AMMAN Bawa Literasi AI Berstandar ASEAN ke UTS, 100 Mahasiswa dan Dosen Ikuti Pelatihan

oleh -126 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (12 Agustus 2026) — PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) membawa program literasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berstandar regional ASEAN ke Pulau Sumbawa.

Program bertajuk AI Ready ASEAN tersebut digelar di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Rabu-Kamis, 12-13 Agustus 2026, dan diikuti 100 mahasiswa serta dosen.

Pelatihan ini menjadi bagian dari kolaborasi AMMAN bersama UTS untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi AI yang semakin masuk ke berbagai sektor kehidupan.

AI Ready ASEAN merupakan inisiatif literasi AI yang digagas dan didanai secara global oleh Google.org dan di tingkat regional ASEAN dimandatkan kepada ASEAN Foundation.

Program yang diluncurkan pada Oktober 2024 itu menargetkan pembekalan keterampilan dasar AI kepada 5,5 juta masyarakat di 10 negara anggota ASEAN.

Di Indonesia, pelaksanaan program melibatkan Kaizen Collaborative Impact sebagai salah satu mitra lokal. Hingga pertengahan 2026, program tersebut telah menjangkau lebih dari 100 institusi pendidikan di berbagai provinsi, mulai Sulawesi hingga Papua Barat.

Kehadiran AI Ready ASEAN di UTS menjadi langkah untuk memperluas akses literasi AI hingga ke Pulau Sumbawa. Materi pelatihan diberikan dalam empat sesi utama. Peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan AI Fundamental, meliputi konsep dasar, cara kerja, manfaat, hingga batasan teknologi AI.

Materi berikutnya adalah AI Usage & Implementation, yang membekali peserta dengan keterampilan menggunakan AI secara efektif, termasuk teknik prompting untuk membantu meningkatkan produktivitas.

Pada sesi lainnya, peserta mendapatkan materi Scam Ready ASEAN & Digital Safety yang berkaitan dengan keamanan digital, anti-hoaks, dan perlindungan data. Sementara materi Ethics and Privacy in AI Use membahas etika penggunaan AI, privasi, serta persoalan hak cipta.

Materi ini disampaikan langsung oleh para Trainer Kaizen yakni Rizki Ayu Febriana, ⁠Rizqika Alya Anwar dan ⁠Gita Pratiwi.

Untuk mengukur efektivitas pelatihan, peserta mengikuti pre-test sebelum pelatihan dan post-test setelah seluruh materi selesai diberikan.

Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN, mengatakan literasi AI menjadi kebutuhan karena teknologi tersebut kini sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, termasuk mahasiswa dan tenaga pendidik.

Menurutnya, AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan, bukan membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

“AI untuk membantu manusia, bukan untuk menggantikan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga kemampuan manusia dalam berpikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah meski pekerjaan sehari-hari semakin banyak dibantu teknologi AI.

“Jangan sampai kita semakin tergantung dengan AI sehingga menganggap AI bukan lagi asisten yang membantu kita, tetapi kita betul-betul bergantung kepada AI,” katanya.

Aji menjelaskan, AMMAN tidak ingin pelatihan berhenti pada kegiatan dua hari di UTS. Program tersebut akan dilanjutkan dengan skema Training of Trainers (ToT) sehingga pengetahuan yang diperoleh peserta dapat ditularkan lebih luas.

Program AI Ready ASEAN di NTB sendiri direncanakan berlangsung di tiga perguruan tinggi. UTS menjadi lokasi pembuka, kemudian dilanjutkan di Universitas Undova di Kabupaten Sumbawa Barat dan ditutup di Universitas Mataram (Unram).

“Pelatihan ini tidak berhenti di workshop ini saja. Kami juga melakukan training of trainer agar literasi ini bisa diperluas ke masyarakat dan sekolah-sekolah sekitar,” jelasnya.

Selain ToT, pada kegiatan tersebut dilakukan serah terima modul pelatihan kepada UTS. Selanjutnya, pihak universitas akan menunjuk perwakilan sebagai master trainer yang diharapkan dapat menyusun program lanjutan dan menyebarluaskan pemahaman mengenai AI di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Aji mengatakan kolaborasi dengan ASEAN Foundation juga membuka peluang lebih luas bagi perguruan tinggi lokal untuk terhubung dengan berbagai program berskala global.

“Universitas sebagai poros utama akademika dan ilmu pengetahuan diharapkan mendapatkan kesempatan memperoleh ilmu secara internasional,” katanya.

Aji menambahkan, pemanfaatan AI juga mulai dikembangkan di lingkungan AMMAN sebagai bagian dari transformasi digital perusahaan.

Menurut dia, AMMAN kini tidak hanya bergerak pada aktivitas pertambangan, tetapi telah mengintegrasikan berbagai proses dari hulu hingga hilir. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan teknologi, termasuk AI, semakin penting dalam pengelolaan data dan pengambilan keputusan.

Sejumlah departemen mulai menginisiasi penggunaan AI untuk mendukung pekerjaan, baik di sektor proses pertambangan maupun fungsi pendukung seperti teknologi informasi, supply chain management, dan keuangan.

Dalam proses pertambangan, teknologi tersebut antara lain dapat membantu meningkatkan efisiensi dan akurasi proses, termasuk dalam mendukung upaya meningkatkan recovery.

Namun, Aji menegaskan keputusan akhir tetap membutuhkan pengawasan dan pertimbangan manusia.

“Teknologi ini sangat membantu mempercepat pekerjaan dan pengambilan keputusan, walaupun tetap harus disupervisi oleh manusia,” ujarnya.

Sementara itu, Rizqika Alya Anwar selaku Trainer Kaizen menjelaskan, AI Ready ASEAN merupakan bentuk tanggung jawab untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai penggunaan AI yang aman, bijak, dan bertanggung jawab.

Kaizen Collaborative Impact merupakan salah satu mitra lokal yang ditunjuk ASEAN Foundation untuk melaksanakan program tersebut di Indonesia.

Menurut Rizqika, program AI Ready ASEAN lahir dari keresahan terhadap semakin masifnya penggunaan AI, sementara pemahaman masyarakat mengenai batasan dan risiko teknologi tersebut belum merata.

“Harapannya, 5,5 juta masyarakat di ASEAN bisa lebih terliterasi dan menggunakan AI secara bertanggung jawab dan bijak,” katanya.

Khusus pelatihan di UTS, materi diberikan selama dua hari dalam empat sesi. Selain pemahaman fundamental dan keterampilan penggunaan AI, peserta juga dikenalkan dengan sejumlah perangkat AI yang dapat dimanfaatkan civitas akademika. Hari kedua difokuskan pada etika penggunaan AI, keamanan digital, serta materi Scam Ready ASEAN.

Rizqika mengatakan pemahaman mengenai AI tidak cukup hanya sebatas kemampuan memberikan perintah atau prompt kepada teknologi tersebut. Masyarakat juga perlu memahami tanggung jawab serta perkembangan AI yang kini mulai mengarah pada penggunaan AI agent.

“AI bukan hanya bisa menjadi asisten, tetapi sekarang juga bisa menjadi AI agent yang dapat melakukan pekerjaan secara otomatis. Karena itu, pemahaman fundamental dan tanggung jawab dalam menggunakan AI menjadi penting,” jelasnya.

Rektor UTS yang diwakili Wakil Rektor IV UTS, Muhammad Iqbal, M.M.Inov, menyambut baik pelaksanaan AI Ready ASEAN di lingkungan kampus. Menurutnya, kehadiran program tersebut menjadi momentum penting bagi civitas akademika UTS untuk memahami perkembangan AI sekaligus meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkannya secara tepat.

Ia menilai perkembangan AI harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta pemahaman terhadap etika dan keamanan digital. Dengan demikian, mahasiswa maupun dosen tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkan AI sebagai alat untuk mendukung proses pembelajaran, penelitian, maupun pengembangan inovasi.

Iqbal Sanggo, sapaan akrabnya, berharap kerja sama UTS dengan AMMAN, ASEAN Foundation, dan para mitra lainnya dapat terus berkembang sehingga manfaat literasi AI tidak hanya dirasakan oleh 100 peserta pelatihan, tetapi dapat diteruskan kepada civitas akademika dan masyarakat yang lebih luas.

Ia juga menilai program Training of Trainers (ToT) menjadi langkah strategis untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat dikembangkan secara berkelanjutan di lingkungan UTS.

Untuk diketahui, dalam rangkaian pembukaan pelatihan, AMMAN dan UTS juga menandatangani Kesepakatan Bersama tentang Kerja Sama Program Pendidikan, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kemahasiswaan. Kerja sama tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi antara dunia industri dan perguruan tinggi dalam pengembangan sumber daya manusia di NTB.

Tentang AMMAN dan Program Pengembangan Masyarakat

PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) senantiasa melaksanakan berbagai Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) secara berkelanjutan. Inisiatif ini mencakup pengembangan kapasitas masyarakat untuk mengoptimalkan kesejahteraan serta potensi sumber daya manusia dan wilayah di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Kabupaten Sumbawa (KS).

Visi PPM AMMAN adalah “Komunitas di mana AMMAN beroperasi memiliki ekosistem sosial budaya yang dinamis dan menghasilkan peluang luas bagi semua untuk berkembang.”

Pelaksanaan PPM AMMAN berfokus pada tiga pilar utama, yaitu Human Capital Development (Pengembangan Sumber Daya Manusia), Economic Empowerment (Pemberdayaan Ekonomi), dan Sustainable Tourism (Pariwisata Berkelanjutan).

Human Capital Development berfokus pada program pendidikan dan kesehatan yang ditujukan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional AMMAN, tanpa memandang latar belakang. Pilar ini bertujuan untuk mendukung masyarakat agar memiliki kesejahteraan, kapasitas, dan kesempatan untuk menentukan arah masa depan yang lebih baik, sekaligus memperoleh penghidupan dan pekerjaan yang layak serta bermartabat. (*/Adv)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *