Oleh: DR. Herdiyanto/*
Satu Kekuatan Lama yang Belum Sepenuhnya Naik Kelas
Kabupaten Sumbawa sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah peternakan penting di Nusa Tenggara Barat. Di banyak desa, ternak bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga tabungan keluarga, simbol ketahanan sosial, dan penyangga kehidupan rumah tangga ketika hasil pertanian, perdagangan, atau pekerjaan lain sedang tidak stabil.
Namun, pertanyaan strategis hari ini bukan lagi apakah Sumbawa memiliki potensi peternakan. Jawabannya sudah jelas: potensinya besar. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah potensi besar itu sudah benar-benar dikelola sebagai kekuatan ekonomi modern yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, investasi, dan daya saing daerah.
Di titik inilah peternakan Sumbawa perlu dibaca secara lebih serius. Sumbawa tidak cukup hanya bangga sebagai daerah penghasil ternak. Sumbawa harus mulai menempatkan peternakan sebagai basis industrialisasi daerah, mulai dari hulu, pakan, pembibitan, penggemukan, rumah potong modern, cold chain, hingga produk olahan.
Data Dasar: Sumbawa Adalah Salah Satu Jantung Peternakan NTB
Data BPS Provinsi NTB tahun 2025 menunjukkan bahwa Kabupaten Sumbawa memiliki populasi ternak besar yang sangat menonjol. Untuk sapi potong, Sumbawa tercatat memiliki sekitar 313.703 ekor. Untuk kerbau sekitar 30.652 ekor, dan kuda sekitar 12.196 ekor. Angka ini menempatkan Sumbawa sebagai salah satu basis utama ternak besar di NTB.
Pada tingkat provinsi, Pemerintah Provinsi NTB menyebut populasi sapi NTB tahun 2025 mencapai 1.340.130 ekor, meningkat dari 1.308.204 ekor pada tahun 2024. Ini mempertegas posisi NTB sebagai salah satu lumbung sapi nasional, dengan Pulau Sumbawa sebagai salah satu penopang terbesarnya.
Ringkasan Data Kunci Peternakan Sumbawa dan NTB

Potensi Besar: Lahan, Kultur, Pakan, dan Posisi Geografis
Sumbawa memiliki sejumlah modal dasar yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Pertama, lahan penggembalaan masih relatif tersedia. Kedua, kultur beternak sudah mengakar. Ketiga, komoditas pertanian seperti jagung dan hasil ikutan pertanian dapat menjadi basis pengembangan pakan. Keempat, posisi Sumbawa di jalur Indonesia Timur memberi peluang untuk menjadi simpul distribusi ternak, daging, dan produk olahan.
• Hamparan padang penggembalaan dan lahan kering yang cocok untuk ternak ruminansia.
• Kultur masyarakat peternak yang kuat dan sudah berlangsung lintas generasi.
• Potensi integrasi pertanian-peternakan, terutama jagung, jerami, dedak, limbah pertanian, dan hijauan pakan.
• Komoditas khas seperti sapi, kerbau, dan kuda yang dapat dibangun menjadi identitas ekonomi daerah.
• Peluang pasar nasional yang masih membutuhkan pasokan daging sapi/kerbau dari produksi domestik.
Dengan modal dasar tersebut, Sumbawa sebenarnya tidak memulai dari nol. Yang dibutuhkan bukan sekadar program bantuan ternak, tetapi desain ekosistem usaha yang mampu menaikkan kelas peternakan rakyat menjadi bagian dari rantai nilai industri.
Masalah Inti: Populasi Besar, Nilai Tambah Masih Kecil
Masalah utama peternakan Sumbawa bukan terletak pada absennya potensi, melainkan pada belum optimalnya konversi potensi menjadi nilai tambah. Selama ini pola ekonomi peternakan masih cenderung bertumpu pada pembibitan tradisional, penggembalaan konvensional, dan penjualan ternak hidup. Pola ini membuat Sumbawa kuat di hulu, tetapi lemah di hilir.
Akibatnya, keuntungan terbesar sering bergerak ke luar daerah. Sumbawa menghasilkan ternak, tetapi daerah lain lebih banyak menikmati margin dari penggemukan, pemotongan, pengolahan daging, distribusi dingin, pemasaran modern, dan produk turunan. Inilah ironi klasik daerah produsen bahan mentah: besar dalam volume, tetapi kecil dalam nilai tambah.
Tantangan Strategis Peternakan Sumbawa
1. Produktivitas Ternak Masih Perlu Ditingkatkan
Sebagian besar peternakan rakyat masih dikelola secara tradisional. Manajemen pakan, kesehatan hewan, pencatatan bobot, reproduksi, dan pemilihan bibit belum berjalan secara merata. Padahal, dalam industri peternakan modern, produktivitas tidak hanya dihitung dari jumlah ternak, tetapi juga dari bobot panen, tingkat kelahiran, mortalitas, kualitas genetik, dan efisiensi pakan.
2. Ketergantungan pada Musim
Peternakan Sumbawa sangat dipengaruhi musim. Pada musim hujan, hijauan relatif tersedia. Namun saat kemarau, ketersediaan pakan menurun dan bobot ternak dapat ikut turun. Tanpa bank pakan, silase, hay, dan pengolahan limbah pertanian, peternak akan terus berhadapan dengan siklus klasik: ternak banyak, tetapi performa tidak stabil.
3. Hilirisasi Belum Kuat
Hilirisasi peternakan belum menjadi kekuatan utama. Rumah potong modern, cold storage, industri olahan daging, kemasan, sertifikasi, serta jaringan pemasaran modern masih perlu diperkuat. Padahal nilai ekonomi terbesar justru berada pada pengolahan dan distribusi, bukan semata pada penjualan ternak hidup.
4. Kelembagaan Peternak Masih Lemah
Peternak rakyat sering berjalan sendiri-sendiri. Skala kepemilikan kecil, posisi tawar lemah, akses pembiayaan terbatas, dan informasi pasar tidak selalu merata. Tanpa koperasi atau kelembagaan bisnis yang kuat, peternak sulit masuk ke rantai pasok modern dan sulit menikmati harga yang lebih adil.
5. Regenerasi Peternak Mulai Menjadi Persoalan
Generasi muda semakin selektif memilih pekerjaan. Jika peternakan tetap dipandang sebagai pekerjaan berat, tradisional, lambat menghasilkan, dan tidak dekat dengan teknologi, maka minat anak muda akan terus menurun. Peternakan Sumbawa harus dikemas ulang sebagai usaha modern yang bisa dikelola dengan data, aplikasi, pembiayaan, kemitraan, dan pasar digital.
Best Practice yang Relatif Apple to Apple
1. Lampung: Integrasi Jagung, Pakan, dan Feedlot
Lampung menjadi contoh relevan karena memiliki basis pertanian jagung dan industri pakan yang mendukung pengembangan peternakan. Pelajaran penting dari Lampung adalah bahwa peternakan tidak bisa berdiri sendiri. Sapi membutuhkan pakan, pakan membutuhkan bahan baku, bahan baku membutuhkan petani, dan semuanya membutuhkan offtaker. Sumbawa memiliki peluang serupa karena jagung dan limbah pertanian dapat dikembangkan sebagai basis pakan lokal.
Model yang dapat diadaptasi Sumbawa bukan meniru Lampung secara mentah, tetapi membangun mini-ekosistem: sentra jagung dan hijauan pakan, unit pengolahan pakan, koperasi peternak, kandang penggemukan, dan pasar offtaker. Dengan model ini, peternakan rakyat tidak dibiarkan berjalan sendiri, tetapi masuk dalam rantai bisnis yang lebih terukur.
2. Australia Utara: Ranch, Manajemen Penggembalaan, dan Infrastruktur Air
Australia Utara relevan sebagai pembanding karena memiliki kawasan kering, padang penggembalaan luas, dan industri sapi berbasis ranch. Praktik penting yang dapat dipelajari adalah manajemen carrying capacity, rotasi penggembalaan, infrastruktur air, pencatatan ternak, biosekuriti, dan akses pasar. Sumbawa tentu tidak harus meniru skala Australia, tetapi prinsip manajemen penggembalaan modern sangat mungkin diadaptasi pada kawasan peternakan rakyat maupun kawasan ranch terbatas.
Pelajaran paling penting dari model ini adalah bahwa padang penggembalaan tidak boleh diperlakukan sebagai ruang terbuka tanpa manajemen. Lahan harus dihitung daya dukungnya, air harus tersedia, ternak harus tercatat, kesehatan harus dipantau, dan pergerakan ternak harus terkendali.
