SUMBAWA BESAR, samawarea.com (31 Oktober 2026) – Ketua Dewan Penyantun Universitas Samawa (UNSA), Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, memberikan pesan khusus kepada para wisudawan dan wisudawati UNSA agar tidak berhenti belajar setelah meraih gelar sarjana. Ia mendorong lulusan untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Tanah Samawa.
Saat menghadiri prosesi Wisuda Program Sarjana dan Pascasarjana UNSA, Sabtu (31/10), Prof Din Syamsuddin, mengatakan, belajar merupakan proses sepanjang hayat. Karena itu, para sarjana baru, khususnya lulusan S1, diharapkan tidak cepat berpuas diri dengan gelar akademik yang telah diraih.
Bahkan, Ia meminta agar para sarjana tidak terburu-buru menikah. Namun, bagi yang sudah menikah, ia menyampaikan pesan agar tidak menikah lagi, melainkan terus merancang dan membangun masa depan dengan melanjutkan pendidikan.
“Belajar dan belajar, termasuk di UNSA yang sudah mulai membuka program pascasarjana maupun keluar. Saya berpesan kepada sarjana baru S1, khususnya, jangan segera menikah. Bagi yang sudah terlanjur menikah, jangan menikah lagi, tetapi rancanglah masa depan. Lanjutkan studi Anda ke jenjang yang lebih tinggi,” ujarnya.
Prof Din menegaskan, Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat merupakan wilayah yang diberkahi Allah SWT dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Potensi tersebut harus dikelola secara optimal dan bertanggung jawab, sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Namun, pengelolaan SDA membutuhkan SDM yang mumpuni, berkualitas, serta memiliki kompetensi dan keahlian sesuai kebutuhan daerah.
Karena itu, keberadaan perguruan tinggi di Pulau Sumbawa, baik di Kabupaten Sumbawa maupun Kabupaten Sumbawa Barat, menjadi sebuah keniscayaan dalam mempersiapkan masa depan daerah.
Ia juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap pembangunan kawasan Indonesia Timur. Menurutnya, kawasan ini memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, meskipun jumlah penduduknya relatif lebih kecil dibandingkan wilayah Indonesia bagian barat, khususnya Pulau Jawa.
“Lebih dari 60 persen sumber daya alam Indonesia terdapat di kawasan timur Indonesia. Karena itu, daerah kita harus dipersiapkan dengan sumber daya manusia yang berkualitas,” ungkapnya.
Prof Din menyebut Tanah Samawa sebagai tanah yang memiliki kekayaan dan potensi luar biasa. Ia bahkan menyinggung istilah Intan Bulaeng sebagai gambaran kekayaan dan kemuliaan tanah Samawa yang harus diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, UNSA sebagai salah satu universitas tertua dan terbesar di Tanah Samawa dituntut terus berbenah, memperkuat kualitas akademik, serta mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Prof Din juga menyampaikan bahwa salah satu tugas Dewan Penyantun adalah membantu UNSA membangun jejaring dengan para pejabat dan tokoh nasional agar dapat memberikan perhatian terhadap pengembangan kampus.
Pada kesempatan itu, Prof Din juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sumbawa dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat beserta DPRD masing-masing yang selama ini memberikan dukungan terhadap pengembangan UNSA.
Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada PT Amman Mineral atas komitmennya mendukung pengembangan kampus melalui kerja sama yang telah dituangkan dalam nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).
Prof Din mengungkapkan, pihak PT Amman Mineral telah mengonfirmasi bantuan berupa satu unit videotron berukuran besar untuk UNSA.
“Saya mendapat konfirmasi bahwa PT Amman akan membantu kampus UNSA dengan sebuah videotron besar berukuran 6 x 10 meter. Mudah-mudahan segera dikirim ke kampus. Kalau tidak, wibawa saya bisa jatuh di hadapan Pak Rektor,” ucapnya disambut tawa para hadirin.
Lebih jauh, Prof Din berharap UNSA terus mengembangkan program studi baru, terutama bidang-bidang strategis yang dibutuhkan Tanah Samawa, seperti pertambangan, pertanian, dan peternakan.
Ia juga mendorong putra-putri terbaik daerah yang sedang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, termasuk di luar negeri, agar kelak kembali ke kampung halaman untuk membangun daerah dengan memperkuat institusi pendidikan tinggi yang ada.
Prof Din mencontohkan perkembangan alumni Pondok Pesantren Modern Internasional Dea Malela. Dalam kurun waktu enam hingga delapan tahun mendatang, ia optimistis semakin banyak alumninya yang meraih gelar doktor dari berbagai perguruan tinggi luar negeri.
Saat ini, menurutnya, para alumni tersebut tersebar di sejumlah negara, seperti Rusia, Amerika Serikat, Turki, China, Malaysia, Filipina, serta Mesir melalui Universitas Al-Azhar.
Ia berharap, setelah menyelesaikan pendidikan, sebagian dari mereka dapat kembali ke Tanah Samawa dan mengambil peran dalam memperkuat UNSA maupun lembaga pendidikan lainnya.
“Jangan berhenti di S1. Lanjutkan S2, kemudian S3. Kalau pulang nanti, sebagian bisa memperkuat UNSA,” pesannya. (SR)






