SUMBAWA BESAR, samawarea.com (1 Desember 2025) — Kesultanan Sumbawa melalui Lembaga Adat Tana’ Samawa (LATS) menggelar Lokakarya Akademik bertajuk “Mengembalikan Nilai Takit Ko Nene’, Kangila Boat Lenge dalam Tata Kelola Sumber Daya Alam Sumbawa” di Hotel Nio Garden, Minggu pagi (30/11). Acara ini terlaksana atas kerja sama LATS dengan Fraksi PKS DPR RI dan MPR RI sebagai upaya memperkuat tata kelola sumber daya alam (SDA) berbasis kearifan lokal Samawa.
Kegiatan ini diikuti para akademisi, camat, pegiat kebudayaan, aktivis lingkungan, serta tokoh masyarakat. Hadir sebagai keynote speaker, Wakil Ketua Badan Anggaran MPR RI sekaligus Sekretaris Fraksi PKS DPR RI, H. Johan Rosihan, ST.
Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., saat membuka kegiatan secara resmi menegaskan bahwa nilai luhur “Takit Ko Nene’, Kangila Boat Lenge” bukan sekadar semboyan budaya, melainkan “kompas moral masyarakat Samawa” yang memuat pesan ketakwaan, rasa malu berbuat buruk, dan amanah menjaga alam.
Bupati Haji Jarot menilai kearifan lokal ini kian relevan di tengah meningkatnya krisis iklim, kerusakan hutan, serta berbagai ancaman ekologis. Karena itu, ia menyebut lokakarya yang digagas LATS sebagai ruang penting untuk menyatukan langkah pemerintah daerah, lembaga adat, akademisi, masyarakat sipil, dan kebijakan nasional.
Dalam kesempatan itu Bupati juga menyampaikan visi besar Pemkab Sumbawa lima tahun ke depan, yakni Sumbawa Hijau dan Lestari. Visi ini diwujudkan melalui berbagai program nyata seperti Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Sumbawa Hijau, 1 ASN 1 Pohon, 1 Siswa 1 Pohon, Program Tanam Pohon Dapat Sapi, Penanaman komoditas ekonomi produktif seperti kopi, kemiri, porang, dan sengon laut.
“Langkah-langkah ini adalah investasi jangka panjang untuk stabilitas ekologis dan kesejahteraan masyarakat. Di sinilah nilai Takit Ko Nene’, Kangila Boat Lenge menemukan momentumnya sebagai dasar kebijakan publik,” ujarnya.
Sementara Ketua Pajatu LATS, Dr. M. Ikhsan Safitri, menilai pentingnya menjaga Tana’ Samawa melalui pengabdian kolektif. Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai budaya Samawa mulai mengalami distorsi dan harus dibahas secara mendalam.
“Fenomena akhir-akhir ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kita mulai tergerus. Pertemuan ini diharapkan menghasilkan solusi dan rekomendasi yang aplikatif,” tegasnya. (SR)