3. Program Inseminasi Buatan dan Pembibitan Terarah
Pengalaman program inseminasi buatan dan peningkatan reproduksi sapi menunjukkan bahwa perbaikan populasi tidak cukup dilakukan dengan menambah ternak. Yang lebih penting adalah memperbaiki kualitas reproduksi, tingkat kebuntingan, jarak beranak, dan kualitas bibit. Bagi Sumbawa, strategi pembibitan harus diarahkan pada dua tujuan: menjaga plasma nutfah lokal dan meningkatkan performa ekonomi ternak.
4. Model Koperasi Modern dan Offtaker
Banyak daerah produsen gagal naik kelas karena peternak tidak memiliki agregator bisnis. Koperasi peternak modern dapat menjadi solusi jika tidak hanya berfungsi administratif, tetapi juga menjalankan bisnis: membeli pakan, mencatat ternak, menyiapkan kesehatan hewan, menegosiasikan harga, mengakses pembiayaan, dan menghubungkan peternak dengan rumah potong atau industri pengolahan.
Strategi Pengembangan yang Terukur dan Realistis
Strategi pengembangan peternakan Sumbawa tidak boleh terlalu normatif. Harus ada tahap, target, indikator, dan pembagian peran. Pemerintah daerah tidak perlu melakukan semuanya sendiri. Peran pemerintah adalah membangun ekosistem, regulasi, data, infrastruktur dasar, dan fasilitasi investasi. Pelaku usaha, koperasi, peternak, perguruan tinggi, dan lembaga keuangan harus masuk sebagai bagian dari mesin penggerak.
Tahap 1: Perbaikan Hulu dan Data Ternak (1-3 Tahun)
• Membangun satu data ternak berbasis desa, termasuk jumlah, jenis, umur, status reproduksi, dan kepemilikan.
• Memperkuat inseminasi buatan, pemeriksaan kebuntingan, dan kesehatan reproduksi.
• Membangun bank pakan desa berbasis hijauan, silase, hay, jerami fermentasi, dan limbah jagung.
• Mendorong kandang komunal atau semi-komunal di desa-desa prioritas.
• Membentuk koperasi peternak modern sebagai agregator pakan, kesehatan hewan, pembiayaan, dan pemasaran.
Indikator realistis tahap pertama adalah meningkatnya validitas data ternak, naiknya angka kebuntingan, turunnya kematian ternak, tersedianya cadangan pakan saat kemarau, serta terbentuknya kelembagaan peternak yang benar-benar aktif.
Tahap 2: Penggemukan, RPH Modern, dan Cold Chain (3-5 Tahun)
• Mengembangkan feedlot skala kecil-menengah berbasis koperasi atau kemitraan swasta.
• Membangun atau merevitalisasi rumah potong hewan yang memenuhi standar higienis dan halal.
• Menyiapkan cold storage dan kendaraan berpendingin untuk distribusi daging segar.
• Mendorong kemitraan dengan hotel, restoran, katering, pasar modern, dan industri olahan.
• Membuat skema kontrak pembelian ternak dengan standar bobot, umur, dan kualitas.
Indikator tahap kedua adalah berkurangnya ketergantungan pada penjualan ternak hidup, meningkatnya penjualan daging segar/olahan, bertambahnya pelaku usaha hilir, serta mulai terbentuknya rantai pasok dingin di daerah.
Tahap 3: Hilirisasi, Branding, dan Ekspansi Pasar (5-10 Tahun)
• Membangun merek daerah seperti “Sapi Sumbawa” atau “Daging Sumbawa” dengan standar mutu yang jelas.
• Mengembangkan produk olahan seperti bakso, abon, dendeng, sosis, rendang, dan produk siap masak.
• Mengembangkan sentra industri kecil-menengah berbasis daging dan susu lokal.
• Mendorong sertifikasi halal, NKV, izin edar, dan standar keamanan pangan.
• Membuka akses pasar antarprovinsi dan menjajaki ekspor secara bertahap melalui kerja sama regional.
Indikator tahap ketiga adalah tumbuhnya industri olahan, naiknya nilai tambah lokal, bertambahnya tenaga kerja, meningkatnya PAD dari aktivitas ekonomi turunan, dan terbentuknya identitas produk peternakan Sumbawa di pasar yang lebih luas.
Peta Program Prioritas 2026-2030

Catatan Tajam: Jangan Terjebak pada Bantuan Ternak
Salah satu kelemahan kebijakan peternakan di banyak daerah adalah terlalu fokus pada bantuan ternak. Bantuan ternak memang penting, tetapi tidak akan cukup jika tidak disertai pakan, kesehatan hewan, pasar, kelembagaan, dan manajemen bisnis. Memberi ternak tanpa ekosistem sama saja dengan menambah beban peternak.
Karena itu, pendekatan baru harus bergeser dari bantuan individual menjadi pembangunan ekosistem. Ukuran keberhasilan bukan sekadar berapa ekor ternak dibagikan, tetapi berapa bobot ternak meningkat, berapa kematian turun, berapa peternak masuk koperasi, berapa volume pakan tersimpan, berapa daging dipasarkan, dan berapa nilai tambah yang tinggal di Sumbawa.
Penutup: Dari Pulau Ternak ke Pulau Industri Peternakan
Sumbawa memiliki sejarah panjang sebagai daerah peternakan. Namun masa depan tidak cukup dibangun hanya dengan sejarah. Masa depan harus dibangun dengan strategi, data, kelembagaan, investasi, teknologi, dan keberanian melakukan hilirisasi.
Jika dikelola serius, peternakan bukan hanya soal sapi, kerbau, atau kuda. Peternakan adalah pintu masuk untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat pangan, mendorong investasi, meningkatkan pendapatan peternak, dan membangun ekonomi daerah yang lebih kokoh.
Sumbawa tidak boleh berhenti sebagai pulau penghasil ternak. Sumbawa harus naik kelas menjadi pulau industri peternakan modern. Dari kandang rakyat, dari padang penggembalaan, dari koperasi desa, dan dari keberanian membangun rantai nilai baru, masa depan ekonomi Sumbawa dapat tumbuh lebih kuat, lebih terukur, dan lebih bermartabat.
Sumber Data dan Rujukan
1. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat. “Populasi Ternak Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Ternak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (ekor), 2025.” Diakses 3 Mei 2026. https://ntb.bps.go.id/
2. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. “Satu Tahun Iqbal-Dinda: Peternakan NTB Bertransformasi, Surplus Terjaga, Hilirisasi Ayam Terintegrasi Dimulai.” 23 Februari 2026. https://ntbprov.go.id/
3. Badan Pangan Nasional. “Sapi Lokal Naik Kelas, Pemerintah Dorong Produksi Daging dari Dalam Negeri.” 2 November 2025. https://badanpangan.go.id/
4. Badan Pangan Nasional. “Untuk Pengembangan Peternakan Indonesia, Pemerintah Dorong Pembiakan dan Penggemukan Sapi Hidup di Dalam Negeri.” 2 Oktober 2025. https://badanpangan.go.id/
5. Meat & Livestock Australia. “Investigating Alternative Feedstuffs for Indonesian Feedlots.” Laporan riset tentang bahan pakan alternatif dan efisiensi feedlot Indonesia.
6. Northern Territory Government, Department of Agriculture and Fisheries. “Cattle and Land Management Best Practices in the Katherine Region.” Rujukan praktik manajemen penggembalaan dan infrastruktur peternakan lahan kering.
7. Kementerian Pertanian/Balitbangtan. “SIWAB: Solusi Cerdas Swasembada Sapi dan Kerbau.” Rujukan program inseminasi buatan dan peningkatan populasi ternak. (*)
/* Penulis adalah Putra asli daerah Sumbawa kelhiran Labuhan Sumbawa, 8 April 1973 yang telah merintis karir di dunia Birokrasi selam lebih dari 32 Tahun. Setelah malang melintang di berbagai jenis Jabatan struktural saat ini memilih jalur pada Jabatan fungsional dengan jabatan Analis Kebijakan ahli Madya dengan pangkat Pembina Utama Muda dengan golongan IV/C. Saat ini melaksanakan pengabdian di Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai Ketua Tim Penyusun Kebijakan pada Asisten Deputi Pengelolaan Sarana dn prasran Olahraga Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga.








