SUMBAWA BARAT, samawarea.com (24 Agustus 2026) – Proyek smelter tembaga PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) telah rampung 100 persen. Seluruh pekerjaan konstruksi serta penyelesaian item-item punch list yang berkaitan dengan proses komisioning dan menjadi bagian dari ruang lingkup kontrak telah diselesaikan.
Meski smelter tembaga AMMAN telah beroperasi selama lebih dari satu tahun, pencapaian tersebut menjadi tonggak penting karena fasilitas itu telah memenuhi seluruh uji jaminan kinerja (performance guarantee test) sebagaimana dipersyaratkan dalam kontrak. Dengan demikian, smelter secara resmi memasuki fase operasi jangka panjang.
Presiden Direktur AMMAN, Arief Sidarto, mengatakan rampungnya proyek smelter merupakan pencapaian penting yang lahir dari dedikasi dan kolaborasi berbagai pihak dalam membangun salah satu kompleks smelter tembaga dan pemurnian logam mulia terintegrasi yang canggih.
“Rampungnya proyek smelter ini merupakan pencapaian penting bagi AMMAN. Di baliknya terdapat kerja keras, ketangguhan, dan kolaborasi yang kuat dari seluruh karyawan serta para mitra kami dalam menghadapi berbagai tantangan selama proses pembangunan dan komisioning,” ujar Arief.
Menurutnya, beroperasinya smelter juga menegaskan komitmen AMMAN dalam mendukung agenda hilirisasi nasional. Ke depan, perusahaan berharap ekosistem kebijakan yang mendukung daya saing industri pengolahan dan pertambangan dalam negeri terus diperkuat agar Indonesia mampu memaksimalkan manfaat hilirisasi sekaligus tetap kompetitif menghadapi dinamika global.
Chairman NFC, Liu Yu, turut menyampaikan bahwa keberhasilan penyelesaian proyek smelter AMMAN mencerminkan kuatnya kolaborasi internasional dalam mendukung pengembangan industri pengolahan mineral berskala besar dan bernilai tambah tinggi.
Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), smelter tembaga AMMAN dirancang mengolah hingga 900.000 metrik ton konsentrat per tahun yang berasal dari tambang Batu Hijau dan ke depan juga dari tambang Elang.
Kompleks terintegrasi tersebut akan menghasilkan katoda tembaga berkualitas tinggi, emas, perak, asam sulfat dan selenium. Produk-produk tersebut memiliki peran penting bagi berbagai sektor strategis, mulai dari energi terbarukan, kendaraan listrik, teknologi digital hingga manufaktur berteknologi tinggi.
Dengan dukungan teknologi pengolahan terkini dan sistem pengelolaan lingkungan, fasilitas tersebut dirancang untuk menghasilkan tingkat pemulihan logam yang optimal, meningkatkan efisiensi energi, memperkuat keandalan operasional serta mendukung pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Pencapaian tersebut sekaligus menandai fase baru bagi AMMAN sebagai perusahaan yang terintegrasi dari sektor pertambangan hingga pengolahan mineral. Kehadiran smelter di KSB juga memperkuat ekosistem hilirisasi nasional dan meningkatkan nilai tambah mineral Indonesia di pasar global.
KSB Mulai Membidik Industri Turunan
Rampungnya smelter tidak lantas menjadi akhir dari proses hilirisasi di KSB. Justru, selesainya pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral menjadi titik awal bagi pemerintah daerah untuk mendorong tumbuhnya berbagai industri turunan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumbawa Barat, dr. Hairul Jibril, mengatakan pengembangan industri turunan akan terus berproses dan menjadi bagian dari arah pembangunan daerah maupun nasional dalam jangka panjang.
“Ini terus berproses. Industri turunannya menjadi bagian dari arah pembangunan yang direncanakan, sesuai dengan RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2024–2029,” ungkapnya.
Menurut Hairul, keberadaan industri turunan harus dirancang secara terarah dan berkelanjutan. Smelter diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan mineral, tetapi mampu menjadi motor penggerak bagi tumbuhnya berbagai sektor ekonomi baru di KSB.
Pengembangan tersebut diharapkan memberikan dampak luas bagi masyarakat, mulai dari terbukanya lapangan pekerjaan, tumbuhnya pelaku usaha lokal, berkembangnya UMKM, hingga meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemkab KSB, lanjutnya, akan terus melakukan koordinasi serta menyiapkan berbagai kebutuhan yang mendukung terbentuknya kawasan industri dan ekosistem hilirisasi. Langkah tersebut dinilai penting agar potensi sumber daya mineral daerah mampu memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Dengan selesainya pembangunan smelter, KSB kini memasuki tahapan baru dalam pengembangan industri berbasis hilirisasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan industri turunan tumbuh secara nyata dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu bagian penting dalam menghadapi perkembangan industri tersebut.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sumbawa Barat, Selamet Riadi S.PI,.M.Si mengatakan keterlibatan tenaga kerja lokal di smelter saat ini telah mencapai sekitar 48 persen.
“Untuk tenaga kerja KSB di smelter sudah mencapai 48 persen. Saat ini kita sedang mengirim ratusan masyarakat KSB untuk mengikuti pelatihan guna menyiapkan skill sesuai kebutuhan smelter,” katanya.
