SUMBAWA BARAT, samawarea.com (12 Agustus 2026) – Setiap detik, jutaan liter air laut berdenyut di Teluk Benete dan Teluk Senunu. Ombak datang silih berganti, memecah bibir pantai, lalu kembali ke samudra. Bagi sebagian orang, laut hanyalah bentang biru yang membingkai pesisir Sumbawa Barat.
Namun bagi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), hamparan air asin itu menyimpan jawaban atas satu pertanyaan penting, bagaimana memenuhi kebutuhan air industri tanpa mengurangi hak masyarakat atas air tawar?
Jawabannya tidak ditemukan di dalam perut bumi, melainkan di permukaan laut. Di tengah ekspansi industri pertambangan dan pembangunan fasilitas peleburan tembaga (smelter), kebutuhan air meningkat tajam. Smelter, pembangkit listrik, hingga terminal regasifikasi LNG membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar setiap hari.
Banyak industri memilih memanfaatkan air tanah. Namun AMMAN mengambil jalan berbeda. Perusahaan membangun sistem desalinasi yang mengubah air laut menjadi air bersih, lalu memurnikannya kembali melalui proses demineralisasi (metode pengolahan air untuk menghilangkan seluruh kandungan garam mineral terlarut (ion) hingga mendekati nol), agar sesuai dengan kebutuhan operasional industri.
Pilihan tersebut bukan sekadar keputusan teknis, melainkan bagian dari strategi keberlanjutan. Perusahaan membangun fasilitas desalinasi yang mengubah air laut menjadi air bersih, kemudian memurnikannya kembali melalui proses demineralisasi sehingga memenuhi standar untuk kebutuhan operasional industri.
Pilihan itu bukan semata keputusan teknis, melainkan bagian dari komitmen menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan kelestarian sumber daya air.
Di Sumbawa Barat, air tanah memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar sumber air. Sumur bor, sumur gali, dan mata air masih menjadi tumpuan kehidupan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lebih dari 94 persen rumah tangga telah menikmati akses terhadap air minum layak, sementara sektor pertanian yang menjadi penopang ekonomi daerah juga sangat bergantung pada keberlanjutan cadangan air bawah tanah.
Kesadaran itulah yang mendorong AMMAN mencari sumber alternatif.
Sejak pertengahan 2024, Pabrik Desalinasi Smelter mampu menghasilkan sekitar 6.000 meter kubik air desalinasi setiap hari, serta 1.500 meter kubik air demineralisasi. Air tersebut menjadi pasokan utama bagi operasional smelter, pembangkit listrik siklus gabungan berkapasitas 450 megawatt, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Tidak berhenti di situ, perusahaan juga tengah mengembangkan fasilitas desalinasi di Sejorong dengan kapasitas sekitar 4.200 meter kubik per hari guna memperkuat ketahanan pasokan air di masa mendatang.
Menurut Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, pemanfaatan air laut merupakan strategi jangka panjang perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah maupun air permukaan.
“Desalinasi menjadi solusi yang mampu menyediakan pasokan air yang andal sekaligus mendukung keberlanjutan operasional perusahaan,” ujarnya.
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Pada 2025, proporsi penggunaan air tanah untuk kebutuhan operasional berhasil ditekan hingga 12,6 persen dibandingkan kondisi sebelum fasilitas desalinasi beroperasi pada 2023. Penurunan itu terjadi karena sebagian kebutuhan air kini dipenuhi oleh air hasil pengolahan laut.
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat teknologi yang bekerja tanpa henti. Air laut terlebih dahulu melewati proses klarifikasi dan filtrasi sebelum masuk ke sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Melalui tahapan ini, garam, partikel tersuspensi, dan berbagai pengotor dipisahkan hingga menghasilkan air bersih yang sesuai dengan standar operasional industri.
Namun, bagi AMMAN, menjaga air tidak berhenti pada proses desalinasi. Perusahaan juga berupaya memastikan setiap tetes air yang masih dapat dimanfaatkan tidak terbuang sia-sia. Air dari instalasi pengolahan limbah domestik (STP), instalasi pengolahan air limbah (WWTP), hingga air kondensasi dari sistem pendingin ruangan diolah kembali untuk berbagai kebutuhan operasional nonproses, seperti penyiraman jalan dan taman, pengendalian debu, pencucian kendaraan, hingga mendukung operasional pabrik konsentrat.
Seluruh air hasil daur ulang tersebut melalui proses penyaringan, pengolahan biologis, filtrasi lanjutan, disinfeksi, serta pengujian laboratorium berkala untuk memastikan kualitasnya memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Hasilnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2023, volume air yang berhasil digunakan kembali tercatat sekitar 791 ribu meter kubik. Angka itu meningkat menjadi 1,096 juta meter kubik pada 2024, lalu melonjak menjadi 2,106 juta meter kubik pada 2025.
Artinya, lebih dari 2,1 juta meter kubik penggunaan air tawar berhasil digantikan melalui program pemanfaatan kembali air limbah.
Komitmen menjaga sumber daya air juga tercermin dalam skala operasional perusahaan.
Sepanjang 2024, AMMAN memanfaatkan sekitar 263,738 juta meter kubik air laut sebagai sumber utama kebutuhan operasional. Sementara total penggunaan air perusahaan mencapai sekitar 335,836 juta meter kubik.
Besarnya angka tersebut diimbangi dengan sistem pengelolaan yang ketat.
Perusahaan secara rutin memantau kualitas air laut, suhu perairan, sebaran thermal plume, kondisi sedimen, plankton, terumbu karang, hingga berbagai biota laut di kawasan Teluk Benete dan Teluk Senunu untuk memastikan aktivitas desalinasi tidak memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan pesisir.
Tak hanya itu, AMMAN juga melaksanakan audit pengelolaan air setiap tiga tahun oleh auditor independen. Audit terakhir dilakukan pada 2024 sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap tata kelola lingkungan yang baik.
Bagi AMMAN, pengelolaan air merupakan bagian penting dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Indikator seperti pengambilan air, efisiensi penggunaan, daur ulang air, hingga kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan mengenai Air Bersih dan Sanitasi Layak serta Ekosistem Laut, menjadi bagian dari evaluasi keberlanjutan perusahaan.
Di wilayah yang kaya sumber daya alam seperti Sumbawa Barat, langkah tersebut menghadirkan pesan sederhana namun bermakna. Bahwa menjaga cadangan air tanah tidak selalu dimulai dari sumur atau mata air. Kadang, upaya itu justru dimulai dari laut, hamparan biru yang selama ini hanya dipandang sebagai batas daratan, tetapi kini menjadi sumber kehidupan baru bagi industri, sekaligus ruang bagi air tawar untuk tetap mengalir bagi masyarakat dan alam di masa depan.






