Wabup Ajak 99 Tokoh Tana Samawa Rumuskan Nilai untuk Sumbawa Masa Depan

oleh -49 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (26 September 2026) — Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, menghadiri kegiatan Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa yang digelar di Pondok Pesantren Dea Malela, Kecamatan Lenangguar, Jumat (25/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus refleksi bersama sejumlah tokoh Tana Samawa untuk membicarakan nilai, jati diri, dan arah masa depan masyarakat Sumbawa.

Hadir dalam kegiatan itu pendiri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A., Rektor Universitas Samawa Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar, M.Pd., Ustadz H. Yadi Surya Diputra, S.Sos., M.A. (Ustadz Suryo), serta sejumlah tokoh Tana Samawa.

Dalam sambutannya, Wabup Ansori menegaskan bahwa Silatulfikri tidak boleh dimaknai sebatas forum silaturahmi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menyatukan hati dan pikiran dalam merumuskan nilai-nilai yang dapat menjadi pegangan masyarakat Sumbawa menghadapi masa depan.

“Yang kita pikirkan bukan hanya Sumbawa hari ini, tetapi Sumbawa seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Menurut Wabup, nilai-nilai Tau Samawa tidak cukup hanya dituangkan dalam dokumen atau dibicarakan dalam forum. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, katanya pembangunan daerah tidak hanya berbicara mengenai kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter serta jati diri masyarakat.

Wabup menyebut sejumlah indikator menunjukkan Sumbawa terus bergerak maju. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Sumbawa tercatat sebesar 4,12 persen. Sementara tingkat kemiskinan turun menjadi 11,79 persen dan tingkat pengangguran terbuka berada pada angka 2,60 persen.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan tidak semata-mata dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi.

“Pembangunan bukan hanya tentang seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang tumbuh. Kita harus tetap tahu dari mana kita berasal. Taket ko nene, kangila boat lenge harus tetap menjadi kompas,” katanya.

Wabup berharap Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa tidak berhenti pada upaya menggali kembali nilai-nilai masa lalu. Forum tersebut diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pijakan untuk menjawab berbagai tantangan di masa depan.

Menurutnya, tidak seluruh hal baru harus diterima begitu saja. Masyarakat membutuhkan kemampuan untuk menyaring berbagai perubahan dengan tetap berpegang pada nilai dan jati diri yang dimiliki.

“Tidak semua yang baru harus diterima. Kita membutuhkan filter. Karena itu, mari bertanya, nilai apa dari masa lalu yang masih relevan untuk menghadapi masa depan,” tegasnya. (SR)

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *