SUMBAWA BESAR, SR (08/12/2017)
Bank PD BPR NTB Sumbawa optimis mampu meraih laba mencapai Rp 8,9 Milyar pada Tahun 2017 ini. Capaian ini melebihi laba yang diperoleh bank berprestasi tersebut pada Tahun 2016 lalu Rp 8,4 Milyar. Keyakinan ini diungkapkan Direktur Utama BPR NTB Sumbawa, M Ikhwan SP kepada SAMAWAREA di ruang kerjanya, Jumat (8/12) siang tadi.
Disebutkan Ikhwan—sapaan akrab Dirut low profil ini, saat ini capaian laba sudah berada di posisi 98 persen. Desember ini target 100 persen akan tercapai. Ia mengakui beberapa bulan kondisi bank yang dipimpinnya sempat terseok-seok dalam mengejar target yang telah ditetapkan. Sebab saat itu terjadi kekosongan Dewan Pengawas, dan dia selaku Dirut menghadapi persoalan. Ketika efektif masuk kantor Juli 2017 lalu, Ikhwan mengaku langsung mengambil langkah-langkah untuk mengejar ketertinggalan dengan menerapkan strategi yang dinamakan “Power of Kepepet”. Waktu sudah mepet, capaian masih jauh dari target. Setiap hari dan setiap minggu dilakukan evaluasi. Setiap minggu juga pihaknya memanggil semua pimpinan cabang untuk meminta pertanggungjawaban dan dibuatkan komitmen. “Setiap minggu kami rubah komitmen ketika komitmen sebelumnya tidak terpenuhi, kita sesuaikan,” ujar Ikhwan.
Akhirnya dalam jangka waktu tiga bulan (Juli—September), pihaknya bisa menutupi kekurangan atau ketertinggalan Rp 5 milyar dengan peningkatan Rp 8 Milyar. “Dengan strategi power of kepepet ini hasilnya mencengangkan. Kredit meningkat 5 milyar dan dana pihak ketiga naik 8 milyar. Kami yakin dengan strategi ini target 2017 hingga Desember ini akan mampu kami capai,” ucapnya optimis.
Strategi “Power of Kepepet” diterapkan menurut Ikhwan secara tidak langsung melatih jajarannya untuk menghadapi Tahun 2018. Karena di tahun tersebut pihaknya akan meminimalkan jangka waktu, bukan lagi mengejar target selama 12 bulan tapi 11 bulan (hingga Nopember), sehingga pada Bulan Desember nya akan dijadikan cadangan baik untuk mengejar kekurangan yang belum dicapai ataupun menambah bonus. “Artinya yang dicapai nanti akan mampu melebihi target yang telah ditetapkan,” tandasnya.
Di bagian lain, Ikhwan mengakui sejauh ini Bank BPR NTB Sumbawa belum mampu memenuhi permintaan masyarakat yang cukup tinggi. Hal ini terjadi karena dana yang dikelola BPR masih sangat terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemda Sumbawa tidak bisa menambah penyertaan modal karena terbentur aturan yang tertuang di dalam Perda yaitu penyertaan modal maksimal Rp 30 Milyar. “Target penyertaan modal 30 milyar sudah lama dipenuhi Pemda Sumbawa, tidak bisa ditambah lagi karena batas maksimal yang ditentukan dalam Perda. Jumlah penyertaan modal oleh Pemda Sumbawa ini belum termasuk gedung senilai Rp 5 milyar. Dan penyertaan modal Pemda Sumbawa ini adalah yang terbesar dibandingkan dengan penyertaan modal oleh Pemda lain di NTB,” kata Ikhwan.
Satu-satunya jalan untuk bisa menambah penyertaan modal dan mengakomodir tingginya permintaan masyarakat terhadap keberadaan Bank BPR, adalah dengan cara merubah Perda. Ini tergantung dari upaya Pemda selaku pemilik untuk mendorong percepatan perubahan Perda dimaksud. Ketika Perda telah dirubah, Pemda khususnya Sumbawa dapat menambah penyertaan modal hingga mencapai Rp 50 milyar. Selain mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat karena uang yang tersalurkan cukup besar, juga deviden yang diterima Pemda jauh lebih besar. “Cita-cita pembangunan ekonomi ada di lembaga keuangan. Ini bisa tercapai sangat tergantung dari penyebaran arus dana di masyarakat. Masyarakat akan tersentuh sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi, secara otomatis BPR NTB Sumbawa menjadi lembaga perbankan yang kuat dan semakin besar,” demikian Ikhwan. (JEN/SR)






