Tim Peneliti UTS dan UGM Eksplorasi Tanah Kalsel untuk Temukan Bakteri Penghasil Antibiotik

oleh -443 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (24 September 2025) — Upaya pencarian sumber daya hayati yang berpotensi menjadi bahan dasar antibiotik terus dilakukan oleh para peneliti di Indonesia. Salah satu terobosan datang dari tim dosen peneliti dari Program Studi Bioteknologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Hayati Universitas Teknologi Sumbawa (FITH UTS) yang berkolaborasi dengan tim dosen peneliti dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan organisasi keilmuan biologi sintetik Indonesia Synbio.id.

Tim ini tengah melakukan kegiatan bioprospeksi Actinomycetes dari sampel tanah di wilayah Kalimantan Selatan, khususnya dari Hutan Pinus Metaos, Hutan Mangrove Pagatan, dan Danau Biru Paringtali (daerah lahan bekas pertambangan batu bara). Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan global terkait resistensi antibiotik dan keterbatasan obat antimikroba yang efektif.

Actinomycetes adalah kelompok bakteri Gram-positif yang dikenal sebagai produsen utama berbagai senyawa bioaktif, termasuk antibiotik. Lebih dari 70% antibiotik yang digunakan saat ini, seperti streptomisin, eritromisin, dan tetracycline, berasal dari kelompok bakteri ini, khususnya dari genus Streptomyces.

Melihat potensi tersebut, tim peneliti melakukan eksplorasi dan pengambilan sampel tanah dari berbagai lokasi strategis di Kalimantan Selatan, mulai dari kawasan hutan sekunder, lahan gambut, hingga daerah pertambangan yang belum banyak tersentuh studi mikrobiologi.

“Tanah di Kalimantan Selatan sangat kaya akan keanekaragaman mikroba. Namun sejauh ini masih sedikit yang dieksplorasi secara ilmiah, terutama untuk mencari Actinomycetes dengan potensi sebagai penghasil senyawa antibiotik baru,” ungkap Dwi Ariyanti, Ph.D, Ketua Tim Peneliti dari FITH UTS.

Sejumlah isolat Actinomycetes berhasil diperoleh dan dikonfirmasi secara genetik dengan sekuensing 16S rRNA dan WGS, dan kini tengah pada proses pengujian profil metabolit sekunder potensialnya.

Penelitian ini mendapat dukungan dari Hibah Program Riset Inovasi Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi Tahun 2024 dan Peneliti Dosen Pemula KemendiktiSaintek Tahun 2025, menjadi bagian dari upaya strategis untuk mendayagunakan keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan.

“Kami berharap, hasil penelitian ini dapat membuka jalan bagi pengembangan antibiotik baru berbasis sumber daya lokal dan memberikan kontribusi nyata dalam penanggulangan krisis resistensi antibiotik,” tambah Dr. Ali Budhi Kusuma, S. Si., M.Sc. ALS, Dosen FITH UTS ahli bidang Aktinobacteria pada kondisi ekstrim.

Dengan potensi besar yang masih tersimpan dalam tanah Kalimantan Selatan, kegiatan ini menjadi bukti bahwa eksplorasi sumber daya alam Indonesia tidak hanya menyasar sektor tambang dan energi, tetapi juga bisa menjadi gerbang menuju penemuan obat-obatan masa depan. (SR)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *