AMMAN Hadirkan Harapan Bagi Difabel dan Lansia: Rasa Sakit Mereda, Semangat Hidup Kembali Menyala

oleh -685 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (20 September 2025) – Suara azan subuh menyelinap lembut ke dalam kamar kecil di sudut Sumbawa. Dalam keheningan itu, Nenek Nurma berdiri perlahan. Gerakan itu bukan sekadar refleks tubuh, melainkan wujud kemenangan. Sebuah capaian yang positif. Dulu, untuk sekadar berdiri pun, ia harus bergulat dengan nyeri yang mendera bertahun-tahun. Hari itu, tubuhnya bukan satu-satunya yang bangkit. Semangatnya pun ikut terbit.

Nyeri sendi, otot kaku, dan keterbatasan fisik bukan sekadar masalah medis. Bagi banyak penyandang disabilitas dan lansia di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Kabupaten Sumbawa (KS), keterbatasan fisik kerap datang beriringan dengan luka mental. Tak jarang, mereka hidup dalam ketergantungan yang melelahkan, baik secara fisik maupun emosional.

Melihat kenyataan itu, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia, menghadirkan program “Layanan Fisioterapi dan Psikologi bagi Penyandang Disabilitas dan Keluarga”. Program ini lahir bukan sekadar dari kebijakan CSR biasa, tapi dari Employee Participation Program (EPP), sebuah pendekatan unik yang melibatkan karyawan dan mitra perusahaan untuk secara aktif turun langsung memberi manfaat ke masyarakat.

Setiap dua hingga tiga bulan, tim gabungan dari fisioterapis dan psikolog mendatangi fasilitas umum di desa-desa wilayah KSB dan Kabupaten Sumbawa. Mereka bukan hanya membawa peralatan terapi, tapi juga harapan baru. Fisioterapis membantu warga mengurangi nyeri, mengembalikan fungsi gerak, dan melatih kemandirian. Sementara itu, psikolog hadir mendengarkan, memberi ruang aman bagi para lansia, disabilitas, dan keluarga pendamping untuk berbagi beban mental yang kerap tersembunyi.

“Kami tidak hanya ingin mengobati tubuh. Kami ingin memulihkan semangat hidup,” ujar salah satu koordinator lapangan dari AMMAN.

Dari Rasa Sakit ke Rasa Syukur

Nenek Nurma adalah satu dari ratusan penerima manfaat. Selama bertahun-tahun ia menahan nyeri luar biasa, sampai tak lagi bisa berdiri tegak saat shalat. Kini, ia bisa kembali berdiri dan merasakan kembali nikmatnya gerakan yang sering kita anggap sepele.“Badan saya jadi lebih sehat, rasa nyeri hilang semua setelah dilakukan tindakan fisioterapi secara medis,” katanya, dengan mata berkaca-kaca.

Kakek Sabram Anggir, mengalami perbaikan signifikan setelah beberapa kali terapi. “Rasa nyeri di lutut dan lengan kiri, sudah diterapi ada perubahan lebih baik. Saya berharap bisa terus diselenggarakan agar masyarakat juga bisa bergantian berkonsultasi,” ucapnya.

Sementara Kakek Oyang, yang selama setahun dihantui sakit pinggang, kini bisa tersenyum lepas. “Saya sangat bahagia karena ada perubahan yang signifikan. Semoga bisa terus dilakukan, terima kasih kepada AMMAN,” ucapnya penuh syukur.

Demikian dengan Obby Teja. Meski masih berusia muda, namun radang sendi di lututnya membuatnya lumpuh. Kini senyum mengembang di bibirnya. Pria yang berprofesi sebagai jurnalis ini sempat mendapatkan pelayanan fisioterapi di RSUD Sumbawa. Bahkan sempat menjalani rawat inap. Dengan adanya program fisioterapi yang dilaksanakan AMMAN, semakin membuat fisiknya mendekati normal.  Obby kini bisa beraktivitas seperti biasa, dan kembali menekuni hobinya bermain billiard. Sebab wartawan anggota PWI Sumbawa ini merupakan salah satu atlet Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) di Malang Tahun 2022 lalu, dan pernah juga menjadi atlet Balogo yang meraih medali perak di Porwanas Banjarmasin 2024.

