Bayi Mati Lebam dan Menghitam, Keluarga Pasien Keberatan

oleh -2529 Dilihat

SUMBAWA BESAR, SR (05/01/2017)

Keluarga Mahmud dan Desi mengajukan protes terhadap pelayanan RSUD Sumbawa. Pasalnya, bayinya yang masih berumur 8 hari dicurigai meninggal secara tidak wajar. Bagian mata bayi yang belum diberi nama ini terlihat lebam dan menghitam, demikian dengan perutnya. Secara sepintas, kulitnya terlihat gosong. Perwakilan keluarga, Ramdan langsung menemui Direktur RSUD Sumbawa, dr. Selvi di ruang kerjanya. Paman sang bayi malang ini meminta klarifikasi. Sebab saat lahir fisiknya normal dan sehat, Rabu, 28 Desember 2016 lalu. Dan setiap harinya, kondisi bayi yang sedang dalam perawatan medis itu selalu didokumentasi. Namun Rabu, 4 Januari 2017, kondisi fisik bayi yang ditempatkan di dalam incubator sudah berubah. Wajahnya menghitam. Ketika jasadnya hendak dimandikan, penutup bagian perutnya sulit dibuka karena ada kapas yang lengket yang sebelumnya dipasang perawat RSUD. “Keluarga belum bisa menerima klarifikasi rumah sakit, dan kami berencana akan menempuh jalur hukum,” tegas Ramdan.

Dikonfrontir SAMAWAREA, Dokter Spesialis Anak RSUD Sumbawa, dr. Diani Dinar Santi, Sp.A, menuturkan bahwa bayi Ny. Desi lahir pada 28 Desember 2016. Riwayat lahirnya secara spontan dengan usia kehamilan prematur. Seharusnya itu usia kehamilannya 37 minggu minggu lebih, bayinya lahir di usia kehamilannya 29 minggu. Selain itu berat lahirnya sangat rendah yaitu 1.200 gram, jauh dari gambaran normal 2.500 gram. Pada saat bayinya lahir dalam kondisi tidak langsung menangis. Dalam bahasa medisnya tergolong aspeksia. Karena dinilai rentan, pihaknya melakukan perawatan intensif terhadap bayi itu. Di antaranya memberikan perawatan pertama dalam rangka menyelamatkan bayi ketika lahir dengan cara menghangatkan bayi, memposisikan, dan sebagainya. Setelah bayinya cukup stabil dipindahkan ke ruang intensif untuk bayi baru lahir yakni perawatan NICCU. Perawatan NICCU ini dilakukan selama delapan hari. “Saya merawat bayi ini terhitung sejak 1 Januari 2017, karena sebelumnya ada pergantian dengan dokter penanggungjawab pasien. Memang kondisi awal bayinya gerak lemah, menangisnya lemah, dan menyusunya tidak kuat, sehingga pemberian susu dilakukan melalui selang minum. Dan pada saat itu kondisi bayinya sudah kuning,” terangnya.

Ramdan, Keluarga pasien menemui Direktur RSUD dr. Selvi dan dokter Spesialis Anak, dr. Diani untuk mengajukan protes
Ramdan, Keluarga pasien menemui Direktur RSUD dr. Selvi dan dokter Spesialis Anak, dr. Diani untuk mengajukan protes

Bayi tersebut terdengar merintih karena sesak nafas. Bibir, tangan dan kakinya terlihat membiru, serta detak jantungnya yang kian cepat dan suhu badan yang dingin. Karenanya, bayi itu tetap dirawat dalam inkubator untuk dihangatkan yang dibantu pemberian bantuan oksigen yang semakin lama kian ditingkatkan. “Awalnya oksigen biasa kemudian menggunakan oksigen yang memakai tekanan. Atau istilahnya sipet. Kemudian dilakukan pototerapi terhadap bayi karena kondisinya kuning,” imbuhnya.

Saat hari kedelapan, lanjut dr. Diani, bayinya dipindahkan lagi. Karena kondisinya semakin sesak, bayi itu dipindahkan menggunakan oksigen yang tekanannya diganti dengan memakai alat. Tapi kondisi bayi semakin lemah, dan sesak nafas. Iapun melakukan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) kepada keluarga. Namun orang tuanya tidak datang tanpa alasan,” jelas dr. Diani.

Atas pertimbangan mengancam nyawa, pihaknya melakukan pemasangan alat di dalam ventilator, pemasangan infus dan alat lainnya. Setelah setengah jam menggunakan alat, barulah pihaknya bertemu dengan orang tua bayi. “Dalam perjalanan klinisnya memang bayinya belum ada perkembangan. Pemberian oksigen, infus dan bantuan peralatan untuk bayi telah dilakukan. Memang kondisinya tidak dapat dipertahankan sehingga bayi dinyatakan meninggal dunia pada 4 Januari pukul 20.30 Wita,” bebernya.

Dr. Diani membantah bayi dalam kondisi terbakar. Lebam dan menghitam di tubuh bayi menandakan adanya selaput pendarahan. Pendarahan yang pertama pada anak atau bayi ada di kulit. Ketika kondisi anak atau bayinya memberat secara klinis, pendarahannya semakin nyata, dan semakin masuk ke dalam pembuluh darah. “Awalnya bintik merah lalu berubah menjadi warna keunguan. Jadi bukan gosong, itu gambaran selaput darah,” ujarnya memberikan klarifikasi.

Kapan munculnya pendarahan itu ? dr. Diani menyatakan dalam perjalanan klinis atau saat bayi dirawat. Ia membantah hal itu disebabkan karena kurang cermatnya penanganan. Menurutnya, upaya maksimal sudah dilakukan. Dengan kondisi bayi baru lahir yang prematur dan berat badan yang rendah, secara teori sudah resiko terjadi kematian dalam 30 hari. “Dalam hal ini, dua hal itu sudah dimiliki oleh sang bayi. Saat lahir, sang bayi juga tidak memiliki jaringan lemak. Karena berat badannya sedikit, sehingga mudah dingin.

Kemudian, paru-parunya belum berkembang secara sempurna. Bayi tersebut juga kekurangan zat, sehingga untuk mengembangkan paru-paru itu tidak bisa. Pada saat keluarin nafas, tarik lagi, kolaps paru-parunya. Kempis-kembangnya tidak bagus,” tukasnya, seraya menambahkan pengawasan dan perawatan terhadap bayi dilakukan selama 24 jam. Datanya juga tetap terekam setiap enam jam sekali, sebagai upaya maksimal yang telah dilakukan. (JEN/SR)

hpn2026 nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *