MATARAM, SR (19/05/2018)
Hasil Pilgub NTB makin sulit diprediksi karena ada invisible hand yang turut mengawal pesta demokrasi ini. Fenomena ini nampak dari bocoran berbagai informasi hasil survey semua Paslon menunjukkan tidak ada satupun kandidat yang dominan yang elektabilitasnya di atas 30 persen. Ditambah masih tingginya swing votters rata-rata di atas kisaran 30 %.
Selain itu jarak keterpautan masing-masing Paslon Pilgub berkisar antara satu sampai dengan dua persen di bawah toleransi margin error sekitar 3 %. Melihat konstruksi elektabilitas seperti ini, kuat dugaan akan ada keajaiban yang memenangi Pilgub NTB. Bisa jadi invisible tangan dan takdir politik akan menjadi penentu akhir pemenang Pilgub NTB. Sehingga urutan elektabilitas para Paslon versi lembaga survey tidak bisa lagi dijadikan garansi atau kartu truff dalam memenangkan Pilgub NTB, karena perubahan elektabilitas bergerak dinamis secara berkala. Demikian Analisis Mi6–Lembaga Sosial dan Politik yang disampaikan kepada SAMAWAREA, Sabtu (19/5).
Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH menduga ketatnya persaingan elektabilitas para Paslon di Pilgub NTB dipengaruhi oleh besarnya ekpektasi pemilih di masing-masing kabupaten/kota untuk memenangkan jagonya. Selain itu proaktif calon dan tim sukses mendekati dan melakukan penetrasi wilayah pemilihnya turut memberikan kontribusi utama.
Agresifitas The Rising Star ZulRohmi
Di mata Mi6 agresifitas kandidat the rising star Zul Rohmi dalam melakukan gerakan blusukan day by day merupakan cara ampuh meraih simpati dukungan rakyat. Sebagai pendatang baru, Zul Rohmi sadar bahwa hanya dengan cara gerilya seperti inilah rakyat bisa mengenalnya ‘face to face’ dengan benar. Pada akhirnya para pemilih tersebut bisa diikat dalam satu kesatuan komitmen politik secara kolektif memenangkan ZulRohmi.
Meskipun demikian Mi6 mengingatkan, strategi blusukan ini akan berdampak menggerus atau menurunkan elektabilitas ZulRohmi di akhir ronde, apabila tidak ada yang menjaga dan merawat ekpektasi pemilih jelang pencoblosan nanti. “Karena pertemuannya serba instan, maka perlu dijaga suara pemilih tersebut agar tidak berpindah ke lain hati,” ungkap Didu—sapaan akrab Direktur Mi6 didampingi Sekretarisnya, Lalu Athari Fadlulah SE.
Di Bawah Margin Error
Sekretaris Mi6, Lalu Athari Fadlulah menambahkan, dengan jarak pautan elektabilitas para Paslon berkisar 2 % di bawah margin error mengindikasikan Pilgub NTB, bahwa kekuatan para Paslon berimbang dan memiliki keunggulan pada wilayah yang dijadikan benteng kekuatan pemilih loyalnya. “Maka jangan heran, jika beberapa lembaga survey tidak mau mempublikasi hasilnya karena trend elektabilitas para Paslon relatif imbang dan fluktuatif yang terkendali,” tambahnya.
Dengan waktu tersisa 38 hari menjelang hari pemilihan 27 Juni 2018 mendatang, apapun bisa terjadi, termasuk keajaiban yang memenangi Pilgub NTB ini. Semua ini tergantung pada kepiawaian dan strategi taktik yang dimainkan para Paslon mengamankan wilayah pemilihnya. “Prinsipnya gini, makin sering Paslon bangun pagi dan rajin mendatangi rakyat selalu ada harapan baik di sisinya,” imbuh Athar.
Mi6 melihat di tengah kuatnya floating mass dan pragmatisme rakyat maka strategi door to door mendatangi pemilih setidaknya bisa meredam dan menenangkan suara hati rakyat yang terkadang kerap ambigu. “Para pemilih pragmatis ini harus di-treatment dengan cara-cara tidak biasa dan harus diberikan tanggungjawab agar ada kebanggaan buat dirinya,” timpal Didu.
Mesin Parpol
Terkait sinyalemen publik bahwa mesin Parpol belum bergerak dalam mengakselerasikan secara nyata dalam memback up paslonnya, Didu melihat hal tersebut sebagai taktik internal yang tidak semua musti dipublikasikan. “Mesin Parpol pasti bergerak karena memiliki SDU (Self Defence Unit) yang tidak harus diketahui cara dan mekanisme kerjanya di basis pemilihnya,” pungkas mantan direktur WALHI NTB ini. (SR)





