๐Œ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ ๐ฎ๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐“๐š๐ง๐š๐ก ๐’๐ž๐ง๐๐ข๐ซ๐ข

oleh -87 Dilihat

๐‘‡๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘”๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘› ๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž๐‘  ๐‘ค๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘›๐‘Ž ๐‘๐‘’๐‘š๐‘๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘ข๐‘›๐‘Ž๐‘› ๐‘€๐‘Ž๐‘™๐‘™ ๐‘‘๐‘– ๐‘ƒ๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž๐‘Ÿโ€ฏ๐‘†๐‘’๐‘˜๐‘’๐‘ก๐‘’๐‘›๐‘”

Olehโ€ฏMuisโ€ฏDebe
(Pegiat Jejaring Literasi ๐‘†๐‘–๐‘™๐‘Ž๐‘š๐‘œ๐ต๐‘Ž๐‘๐‘Ž)

Sebagai bagian dari putra daerah yang mengenal hirukโ€‘pikuk dan warna rona wajahโ€‘wajah di kawasan itu, rasanya menjadi tergelitik dan tak bisa berdiam diri membaca tulisan Muhammad Nur Fietroh (MNF), yang dimuat ๐‘†๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘ค๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘Ž.๐‘๐‘œ๐‘š edisi Sabtu 19 September 2026.

Dalam tulisan itu, MNF mengemukakan hal yang sangat mendasar dan patut kita perhatikan bersama: bahwa Pasar Seketeng bukan sekadar sebidang tanah yang siap dibangun apa saja โ€” melainkan tempat yang sudah puluhan tahun hidup, menjadi pusat pertemuan dan perdagangan, serta memiliki nilai yang tak ternilai harganya.

Adalah suatu penalaran yang jernih jika tulisan tersebut memperingatkan kita: jangan hanya melihat bangunan yang akan didirikan, melainkan pahami dulu apa yang dibutuhkan masyarakat dan siapa yang sebenarnya akan datang ke sana.

Berangkat dari kesepahaman dengan pandangan itu, kiranya perlu dilanjutkan dan diperdalam dari apa yang telah kemukakan.

Pasarโ€ฏSeketeng bukanlah sebidang tanah kosong yang siap diratakan dan diubah sesuka hati siapa pun yang memegang rencana pembangunan. Selama puluhan tahun, Pasar Seketeng telah tumbuh menjadi semacam โ€œkatup magnetโ€ โ€” tempat yang menarik orang dari segala penjuru: warga kota maupun penduduk desa dan dusun di sekitarnya, untuk datang berdagang, berbelanja, atau sekadar bertemu dan saling menyapa.

Lamaโ€‘kelamaan, di antara tawarโ€‘menawar dan percakapan itu, terbentuklah ikatan pertemanan, kebiasaan hidup, tata nilai, serta kearifan lokal yang tumbuh dan hidup bersama masyarakat itu sendiri โ€” sesuatu yang tak bisa dibangun dalam sekejap oleh proyek apa pun. Hal inilah yang menjadi dasar peringatan yang dikemukakan MNF โ€” bahwa nilai yang sudah ada ini jauh lebih berharga daripada apa pun yang akan dibangun menggantikannya.

๐‘ฒ๐’†๐’Ž๐’‚๐’‹๐’–๐’‚๐’ ๐‘บ๐’†๐’ƒ๐’†๐’๐’‚๐’“๐’๐’š๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐‘ฒ๐’Š๐’•๐’‚ ๐‘ฉ๐’–๐’•๐’–๐’‰๐’Œ๐’‚๐’

Gagasan membangun mall sebagai pusat perbelanjaan modern di kawasan itu memang terdengar meyakinkan, tampak sebagai lambang kemajuan yang patut disambut gembira. Semacam upaya menata kembali, merevitalisasi kawasan yang sudah lama berdiri agar tak tertinggal zaman. Namun di balik penampilan yang tampak indah dan meyakinkan itu โ€” persis seperti yang dipertanyakan MNF โ€” ada hal yang belum terjawab dengan cukup jelas dan jujur: apakah pembangunan demikian sungguhโ€‘sungguh lahir dari kebutuhan nyata masyarakat Sumbawa โ€” atau sekadar keinginan untuk ikut arus penampilan luar yang disebut modernisasi, tanpa sempat berhenti bertanya apakah hal itu benarโ€‘benar cocok dengan keadaan, kebutuhan, dan watak kita sendiri?

