Tim BESTARI SAINTEK UTS dan Mitra Kembangkan Inovasi Xerofertilizer untuk Pertanian Jagung Lahan Kering Sumbawa

oleh -48 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (18 September 2026) — Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) melalui Program BESTARI Saintek terus mengembangkan Xerofertilizer, inovasi pupuk hayati berbasis bioteknologi hijau yang diproyeksikan menjawab tantangan pertanian lahan kering, khususnya untuk pertanian jagung cerdas iklim di kawasan Indonesia Timur, dengan fokus utama di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Program penelitian dan pengembangan ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Pendanaan Program BESTARI Saintek. Program ini berlangsung selama April 2026 hingga April 2027 dan melibatkan kolaborasi lintas perguruan tinggi serta mitra industri, termasuk PT Archipelago Biotechnology Indonesia (Archi Biotech).

Riset ini dipimpin Ali Budhi Kusuma, S.Si., M.Sc., Ph.D. dari UTS selaku Ketua Periset Tim BESTARI. Tim riset diperkuat Anriansyah Renggaman, S.Si., M.Sc., Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Hesty Nurul Utami, S.P., M.M., Ph.D. dari Universitas Padjadjaran (UNPAD), serta Dr. Baso Manguntungi, S.Si., M.Si. dari Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR).

Dari UTS, tim didukung dua asisten peneliti, yakni Marselianti, S.P., M.Ling. dan Kurniawan Eka Putra, S.Biotek., M.Sc., serta Rustiana, S.E., M.M.Inov. sebagai administrator.

Tim mengusung konsep Ekosistem Inovasi Xerofertilizer Berbasis Bioteknologi Hijau: Skema Living Lab untuk Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan di Kawasan Indonesia Timur.

Jagung sebagai Komoditas Strategis di Lahan Kering

Pilihan jagung sebagai fokus pengembangan Xerofertilizer bukan tanpa alasan. Jagung merupakan komoditas pangan strategis kedua setelah padi, sekaligus pakan utama bagi industri peternakan nasional. Di wilayah Indonesia Timur, terutama NTB, NTT, dan Sulawesi Barat, jagung adalah tanaman pokok yang dibudidayakan hampir di seluruh lahan kering dengan pola tanam bergantung pada curah hujan.

Kendala utama pertanian jagung di lahan kering Sumbawa adalah ketersediaan air yang terbatas, curah hujan tidak menentu, dan kesuburan tanah yang rendah—terutama nitrogen dan fosfor. Petani di Sumbawa, misalnya, hanya mampu melakukan usaha tani 1–2 kali musim tanam setahun karena sepenuhnya bergantung pada suplai air hujan.

Di sinilah Xerofertilizer menemukan relevansinya. Sebagai pupuk hayati, ia menawarkan pendekatan biologis untuk memperbaiki kesuburan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi penyerapan air dan nutrisi oleh tanaman jagung tanpa ketergantungan pada input kimia yang memperparah degradasi lahan.

Pertanian Jagung Cerdas Iklim: Adaptasi terhadap Realitas Pemanasan Global (El Nino)

Pertanian cerdas iklim (Climate-Smart Agriculture) adalah pendekatan yang memungkinkan petani meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim. Pemerintah Indonesia dan PBB telah meluncurkan program bersama untuk melatih setidaknya 15.000 petani kecil dalam praktik pertanian cerdas iklim, dengan fokus pada tanaman tahan kekeringan—termasuk jagung.

Xerofertilizer sejalan dengan logika ini. Pupuk hayati bekerja dengan memanfaatkan mikroorganisme xerofilik lokal untuk meningkatkan efisiensi penyerapan air dan nutrisi oleh tanaman jagung. Dalam kondisi lahan kering, kemampuan tanah menahan air menjadi faktor kritis. Pendekatan biologis seperti ini memperkuat kapasitas tanah untuk menyimpan kelembapan—sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh pupuk kimia yang justru dapat mempercepat pencucian unsur hara.

BMKG dan Kementerian Pertanian telah menegaskan pentingnya integrasi informasi iklim ke dalam perencanaan pertanian, mulai dari penentuan waktu tanam hingga pengelolaan air. Teknologi seperti Xerofertilizer melengkapi upaya ini dengan memberikan solusi di tingkat tanah—dimensi yang sering terabaikan dalam diskusi pertanian cerdas iklim yang lebih berfokus pada prediksi cuaca dan irigasi.

Pertanian Jagung Regeneratif: Memperbaiki Tanah, Bukan Sekadar Mengeksploitasinya

Pertanian jagung regeneratif bergerak melampaui “keberlanjutan” menuju perbaikan aktif kesehatan tanah, peningkatan keanekaragaman hayati, dan penguatan siklus air. Data Kementerian Pertanian menunjukkan dua pertiga wilayah Indonesia memiliki kandungan karbon tanah yang rendah, yang menandakan rendahnya kesuburan dan meningkatnya kerentanan terhadap degradasi.

