Di Kelas Kecil Itu, Terang Dinyalakan Pelan-Pelan

oleh -60 Dilihat

Oleh: DR. Herdiyanto

Pagi di Sumbawa datang seperti biasa. Tidak terburu-buru. Tidak juga terlalu lambat.

Anak-anak berjalan ke sekolah, membawa tas, membawa harapan dan kadang… membawa beban yang tidak terlihat.

Di salah satu ruang kelas itu, Rosidah sudah berdiri lebih dulu. Tidak ada yang istimewa dari tampilannya. Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada tepuk tangan. Hanya papan tulis, kursi-kursi kayu, dan puluhan wajah muda yang masih mencari arah.

“Coba tulis… tentang ibu kalian.” Kalimat itu sederhana. Tapi selalu berhasil membuat kelas tiba-tiba hening.

Ada yang langsung menulis. Ada yang diam, menatap kosong. Ada yang tersenyum kecil… dan ada yang diam-diam menahan sesuatu di dalam dada.

Rosidah tidak pernah memaksa. Dia hanya menunggu. Karena dia tahu, tidak semua perasaan bisa keluar dengan cepat.

Di kelas itu, kata-kata bukan sekadar tugas. Kata-kata adalah jembatan. Antara anak dan pikirannya. Antara luka dan penerimaan. Antara mimpi… dan keberanian untuk mencapainya.

Kadang, setelah membaca tulisan murid-muridnya, Rosidah tidak banyak bicara. Dia hanya tersenyum pelan. Karena dia tahu, di balik tulisan sederhana itu…ada sesuatu yang sedang tumbuh.

Di luar kelas, dunia berjalan cepat. Orang-orang sibuk mengejar banyak hal. Tren datang dan pergi. Budaya pelan-pelan dilupakan.

Tapi Rosidah memilih jalan yang berbeda. Dia menoleh ke belakang. Bukan untuk tinggal di masa lalu—tapi untuk menyelamatkan sesuatu yang hampir hilang.

Namanya Satera Jontal. Aksara lama. Sunyi. Hampir tidak terdengar lagi. Tapi di tangan Rosidah, aksara itu tidak dibiarkan mati.

Dia memindahkannya ke batik. Menjahitnya dalam kain. Menghidupkannya dalam bentuk yang baru. Seolah ingin berkata:

“Kalau kita lupa siapa kita…kita akan mudah kehilangan arah.” Tidak ada konferensi besar. Tidak ada pidato panjang. Hanya langkah kecil, yang dilakukan berulang-ulang. Dan justru karena itu… menjadi kuat.

Kalau Kartini dulu menulis surat untuk melawan keterbatasan, Rosidah menulis—dan mengajar—untuk melawan hal yang lebih sunyi:

lupa.

Lupa pada diri sendiri. Lupa pada akar. Lupa pada makna.

Di kelas kecil itu, Rosidah tidak sedang membuat sejarah. Tapi dia sedang menyiapkan orang-orang yang suatu hari… akan mengubahnya.

Mungkin tidak semua muridnya akan jadi penulis. Tidak semua akan jadi tokoh besar. Tapi kalau satu dari mereka berani berkata jujur, berani mencintai budayanya, berani memilih jalan hidupnya sendiri…itu sudah cukup. Lebih dari cukup.

Sore hari, kelas selesai. Anak-anak pulang. Suara perlahan hilang. Rosidah membereskan buku-buku di mejanya.

Tidak ada yang tahu, bahwa hari itu…dia sudah menyalakan beberapa terang. Kecil. Nyaris tak terlihat. Tapi akan tumbuh. Dan seperti semua hal yang benar-benar berarti, itu tidak terjadi dengan suara keras. Ia terjadi…pelan-pelan.

Dari Sumbawa, di ruang kelas yang sederhana, seorang perempuan terus melakukan hal yang sama setiap hari: menyalakan terang. (*) 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *