SUMBAWA BESAR, samawarea.com (11 Juni 2026) – Kawasan Car Free Day (CFD) Samota yang menjadi ikon wisata sekaligus pusat aktivitas ekonomi kreatif di Kabupaten Sumbawa ternyata masih menghadapi persoalan serius terkait pengelolaan sampah. Hasil penelitian Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan (PUSKAP) Sumbawa mengungkap bahwa sebagian besar sampah yang dihasilkan di kawasan tersebut didominasi oleh plastik sekali pakai.
Temuan tersebut dipaparkan dalam kegiatan ekspose hasil penelitian yang berlangsung di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Riset Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa, Selasa (10/6/2026).
Peneliti utama PUSKAP Sumbawa, Dr. Sri Rahayu, MM, menjelaskan bahwa sekitar 70 persen sampah yang dihasilkan dari aktivitas CFD Samota berupa botol minuman, gelas plastik, kantong kresek, hingga kemasan makanan sekali pakai. Namun, pola pengelolaan yang diterapkan hingga kini masih sebatas “kumpul-angkut-buang” tanpa adanya proses pemilahan, daur ulang maupun pemanfaatan bernilai ekonomi.
“Masyarakat masih melihat sampah sebagai limbah, bukan sebagai sumber daya yang bisa menghasilkan nilai ekonomi. Padahal potensi kreativitas lokal sangat besar jika dikelola dengan pendekatan yang tepat,” ujarnya.
Penelitian yang berlangsung sejak Maret hingga Juni 2026 itu juga menemukan belum adanya bank sampah aktif, pelatihan pengolahan limbah, maupun komunitas kreatif yang mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai tambah di kawasan Samota.
Bahkan, sekitar 87 persen informan mengaku belum pernah memperoleh edukasi atau pelatihan mengenai pengelolaan sampah berbasis ekonomi kreatif.
Menurut Sri Rahayu, rendahnya kesadaran lingkungan masyarakat, keterbatasan fasilitas tempat sampah terpilah, serta belum adanya regulasi pengurangan penggunaan plastik sekali pakai menjadi tiga faktor utama yang menghambat perbaikan sistem pengelolaan sampah.
Selain itu, koordinasi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga dinilai masih berjalan secara parsial. Dinas Lingkungan Hidup lebih berfokus pada pengangkutan sampah, sementara Dinas Koperasi dan UMKM belum mengintegrasikan aspek lingkungan dalam pembinaan pelaku usaha.
PUSKAP juga merekomendasikan tiga langkah strategis yang dapat segera ditindaklanjuti, yakni meningkatkan edukasi lingkungan dan pelatihan pengolahan limbah bagi masyarakat serta UMKM, mengembangkan bank sampah dan program daur ulang, serta membangun tata kelola kolaboratif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Dr. Sri Rahayu menilai kawasan Samota sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat, mulai dari budaya gotong royong, tingginya antusiasme masyarakat terhadap pelatihan, hingga keberadaan UMKM yang dinamis.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah fasilitasi dan kebijakan yang berpihak pada lingkungan,” tegasnya.
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Kepala Bidang Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa, Aryan Perdana Putra, S.Si, menyatakan komitmennya untuk memperkuat edukasi lingkungan dan meningkatkan penyediaan fasilitas pengelolaan sampah di kawasan wisata.
“Kami siap bersinergi dengan OPD lain dan masyarakat untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih terpadu dan berkelanjutan,” katanya.
Ekspose hasil penelitian tersebut dihadiri Sekretaris Bapperida, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pariwisata, serta Dinas Koperasi dan UMKM. Pertemuan ditutup dengan kesepakatan untuk menindaklanjuti rekomendasi penelitian sebagai bagian dari program pembangunan daerah. (SR)