Pupuk hayati seperti Xerofertilizer adalah instrumen regeneratif yang tepat. Alih-alih menggantikan mikroba tanah dengan bahan kimia, ia memberi nutrisi pada ekosistem mikroba yang sudah ada. Praktik regeneratif lain di Indonesia—seperti penggunaan biochar dari tongkol jagung atau pemanfaatan rumput laut sebagai bioinput di Sumbawa Barat—menunjukkan bahwa pendekatan berbasis biologi dan siklus lokal sedang tumbuh. Xerofertilizer memperkuat tren ini dengan fokus spesifik pada pertanian jagung lahan kering.

Desa Sebasang, Kabupaten Sumbawa, Jadi Living Lab

Dalam riset Tim BESTARI UTS, Desa Sebasang tidak diposisikan sekadar sebagai lokasi pengujian. Desa tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan proses penelitian dengan realitas pertanian jagung. Kondisi tanah, ketersediaan air, cuaca, perkembangan tanaman hingga praktik budidaya petani menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Di Desa Sebasang, tim bekerja sama dengan berbagai kelompok tani jagung setempat, salah satunya adalah Kelompok Tani Orong Jontal yang bertindak sebagai salah satu mitra dalam proyek ini.

Ketua Periset Tim BESTARI UTS, Ali Budhi Kusuma, mengatakan bahwa konsep ini tidak hanya berorientasi pada pengembangan produk pupuk hayati, tetapi juga membangun ekosistem inovasi yang mempertemukan perguruan tinggi, industri, petani, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan. Ia bersama tim memulai pengembangan dengan memahami kondisi dan kebutuhan pengguna akhir.

Salah satu tahapan awal implementasi proyek dilakukan melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dengan tujuan untuk pemetaan stakeholder dan analisis kebutuhan pengguna akhir pada 20 Mei 2026 di Aula Desa Sebasang.

FGD tersebut menjadi bagian penting dalam membangun living lab Xerofertilizer. Tim bersama petani dan mitra membahas kondisi pertanian jagung, kebutuhan pengguna, tantangan di lapangan, serta pihak-pihak yang memiliki peran dalam pengembangan dan penerapan inovasi.

Pendekatan ini menempatkan petani bukan sekadar sebagai penerima teknologi, melainkan sebagai bagian dari proses pengembangan. Sebab, teknologi yang memiliki performa baik secara ilmiah belum tentu sesuai dengan kondisi, kebiasaan, kebutuhan dan kemampuan pengguna di lapangan. Karena itu, memahami kebutuhan petani sejak awal menjadi bagian penting dari perjalanan pengembangan Xerofertilizer.

Tahapan tersebut kemudian dilanjutkan pada 21–22 Mei 2026 melalui penyusunan draft dokumen Design Process Engineering Details (DPED) bersama petani dan mitra. Masukan dari pengguna dan stakeholder menjadi bahan dalam menentukan arah pengembangan program.

Dalam model ini, inovasi tidak dirancang secara satu arah. Peneliti membawa pengetahuan ilmiah, industri membawa pengalaman pengembangan dan formulasi produk, sedangkan petani menghadirkan pengalaman nyata mengenai kondisi pertanian jagung. Ketiga perspektif tersebut kemudian dipertemukan dalam satu proses pengembangan.

Inilah semangat utama konsep living lab Xerofertilizer yang kami usung, yakni teknologi tidak hanya dikembangkan untuk masyarakat, tetapi dikembangkan bersama masyarakat. Hasil pengamatan di lapangan kemudian dikembalikan kepada tim penelitian sebagai masukan untuk penyempurnaan teknologi.

Dengan demikian, hubungan antara laboratorium dan lapangan berlangsung dua arah. Pengetahuan dari laboratorium dibawa ke lapangan. Sebaliknya, pengalaman dari lapangan menjadi masukan bagi penelitian.

Salah satu fokus utama proyek ini adalah pengembangan formulasi dan uji pengguna Xerofertilizer, pupuk hayati yang memanfaatkan potensi mikroorganisme xerofilik lokal yang mampu bertahan pada kondisi lingkungan sangat kering.

Gagasannya berangkat dari karakter pertanian lahan kering. Ketika tanaman jagung harus beradaptasi dengan keterbatasan air dan kondisi lingkungan yang tidak selalu ideal, teknologi pendukung pertanian juga perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan karakter lingkungan tersebut.

