pengerjaan dilakukan bersama sama sehingga lebih murah. Tradisi ini sendiri sudah berjalan sejak ratusan tahun. Dengan Mepatung daging yang didapat selain lebih murah juga lengkap. Karena untuk sarana upacara butuh daging lengkap. Ada isi, kulit, darah, usus dan juga yang lainnya. Daging babi ini nantinya diolah untuk perlengkapan upacara seperti sate, kuung, kablet, gunting dan lawar.
Sementara itu yang tidak kalah menarik saat puncak Galungan juga warga Duda, Selat juga punya tradisi sembahyang pagi atau dinihari. Bahkan masih gelap atau matahari belum turun sekitar jam 02.00 Wita dinihari warga sudah mulai melakukan sembahyang ke pura-pura. Sembahyang ini disebut Mebanten Nyacak. Persembahyangan dilakukan mulai dari Pura Puseh, Dalem, Desa dan juga Paibon serta Merajan. Tidak itu saja sembahyang juga dilakukan di Catus Pata dan juga lokasi lainnya termasuk di sawah dan kebun. “Kalau sembahyang pagi sudah menjadi tradisi warga di sini dan sudah turun temurun,” ujar Luh Suparni warga Geriana Kangin, Selat kemarin.
Sementara itu usai sembahyang juga dilakukan tradisi Ngejot Punjungan. Yakni memberikan banten atau punjungan kepada anak yang baru pertamakali ketemu Galungan. Tradisi ngejot ini biasanya masih ada ikatan keluarga besar. Punjungan tersebut kemudian di tatab anak kecil tersebut sebagai tutut mendoakan untuk keselamatan si anak. Warga yang mendapat jotan punjungan tersebut biasanya dibalas saat keluarga yang memberikan jotan tersebut punya anak kecil atau keluarganya punya anak kecil. Tradisi ini juga dilakukan saat Kuningan. (SR)






