SUMBAWA BESAR, SR (15/01/2018)
Massa yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Lingkar Selatan (APLS) menggelar aksi di Simpang Batu Bulan, Selasa (16/1). Mereka mencegat setiap kendaraan yang dicurigai menyuplai kebutuhan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Blok Elang—Dodo. Aksi yang dipimpin Ahmad Yani ini mendapat pengamanan dari aparat kepolisian. Tampak Kapolsek Moyo Hulu, IPTU Surana turun ke lokasi aksi guna mengawal agar gerakan tersebut tidak anarkis. Aksi itupun masih berjalan aman dan damai.
Ditemui SAMAWAREA di Polres Sumbawa, Ahmad Yani yang mengaku diundang Kapolres Sumbawa ini mengatakan aksi akan terus berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Bahkan setiap harinya massa akan terus bertambah. Selain itu titik aksi akan diperluas di Base Camp PT AMNT di Lamurung dan Kantor PT AMNT di Sumbawa Besar. Aksi ini akan berakhir ketika kepentingan masyarakat dan pengusaha lokal yang tergabung APLS diakomodir PT AMNT dan perusahaan subkonnya.
Aksi ini dilakukan tegas Yani, sebagai akumulasi kekecewaan masyarakat dan pengusaha lokal yang tergabung dalam APLS terhadap segala bentuk penindasan oleh PT AMNT dan subkonnya. Selama ini PT AMNT dan subkonnya menjanjikan pekerjaan kepada masyarakat, di samping melibatkan pengusaha lokal dalam penyediaan barang dan jasa guna mendukung aktivitas tambang. Kenyataannya perusahaan tersebut merekrut tenaga dari luar terutama perusahaan subkonnya. Demikian dengan pengusaha lokal tidak diberdayakan. PT AMNT dan subkonnya melakukan penunjukkan langsung kepada perusahaan yang dikehendaki termasuk suplay BBM dari Bima, padahal ada pengusaha lokal yang memiliki persyaratan yang sama. “Apa gunanya dibentuk Asosiasi Pengusaha Lokal jika tidak diberdayakan, dan hanya menjadi penonton di daerah sendiri,” tukasnya.
Yang paling mengerikan adanya praktek yang bersifat adu domba. Mereka sengaja merekrut beberapa orang yang memiliki pengaruh di wilayah selatan untuk melindungi kebijakan perusahaan yang kemudian diindikasikan untuk dibenturkan dengan masyarakat lainnya. “Kami tidak rela adanya praktek semacam ini yang justru memunculkan pengaruh social ekonomi masyarakat yang tidak sehat. Kami tidak tolak investasi tapi investasi yang sehat dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dan daerah,” tukasnya.
Yani menilai AMNT dan subkontnya belum memberikan konstribusi apapun bagi masyarakat dan daerah. Jika tidak memberikan tidak perlu ada PTAMNT, masyarakat sudah bisa hidup sejahtera dengan lahan pertanian dengan membangun bendungan. “Lebih baik Newmont daripada AMNT. Saat dikelola asing manfaatnya sangat dirasakan masyarakat, kini dikelola oleh pengusaha Indonesia sendiri dengan label AMNT justru semakin mundur dan belum memberikan bermanfaat. Jadi kami menolak segala bentuk kegiatan pertambangan AMNT di Blok Elang Dodo,” cetusnya. (JEN/SR)