Menurut Selamet, PT AMMAN bersama para mitranya juga terbuka terhadap koordinasi dengan pemerintah daerah dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kerja.
“Untuk kebutuhan tenaga kerja di smelter, PT AMMAN dan mitra sangat terbuka dengan kita pemerintah sehingga kita sangat siap memenuhi kebutuhan smelter dan kebutuhan industri turunannya seperti industri pupuk, semen, baterai dan lain lain nantinya,” ujarnya.
Langkah peningkatan kompetensi tersebut menjadi penting agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan industri, tetapi mampu mengambil peran sebagai tenaga kerja terampil maupun pelaku usaha yang terhubung dengan rantai pasok industri.
DPRD NTB Dorong Grand Design Hilirisasi
Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi NTB Komisi IV yang membidangi sektor ESDM, Fakhruddin, menilai rampungnya smelter AMMAN merupakan titik balik bagi perekonomian NTB.Namun, menurutnya, keberadaan smelter belum otomatis berarti kemenangan ekonomi bagi masyarakat NTB.
“Rampungnya smelter adalah titik balik ekonomi NTB, tetapi belum otomatis menjadi kemenangan ekonomi rakyat NTB,” tegasnya.
Ia menilai kemenangan baru benar-benar terjadi apabila Sumbawa Barat tidak hanya menjadi tempat mengambil dan mengolah mineral, tetapi berkembang menjadi pusat industri, pusat tenaga kerja terampil, pusat UMKM pemasok industri dan pusat hilirisasi mineral di NTB.
Karena itu, Fakhruddin mendorong DPRD NTB bersama pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk mulai menyusun sebuah “Grand Design Hilirisasi Sumbawa Barat 2026–2045”.
Menurutnya, desain besar tersebut perlu melibatkan Pemprov NTB, Pemkab KSB, pemerintah pusat dan AMMAN agar pembangunan setelah smelter tidak berhenti pada pertumbuhan fasilitas industri.
“Setelah smelter selesai, yang tumbuh bukan hanya pabriknya, tetapi kesejahteraan masyarakatnya,” ujarnya.
Fakhruddin juga mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang harus diantisipasi dalam pengembangan industri besar di KSB.
Pertama, KSB jangan sampai menjadi daerah yang kaya sumber daya tetapi masyarakatnya tidak ikut menikmati peningkatan kesejahteraan. Karena itu, indikator kesejahteraan masyarakat harus menjadi ukuran keberhasilan hilirisasi.
Kedua, industri jangan berkembang sebagai enclave, yakni perusahaan besar tumbuh sendiri sementara ekonomi masyarakat di sekitarnya tidak berkembang secara signifikan.
Ketiga, KSB perlu menghindari ketergantungan terhadap satu perusahaan. Pemerintah harus mampu menarik investasi dan industri lain agar struktur ekonomi daerah semakin beragam.
Keempat, tekanan lingkungan juga harus menjadi perhatian. Pertumbuhan industri harus diiringi dengan pengelolaan air, limbah, emisi, reklamasi, wilayah pesisir serta perlindungan kesehatan masyarakat.
Kelima, persoalan ketimpangan tenaga kerja harus diantisipasi. Jika tenaga kerja terampil lebih banyak berasal dari luar daerah sementara masyarakat lokal hanya memperoleh pekerjaan pada level bawah, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan sosial.
Struktur Ekonomi KSB Mulai Bergeser
Perkembangan industri pengolahan juga mulai terlihat dalam struktur ekonomi Kabupaten Sumbawa Barat.
Kepala BPS Sumbawa Barat, Ni Ketut Alit Rahayu Hendrayani, mengonfirmasi adanya pergeseran struktur PDRB atau struktur ekonomi KSB, khususnya pada sektor non-tambang.
Menurutnya, pengoperasian fasilitas smelter menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kontribusi sektor industri pengolahan.
“Industri pengolahan menanjak jauh pada 2025 karena keberadaan smelter,” ujarnya
Kehadiran fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral dinilai memperkuat fondasi ekonomi Sumbawa Barat untuk jangka panjang. Daerah mulai bergerak dari ketergantungan terhadap penjualan hasil tambang menuju kegiatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah lebih besar.
Pabrik pemurnian tersebut mengolah konsentrat tembaga menjadi katoda bernilai tinggi. Proses hilirisasi ini tidak hanya memperkuat pasokan industri nasional, tetapi juga menempatkan KSB dalam rantai pasok mineral strategis di pasar global.
“Hasil olahan smelter kini memberi nilai tambah besar bagi daerah,” tambahnya.
Dengan demikian, rampungnya smelter AMMAN bukan sekadar penanda selesainya sebuah proyek konstruksi berskala besar. Tonggak tersebut menjadi awal dari tantangan yang lebih besar bagi KSB dan NTB: memastikan hilirisasi mampu menciptakan industri turunan, tenaga kerja terampil, UMKM yang masuk dalam rantai pasok, investasi baru, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
KSB kini harus siap menjadi daerah indutri. Smelter telah berdiri dan beroperasi, sementara pekerjaan berikutnya adalah membangun ekosistem industri yang membuat nilai tambah mineral benar-benar dirasakan hingga ke tingkat masyarakat. (HEN/SR)






