SUMBAWA BESAR, samawarea.com (23 April 2026) – Museum Bala Datu Ranga kembali menghadirkan program publik bertajuk Movie at the Museum atau Panto Film Pang Museum yang berlangsung selama tiga hari, 21–23 April 2026. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus ajakan terbuka kepada masyarakat untuk memperkuat solidaritas terhadap Palestina melalui medium sinema dan diskusi.
Program tersebut diawali dengan pemutaran empat film bertema Palestina, yakni Ismail (2013), Women Testimonies of Nakba (2024), 200 Meters (2020), dan The Shadow of West (1986). Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Gita Hastarika dari Asosiasi Fana, Direktur Museum Bala Datu Ranga Yuli Andari Merdikaningtyas, serta Ketua BAZNAS Kabupaten Sumbawa, DG Syukri Rahmat.
Direktur Museum Bala Datu Ranga, Yuli Andari Merdikaningtyas dalam catatannya menyampaikan bahwa tragedi kemanusiaan di Palestina tidak dimulai pada 7 Oktober 2023, melainkan telah berlangsung jauh sebelumnya. Menurutnya, dunia baru benar-benar membuka mata dalam dua tahun terakhir.
“Melalui tajuk Palestina dalam Museum, Sinema, dan Testimoni, kami ingin mengajak masyarakat untuk merenungi kembali pentingnya solidaritas kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sebagai institusi kultural yang memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara terhadap isu kemanusiaan global.
Setidaknya ada tiga alasan mengapa museum perlu berpihak pada Palestina. Pertama, sebagai upaya menebus “dosa kolonialisme” yang melekat dalam sejarah lahirnya museum. Banyak koleksi museum dunia berasal dari wilayah jajahan, sehingga keberpihakan pada pihak yang tertindas menjadi bentuk refleksi historis.
“Apa yang dilakukan oleh Israel di tanah Palestina saat ini adalah penjajahan, pembersihan etnis, dan genosida yang tidak berperikemanusiaan. Membela Palestina menunjukkan keberpihakan kita pada pihak yang tertindas dan terjajah. Hal ini sesuai dengan konstitusi negara kita seperti yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” cetusnya.
Kedua, konflik yang terjadi di Palestina dinilai tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga menghancurkan kebudayaan. Sebagai institusi pelestari warisan budaya, museum dianggap tidak boleh diam ketika jejak peradaban suatu bangsa terancam punah.
“Praktik genosida yang dilakukan Israel kepada rakyat Palestina telah menghancurkan segala-galanyanya, termasuk memusnahkan jejak peradaban dan kehidupan rakyat Palestina serta memutus rantai tradisi dan budaya Palestina yang diwariskan antar generasi. Salah satu tugas dan fungsi museum adalah melestarikan kebudayaan. Museum harus mengambil sikap dan bertindak untuk menyuarakan anti genosida yang tengah berlangsung salah satunya dengan bersuara dan menggunakan media yang punya kekuatan untuk mengubah persepsi publik dari segala bentuk propaganda pro-Zionis yang disebarkan Israel dan sekutunya. Literasi melalui film dan bersuara dalam diskusi setelah pemutaran salah satunya. Movie at Museum sebagai program publik Museum Bala Datu Ranga membawa misi tersebut,” paparnya.
Ketiga, museum memiliki kwkuatan sebagai otoritas kultural di masyarakat. Museum adalah institusi yang secara politis tidak bisa dibilang ‘netral’ meski tujuan utamanya adalah memberikan literasi dan edukasi pada publik melalui koleksi dan program yang dimilikinya. Museum harus ‘berpihak’ pada suara dan narasi yang selama ini terbungkam. Selama ini, propaganda Barat bersembunyi di balik kata kunci “Holocaust” dan menolak apa yang dilakukan rezim Zionis kepada rakyat Palestina sebagai sebuah genosida.
“Pengekalan narasi ini sering terjadi dengan menggunakan museum maupun monumen peringatan sebagai agen strategis yang membawa misi mereka. Beberapa museum di dunia terutama di negara-negara Eropa mengusung tema tentang “Holocaust” dengan semboyan “Never Again”. Namun mengapa justru survivor genosida NAZI ini malah menjadi oppressor bagi orang Palestina yang mempertahankan tanah air mereka,” imbuhhya.
Melalui program ini, Yuli. menegaskan, Museum Bala Datu Ranga berkomitmen memperkuat literasi masyarakat melalui sinema. Film dinilai sebagai medium yang efektif untuk membangun kesadaran serta melawan berbagai bentuk propaganda yang berkembang.
“Kami percaya sinema memiliki kekuatan untuk menyuarakan yang terbungkam. Suara rakyat Palestina perlu terus diangkat dan diresonansikan,” tutup Yuli. (SR)






