SUMBAWA BESAR, samawarea.com (12 September 2025) — Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) NTB bersama FPRB Kabupaten Sumbawa menggelar Pelatihan Penggunaan Instrumen Kajian Ketangguhan Pulau-Pulau Kecil, yang berlangsung di Aula Sumbawa Grand Hotel pada 12–13 September 2025.
Acara ini diikuti oleh perwakilan FPRB dari kabupaten dan provinsi, serta para pemangku kepentingan dari sejumlah pulau kecil di wilayah Kabupaten Sumbawa.
Ketua FPRB Sumbawa yang diwakili Sekretaris, Yayat Cahyadi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi momen penting bukan hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga untuk memperkuat kapasitas dan edukasi anggota FPRB Sumbawa dalam memahami dan menerapkan kajian ketangguhan di pulau-pulau kecil.
“Sumbawa memiliki banyak pulau kecil seperti Pulau Bungin, Pulau Medang, dan Pulau Moyo. Kita perlu memastikan bahwa masyarakat di sana memiliki ketangguhan terhadap risiko bencana, melalui pendekatan yang tepat dan berbasis data,” ujar Yayat.
Melalui pelatihan ini, Ia berharap dapat memperkuat sinergi lintas sektor dalam mewujudkan pulau-pulau kecil yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi risiko bencana di masa mendatang.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari FPRB Provinsi NTB, Sulistiyono, yang menjelaskan secara mendalam tentang Kerangka Ketangguhan Pulau Kecil. Kerangka ini mencakup enam komponen utama. Yaitu, kualitas dan akses layanan dasar, dasar sistem, pengelolaan risiko bencana, kesiapsiagaan darurat, kesiapsiagaan pemulihan, dan penghidupan berkelanjutan.
Setiap komponen memiliki indikator-indikator yang menjadi tolok ukur penilaian, seperti tersedianya fasilitas pendidikan dan kesehatan, sistem informasi, perlindungan lingkungan, rencana evakuasi, dan ketahanan ekonomi masyarakat. Termasuk juga dukungan dari lembaga luar dan forum PRB dalam pengelolaan risiko bencana.
Salah satu fokus utama pelatihan ungkap Sulis, adalah asesmen ketangguhan yang telah dilakukan di tiga pulau yaitu Pulau Bungin, Pulau Medang, dan Pulau Moyo. Asesmen dilakukan menggunakan metode kualitatif seperti FGD (Focus Group Discussion), wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan dokumentasi.
Tujuan utama asesmen adalah, memetakan kondisi ketangguhan masyarakat di pulau-pulau kecil tersebut.
Kemudian, menganalisa komponen ketangguhan berdasarkan sumber daya lokal dan kearifan masyarakat setempat, dan menyusun rekomendasi rencana aksi peningkatan ketangguhan bencana.
Dari hasil asesmen di Pulau Moyo dan Medang, beberapa poin penting yang disoroti adalah keterbatasan akses layanan dasar, potensi besar kearifan lokal dalam mitigasi bencana, serta perlunya peningkatan kapasitas masyarakat dan infrastruktur pendukung untuk evakuasi darurat. (SR)