๐‘ฒ๐’†๐’”๐’†๐’๐’‹๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐‘ฑ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐‘ซ๐’Š๐’‘๐’†๐’“๐’‰๐’‚๐’•๐’Š๐’Œ๐’‚๐’

Dan di sini perlu ditambahkan lagi hal-hal yang belum banyak dibicarakan, namun sangat erat hubungannya dengan apa yang MNF kemukakan: yang paling dikhawatirkan dan patut kita renungkan bersama adalah risiko terjadinya โ€œkesenjangan budayaโ€.

Jika kita terburuโ€‘buru mencabut dan mengganti tatanan lama yang sudah berakar kuat di hati masyarakat, sementara tatanan baru belum sempat tumbuh berakar, belum memberi makna, belum terasa bermanfaat bagi kehidupan sehariโ€‘hari โ€” maka yang terjadi bukanlah kemajuan, melainkan kehilangan yang menyakitkan.

Nilaiโ€‘nilai lama terlanjur hilang dicabut, sedangkan yang baru belum dipahami dan belum dirasakan โ€” sehingga masyarakat menjadi doyong dan terhuyungโ€‘huyung, tak berpegangan, hanya sekadar meniru bentuk luar yang tampak megah tanpa jiwa, tanpa akar, tanpa jati diri yang sejati.

๐‘ซ๐’–๐’‚ ๐‘ฑ๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐‘ด๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’๐’ˆ๐’–๐’ ๐‘ฒ๐’†๐’Ž๐’‚๐’‹๐’–๐’‚๐’

Pada akhirnya, ada dua jalan yang sungguhโ€‘sungguh berbeda dalam membangun kemajuan suatu kota dan masyarakat โ€” hal yang juga menjadi inti pemikiran yang dikemukakan MNF: satu jalan yang bertumbuh secara alami โ€” dimulai dari kebutuhan yang nyata di tengah masyarakat, berkembang perlahan dan bertahap, seiring berjalannya waktu dan tumbuh dalam kehidupan sendiri.

Jalan yang lain adalah jalan rekayasa โ€” dimana semua fasilitas dan ikon modernitas dibangun terlebih dahulu meniru apa yang dilihat di tempat lain, lalu baru berusaha mencari, mengajak, bahkan memancing masyarakat untuk datang memakainya.

Dan di sinilah pertanyaan terbesar yang MNF kemukakan โ€” dan patut kita jawab dengan jujur: manakah dari kedua jalan ini yang sungguhโ€‘sungguh akan menjaga jati diri kita, serta menguatkan โ€” bukan merusak โ€” ikatan budaya dan kemanusiaan yang telah tumbuh dan hidup di antara kita selama ini? Barangkali kita perlu ๐‘ ๐‘œ๐‘ค๐‘’ ๐‘ ๐‘Ž๐‘›๐‘ก๐‘’๐‘˜ ๐‘๐‘œ๐‘›๐‘”๐‘Žโ€ฏ๐‘๐‘–๐‘›๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘”. Bisa jadi jawabannya ada di rembulan.***
____________
Catatan kaki:

*.โ€ฏSantek: material atap tradisional yang terbuat dari bambu yang dibelah.

1.โ€ฏ๐‘†๐‘œ๐‘ค๐‘’โ€ฏ๐‘ ๐‘Ž๐‘›๐‘ก๐‘’๐‘˜โ€ฏ๐‘๐‘œ๐‘›๐‘”๐‘Žโ€ฏ๐‘๐‘–๐‘›๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘”: ungkapan lama Sumbawa

soweโ€ฏ=โ€ฏsibak/singkap; santekโ€ฏ=โ€ฏatap (bilah bambu);
bongaโ€ฏ= tengadah/ mendongak ; bintangโ€ฏ=โ€ฏbintang.

Artinya:โ€ฏsibak/ singkaplah atap (bilah bambu) tengadah/ mendongaklah menatap bintang (di angkasa).

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *