SUMBAWA BESAR, samawarea.com (14 Juli 2026) – Transformasi sektor pertanian di Kabupaten Sumbawa melalui Program UPLAND mendapat apresiasi langsung dari Tim International Fund for Agricultural Development (IFAD). Di hadapan Country Director IFAD, Mr. Hani Elsadani, Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP memaparkan bagaimana program tersebut telah mengubah wajah pertanian bawang merah sekaligus mengangkat kesejahteraan dan martabat petani lokal.
Pemaparan itu disampaikan saat menerima kunjungan lapangan Tim IFAD Program UPLAND di Ruang Rapat H. Hasan Usman, Lantai I Kantor Bupati Sumbawa, Selasa (14/7).
Bupati mengungkapkan, sebelum Program UPLAND berjalan, sebagian besar petani Sumbawa belum berani membudidayakan bawang merah karena keterbatasan modal, minimnya pengetahuan, serta tingginya risiko usaha. Akibatnya, banyak lahan pertanian justru disewakan kepada petani dari Kabupaten Bima.
“Awalnya petani dari Bima yang menanam bawang merah dengan menyewa lahan di Sumbawa. Sekarang, berkat Program UPLAND, petani Sumbawa sudah menjadi tuan di daerahnya sendiri,” ujar Bupati.
Menurutnya, dukungan Program UPLAND dengan nilai investasi sekitar Rp 105 miliar tidak hanya menghadirkan pembangunan infrastruktur pertanian, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir petani melalui pendampingan intensif, penggunaan pupuk organik, hingga peningkatan kapasitas budidaya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir. Ni Wayan Rusmawati, M.Si melaporkan, Program UPLAND tahap pertama pada 2023–2024 berhasil melampaui target pengembangan lahan, dari 800 hektare menjadi 853 hektare. Selanjutnya, tahap kedua yang berlangsung pada 2025–2026 mencakup pengembangan seluas 300 hektare.
Selama enam tahun pelaksanaan, Program UPLAND telah memberikan manfaat kepada 1.838 kepala keluarga petani. Berbagai fasilitas yang dibangun meliputi 22,5 kilometer Jalan Usaha Tani, 495 unit infrastruktur air yang terdiri atas 441 sumur dangkal dan 54 sumur dalam, serta bantuan 287 unit alat dan mesin pertanian.
Tak hanya itu, program juga menyalurkan 1.147 ton benih bawang merah untuk pengembangan lahan seluas 1.148 hektare yang melibatkan 143 kelompok tani di 19 kecamatan dan 51 desa.
Dampak ekonomi program pun sangat terasa. Budidaya bawang merah kini mampu memberikan keuntungan bersih sekitar Rp 100 juta hingga Rp 190 juta per hektare setiap musim tanam. Dengan dua kali musim tanam dalam setahun, pendapatan petani bahkan berpotensi melampaui Rp 200 juta.
Keberhasilan tersebut tercermin dari kisah sejumlah petani. Pak Ragif berhasil meraih keuntungan hingga Rp 445 juta. Ibu Erliyanti memperoleh laba sekitar Rp 350 juta yang digunakannya untuk mewujudkan impian menunaikan ibadah umrah. Petani lainnya mampu membangun sumur bor hingga rumah permanen dari hasil usaha bawang merah.
Atas capaian tersebut, Country Director IFAD, Mr. Hani Elsadani, menyampaikan apresiasi terhadap keberhasilan pelaksanaan Program UPLAND di Kabupaten Sumbawa. Menurutnya, hasil yang dicapai menunjukkan kuatnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun sektor pertanian yang berkelanjutan.
Ia berharap keberhasilan Sumbawa dapat menjadi model bagi daerah lain dalam meningkatkan produktivitas pertanian, kesejahteraan petani, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menutup pertemuan, Bupati Jarot menegaskan bahwa ukuran keberhasilan Program UPLAND bukan semata pembangunan fisik maupun besarnya serapan anggaran, melainkan lahirnya petani yang mandiri dan percaya diri mengelola lahannya sendiri.
“UPLAND telah mengangkat martabat petani Sumbawa. Hari ini mereka tidak lagi menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama yang mampu mengembangkan bawang merah sebagai komoditas unggulan dan menikmati manfaat ekonominya,” pungkas Bupati. (SR)






