JAKARTA, SR (10/12/2016)
“Generasi milinea harus diberikan pemahaman tentang nasionalisme kebangsaan. Pertanyaan generasi milenia apakah nasionalisme masih penting d iera saat ini ?. Kita berkewajiban menjawabnya dengan memberikan kontribusi untuk membimbing generasi milinea ini,” kata Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mohamad Sohibul Iman dalam acara Launching Lomba Penulisan Bertema Kebangsaan, Islam dan Patriotisme Kebangsaan 2017 yang dilaksanakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Acara yang digelar di Gedung Nusantara I lantai III Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/12) itu juga dihadiri Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (F-PKS), Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro serta Ketua Fraksi PKS di DPR, Jazuli Juwaini.
Presiden (PKS), biasa disapa Sohibul mengutip yang pernah diramalkan oleh John Neisbitt di awal 1990. Neisbitt menyebut era milinea sebagai the global paradoks. Neisbitt menyampaikan the biger the world economy, the most powerfull of molest element. “Jadi ia sampaikan sebuah paradoks dengan kemampuan negara-negara saat ini menjadi satu,” tutur Sohibul yang berbicara mengusung tema Nasionalisme Indonesia Menghadapi Tantangan Globalisasi.
Ia yang dinobatkan menjadi keynote speech menambahkan, seolah-olah sebuah perekonomian sangat besar sekali dimana orang mungkin menyangka dengan terintegrasinya semua negara dalam ekonomi global seolah-olah peran negara tidak relevan lagi dan semakin berkurang. Tapi justru menurut John Neisbeit kata dia, the most powerfull the most element. Dengan semakin besarnya ekonomi dunia menjadi semakin penting elemen terkecilnya. “Inilah yang disebut sebagai the global paradox,” kata Sohibul, seraya menambahkan bahwa hal demikian bukan saja berlaku di bidang ekonomi tetapi juga di bidang politik, ketatanegaraan.
Dengan demikian sebut Sohibul, sekalipun Indonesia sudah mengintegrasikan dirinya pada perekonomian global, Indonesia tidak boleh berprasangka bahwa urusan negara pasti selesai dengan keikutsertaan di dalam perekonomian global itu. Persoalan kepentingan negara Indonesia menjadi pekerjaan rumah semua rakyat untuk memperjuangkannya dalam konteks ekonomi global. “Kita saksikan sekarang ini banyak negara yang kemudian lebih berani tampil memperjuangkan kepentingan negaranya. Inilah yang disebut oleh John Neisbitt itu. Semakin meng-global justru semakin memperjuangkan apa yang menjadi kepentingan dari negaranya atau bahkan mungkin pribadinya sendiri,” tegas Sohibul yang menyebut sudut pandang demikian sangat penting.
Dari sisi ini menurutnya, jelas sekali bahwa nasionalisme itu penting dalam artian hanya negara tersebut yang bisa memperjuangkan kepentingan negaranya sendiri. Tidak bisa mengharapkan kepentingan Indonesia diperjuangkan bangsa lain. Di sinilah nasionalisme itu penting untuk memeperjuangkan di kancah internasional. Kalau global paradoks diterapkan di Indonesia yang sekarang menganut sistem semakin terbuka dirinya menilai, justru akan melahirkan identitas primordial. Jika hal ini tidak dikelola dengan semangat nasionalisme kata Sohibul, maka keberagaman Indonesia bukan menjadi kekuatan tapi menjadi perpecahan dan pertikaian yang hanya bisa dibendung dengan spirit nasionalisme seluruh rakyat Indonesia. (ZM/SR)
Keterangan Foto: M. Sohibul Iman, Keynote Speech di Ruang Fraksi PKS DPR, Kamis (8/12). (Foto: Zainuddin Muhammad–SAMAWAREA Biro Jakarta)