Namun, perjalanan dari mikroorganisme menjadi produk bukan perkara sederhana. Mikroorganisme potensial harus melalui proses penelitian, pengujian, formulasi dan evaluasi. Viabilitas mikroorganisme, stabilitas formulasi, bahan pembawa, metode aplikasi hingga performa di lapangan menjadi aspek yang harus diperhatikan agar inovasi tersebut tidak hanya menarik secara ilmiah, tetapi juga memiliki peluang untuk digunakan.

Archi Biotech Jembatani Riset dan Hilirisasi

Pada tahapan inilah keterlibatan PT Archipelago Biotechnology Indonesia (Archi Biotech) menjadi strategis. Sebagai mitra industri start-up, Archi Biotech berperan dalam pengembangan dan formulasi Xerofertilizer.

Kolaborasi tersebut mempertemukan kekuatan perguruan tinggi dalam penelitian dan pengujian dengan pengalaman industri dalam pengembangan teknologi dan produk.

Dengan demikian, pengembangan Xerofertilizer tidak berhenti pada pertanyaan mengenai potensi mikroorganisme. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi formulasi yang stabil, praktis dan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut—khususnya untuk mendukung pertanian jagung cerdas iklim di lahan kering.

Pengujian Greenhouse dan Demplot

Setelah melalui tahapan FGD dan penyusunan DPED, pengembangan Xerofertilizer kini berlanjut pada pengujian skala greenhouse dan demplot. Tahapan ini menjadi ruang pembuktian apakah inovasi yang dikembangkan mampu memberikan respons yang sesuai ketika diterapkan pada kondisi pertanian jagung di lapangan.

Pengujian lapangan memungkinkan tim memperoleh data yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh melalui pengujian laboratorium. Respons tanaman jagung, kondisi lingkungan, metode aplikasi hingga pengalaman pengguna menjadi bagian dari evaluasi.

Hasil pengamatan tersebut nantinya menjadi bahan untuk memperbaiki formulasi maupun pendekatan aplikasi Xerofertilizer.

Konteks Indonesia Timur: Di Mana Inovasi Ini Paling Dibutuhkan

Indonesia Timur—terutama NTB dan NTT—adalah wilayah di mana tantangan lahan kering paling akut, tetapi juga di mana potensi pertanian jagungnya belum tergarap optimal.

Kabupaten Bima, Sumbawa Barat, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Kupang dan Sumba Tengah memiliki tanah yang secara karakteristik tergolong produktif, terutama yang berkembang dari bahan vulkanik dan aluvial-koluvial. Masalahnya bukan pada tanahnya, melainkan pada manajemen air dan kesuburan yang belum optimal.

UTS sendiri memiliki rekam jejak dalam pengembangan pertanian lahan kering di wilayah ini. Pada 2025, UTS terlibat dalam program pengelolaan lahan kering berkelanjutan di Desa Kakiang, Sumbawa, yang merupakan bagian dari inisiatif FOLU Net Sink 2030 dengan dukungan Pemerintah Norwegia.

UTS juga telah berkolaborasi dengan UNIDO untuk mengembangkan pertanian organik bersertifikasi di NTB.

Xerofertilizer memperkuat posisi UTS sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mengkaji, tetapi menghasilkan teknologi tepat guna untuk konteks lokal. Inovasi ini menjawab kebutuhan yang nyata: petani jagung lahan kering di Indonesia Timur membutuhkan input pertanian yang terjangkau, berbasis sumber daya lokal, dan tidak memperburuk degradasi tanah yang sudah terjadi.

Penutup

Program pengembangan ekosistem inovasi Xerofertilizer melalui BESTARI Saintek berlangsung selama satu tahun, yang dimulai dari 29 April 2026 hingga 28 April 2027.

Program ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Pendanaan Program BESTARI Saintek. Karena itu, FGD dan penyusunan DPED yang telah dilakukan bukan merupakan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian panjang pengembangan inovasi.

Bagi kawasan Indonesia Timur yang memiliki karakteristik pertanian lahan kering dan tantangan lingkungan tersendiri, pendekatan tersebut dinilai penting. Potensi mikroorganisme, pengetahuan petani, kapasitas perguruan tinggi dan kemampuan industri dapat dipertemukan untuk menghasilkan solusi yang lebih kontekstual—khususnya untuk pertanian jagung cerdas iklim.

Dari Desa Sebasang, proses tersebut sedang dibangun. Dimulai dari pemetaan stakeholder dan kebutuhan pengguna, diterjemahkan melalui perencanaan bersama, pengembangan teknologi hingga pengujian di greenhouse dan demplot.

Harapannya, Xerofertilizer tidak hanya menjadi produk hasil penelitian, tetapi juga menjadi contoh bagaimana bioteknologi hijau dapat dikembangkan melalui kolaborasi dan living lab untuk menjawab tantangan pertanian jagung lahan kering secara berkelanjutan dengan pendekatan cerdas iklim, regeneratif, dan kontekstual untuk Indonesia Timur. (SR)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *