MATARAM, SR (19/01/2018)
Harus diakui bahwa pesona dan daya tarik Pilkada Lombok Timur justru terletak pada figur papan dua (Calon wakil bupati) pada tiga Paslon yang diusung koalisi parpol. Keberadaan the rising star para Cawabup Lotim ini menarik diamati karena ketokohan dan latarbelakang afiliasi politiknya. Dus, tentu para Cawabup memiliki peran penting dan strategis dalam memenangkan Pilkada Lotim. Maka eksistensi mereka dalam memback up para Cabup tidak boleh dipandang sebelah mata. Demikian penilaian Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH, Jumat (19/1).
Didu sapaan Direktur Mi6 ini mengatakan keberadaan Calon Wakil Bupati (Cawabup) pendatang baru dalam Pilkada Lombok Timur tentu dihajatkan untuk mendukung dan memback up pergerakan para Cabup guna meraih suara pemilih. “Para cawabup ini ibarat votegetter untuk mendulang suara pemilih karena mereka yang berbeda maqom dan fatsun politiknya tersebut memiliki rekam jejak yang cukup mumpuni di mata konstituen,” ujar Didu.
Seperti Paket Samsul Lutfhi dan H. Najamuddin Moestafa (Fiddin) yang merepresentasikan kekuatan jamaah NW dan kaum Nahdliyin ini dipandang sebagai kuda hitam dalam Pilkada Lombok Timur. Cawabupnya H. Najamuddin sebagai mantan Ketua DPW PKB NTB maupun mantan anggota DPRD NTB memiliki jejaring yang tetap terawat terutama di kalangan jamaah NU Lombok Timur. Cawabup dengan songkok khas Turki ini merupakan pendatang baru dalam kontestasi Pilkada NTB. “Pesona paket Fiddin ini justru terletak pada figur cawabupnya yang dapat mendongkrak elektabilitas Fiddin,” lanjut Didu.
Kisah kekalahan Samsul Luthfi dalam Pilkada Lotim tahun 2013 silam, ungkap Direktur Mi6 ini, dijadikan pelajaran penting agar tidak terulang kembali. Konon saat itu jamaah NW menginginkan agar Lutfhi menjadi papan satu (Cabup). “Sekarang Samsul Lutfhi papan satu Pilkada Lotim, jadi tidak ada lagi alasan NW untuk tidak kompak dan bersatu,” tukasnya.
Perpaduan kekuatan Jamaah NU dan NW dalam paket Fiddin, sambung Didu merupakan sejarah baru dalam konstelasi Pilkada Lombok Timur. “Inilah cerminan power politik yang sanggup meraih simpati publik Lombok Timur,” jelas Didu sembari menambahkan H Najamuddin dan warga Nahdliyin memiliki posisi sentral dalam melapis meraih simpati rakyat Lombok Timur.
Didu menambahkan dengan tagline “muda dan merakyat” paket Fiddin tentu dihajatkan untuk meraup suara pemilih yang segmentasinya rakyat biasa dan pemilih pemula Lombok Timur. Maka branding dan taktik meraih simpati konstituen akan berkaitan kebutuhan rakyat pada umumnya (jamaah) dan ekspektasi kaum muda Lombok Timur. “Di sinilah ujian paket Fiddin membuktikan jargon politik agar bisa membumi di kalangan rakyat dan kaum muda lintas kepentingan,” tambahnya.
Paket SuKMa yang Cawabupnya H Rumaksi dengan segudang pengalaman malang melintang sebagai politisi dan anggota DPRD beberapa periode baik di kabupaten dan propinsi yang representasi figur dari utara tentu sangat mengetahui medan loyalis pemilihmya. “Haji Rumaksi saat ini sudah diidentikkan mewakili masyarakat pemilih wilayah utara,” kata Didu.
Bagi sebagian warga Lotim bagian utara , H Rumaksi yang sekarang anggota DPRD NTB dari Partai Hanura, dikenal sebagai politisi tua yang merakyat dan senantiasa memahami maksud rakyat. “H Rumaksi tipologi politisi yang bersahaja dengan konstituennya,” imbuhnya.
Sementara Paket Hairul Warisin-H Machsun (HaRum) yang diusung Gerindra , PKS dan PAN tidak boleh diremehkan. Selain incumbent juga cawabupnya H Machsun memiliki kapasitas, resources dan jaringan yang cukup baik. Sebagai politisi Udayana yang juga pengusaha sukses Lombok Timur, H Machsun tentu memiliki kelebihan dalam menarik dukungan dari pemilih Lombok Timur, khususnya melalui jejaring bisnisnya. “Sebagai incumbent, Hairul Warisin tentu memiliki kalkulasi politik sendiri dengan berpasangan dengan H Machsun,” ujarnya.
Geliat Mesin Partai
Sementara itu, Sekretaris Mi6, Lalu Athari Fathulah SE mengatakan dalam pentas Pilkada Lombok Timur ini mesin politik parpol akan bergerak dengan pasti untuk memenangkan para kandidat yang diusung. Pilkada Lombok Timur merupakan barometer utama untuk melihat kecenderungan pilihan politik rakyat. “Pilkada Lotim menjadi indikator penting partisipasi politik rakyat dan sampai sejauhmana mesin partai politik bergerak secara efektif,” kata Athar.
Pilkada Lotim bagi kalangan parpol merupakan ajang pemanasan politik untuk menyambut tahun politik 2019 yakni pemilihan legislatif dan Pilpres. Capaian kerja politik dalam Pilkada Lotim nanti dijadikan rangkaian harapan politik bagi para politisi yang mengusung paslonnya. “Jadi wajar jika nanti parpol pengusung akan berjuang habis-habisan mempertahankan basis konstituennya,” ujar Athar sembari menambahkan pengamanan suara pemilih ini diwujudkan dalam bentuk keberpihakan pemilih dan partisipasi politik warga yang jelas arah pilihan politik secara vulgar dan transparan.
Selanjutnya dia memprediksi dalam Pilkada Lotim ini kampanye hitam tidak akan dilakukan oleh para kandidat. Hal ini ada semacam kesepahaman tak tertulis agar pilkada Lotim dijadikan pertarungan gentlemen dan fairplay untuk meraih dukungan warga Lombok Timur. “Black campaign tidak dikehendaki karena akan menciderai nurani dan jiwa petarung politik para ksatria ini,” pungkasnya. (SR)






