YOGYAKARTA, samawarea.com (7 Mei 2026) – Museum Bala Datu Ranga (MBDR) melakukan studi banding ke lima museum terkemuka di Yogyakarta. Yakni, Museum Sonobudoyo, Museum Kraton Yogyakarta, Museum Ullen Sentalu, Museum Benteng Vredeburg, dan Diorama Arsip Jogja.
Kegiatan studi banding ini berlangsung tanggal 4 – 8 Mei 2026 yang diikuti oleh tiga staf museum yaitu Kurator, Edukator, dan Preparator Museum, untuk meningkatkan mutu narasi dan alur penceritaan, penyampaian informasi kepada publik, dan penyajian koleksi dengan tata pameran yang terkonsep.
MBDR memilih Yogyakarta sebagai tujuan studi banding museum karena di kota ini eksis museum-museum yang memiliki kualitas bagus dan sudah memenuhi standar nasional maupun internasional. Museum Sonobudoyo misalnya telah dibentuk pada tahun 1931 hasil dari Kongres Kebudayaan Java Institut di Yogyakarta. Museum ini merupakan salah satu museum tertua yang ada di Indonesia karena telah eksis sebelum kemerdekaan.
Museum kedua yang dikunjungi yaitu Museum Benteng Vredeburg merupakan museum bekas bangunan benteng pertahanan Belanda yang dibangun tahun 1760. Museum Kraton Yogyakarta merupakan museum tipe A yang khusus mengoleksi benda-benda milik Kesultanan Yogyakarta yang terdiri dari beberapa museum. Yaitu, Museum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Museum Kereta, Museum Batik, dan Museum Lukisan.
Berikutnya adalah Museum Ullen Sentalu yaitu museum swasta yang didirikan oleh Keluarga Haryono yang dibangun pada akhir tahun 1980-an yang fokus sebagai pusat studi sejarah, seni, dan budaya Jawa.
Lokasi terkakhir adalah Diorama Arsip Jogja yang dikelola oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DPAP DIY).
“Lima institusi yang menjadi lokasi belajar MBDR semuanya memiliki kekuatan dan keunggulan masing-masing. Kami belajar pengelolaan museum dari berbagai aspek mulai dari pengelolaan koleksi, penyajian narasi dan alur penceritaan (kuratorial), perancangan tur museum yang edukatif, dan penggunaan teknologi digitalisasi untuk menyajikan narasi museum. Sehingga harapannya, MBDR bisa belajar banyak untuk menghadirkan sebuah museum berkualitas di Kabupaten Sumbawa,” tegas Yuli Andari Merdikaningtyas, M.A, Direktur yang merangkap sebagai Kurator Museum Bala Datu Ranga, Kamis (7/5/26).
Studi banding pengelolaan museum ini jelas Andari, bukan program sembarangan. MBDR mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan RI dan LPDP melalui Dana Indonesiana skema Dukungan Institusional Bagi Keberlanjutan Organisasi Kebudayaan.
Andari berharap ilmu yang didapat bisa segera diterapkan untuk menghadirkan museum berkualitas di Kabupaten Sumbawa.
“Targetnya, MBDR jadi ruang belajar sejarah dan budaya yang narasinya kuat, alurnya jelas, dan relevan untuk publik,” tegasnya.
Hasil studi banding ini rencananya akan dipresentasikan ke publik saat peringatan International Museum Day 2026 pada 18 Mei mendatang di MBDR. Tahun ini, Hari Museum Internasional mengangkat tema “Museum Uniting a Divided World”. (SR)