Wujud Komitmen AMMAN

Sejak diluncurkan tahun 2024, program ini telah menjangkau ratusan warga dan dilaksanakan belasan kali di berbagai titik. Namun, angka bukan satu-satunya ukuran. Bagi AMMAN, keberhasilan diukur dari tawa yang kembali muncul, langkah yang kembali mantap, dan jiwa-jiwa yang kembali percaya bahwa mereka tidak sendirian. Program ini adalah wujud komitmen AMMAN terhadap pembangunan masyarakat yang lebih inklusif, sehat, dan mandiri. Ke depan, AMMAN berencana melatih kader-kader lokal agar terapi dasar bisa dilakukan lebih sering tanpa menunggu sesi berikutnya.

“Ini bukan tentang AMMAN saja. Ini tentang bagaimana kita sebagai manusia peduli terhadap sesama,” ujar Iqbal, salah satu keluarga pasien yang ikut mendampingi saat program tersebut dilaksanakan di Aula Kantor Desa Kerato, Kecamatan Unter Iwis, Sumbawa.

Ketika rasa nyeri perlahan mereda, dan langkah kaki kembali terayun, itulah tanda bahwa program ini menyentuh inti dari kebermanfaatan sosial. Bukan sekadar proyek perusahaan, tapi jembatan empati antara industri dan masyarakat. Karena terkadang, yang dibutuhkan bukan obat paling mahal, tapi satu sentuhan peduli yang tulus untuk menguatkan jiwa yang sempat rapuh.

Tak Sekadar Terapi Tapi Pemulihan Jiwa

Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN mengatakan awal tahun 2023, Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) melakukan asesmen terkait jumlah pasien disabilitas, khususnya di wilayah Jereweh, Maluk, dan Sekongkang. Jumlah pasien disabilitas di ketiga kecamatan tersebut hampir mencapai 200 orang, dengan jenis disabilitas yang beragam. Salah satu tantangan bagi pasien disabilitas adalah akses kesehatan yang masih membutuhkan dukungan, khususnya terkait dengan pengetahuan, kesadaran, jarak, dan kemampuan finansial. Karena itu, melalui Employee Participation Program (EPP), perusahaan mencoba menghadirkan akses gratis dan mudah melalui layanan fisioterapi dan psikologi untuk pasien disabilitas dan keluarga.

AMMAN memilih fokus pada layanan fisioterapi dan psikologi, karena ingin mewujudkan semangat Samawa, yaitu “Saling Pendi” (saling menyayangi) dan “Saling Sakiki” (saling merangkul). Hal ini merupakan upaya perusahaan untuk menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi kelompok rentan, salah satunya adalah kelompok disabilitas dan lanjut usia (lansia) yang memiliki akses fisioterapi dan psikologi terbatas di tingkat kecamatan dan desa.

Pelayanan fisioterapi bagi penyandang disabilitas dan keluarga sangat penting karena membantu meningkatkan kemandirian, mencegah komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup sehari-hari. Melalui program fisioterapi yang terarah, penyandang disabilitas dapat mengoptimalkan potensi gerak mereka. Sementara itu, keluarga juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mendampingi latihan di rumah. Dengan demikian, fisioterapi bukan hanya sekadar pemulihan fisik, tetapi juga wujud dukungan menyeluruh (holistik) agar penyandang disabilitas dapat berpartisipasi lebih aktif dan bermakna dalam kehidupan bermasyarakat.

Mengenai mekanisme pelaksanaan program ini dari awal hingga selesai dalam satu sesi layanan, Aji Suryanto menjelaskan biasanya berawal dari permintaan masyarakat atau pemerintah desa yang membutuhkan. Pemerintah desa sebagai mitra menyiapkan daftar calon pasien. Dalam satu sesi layanan, biasanya dibutuhkan waktu 30 menit hingga 1 jam untuk masing-masing pasien.

Tahap pertama layanan yaitu melakukan cek kesehatan untuk memastikan layanan apa yang akan diperoleh. Jika hanya membutuhkan fisioterapi, pasien akan diarahkan ke ruang fisioterapi. Namun, jika membutuhkan konsultasi psikologi, mereka akan diarahkan ke tim psikolog untuk mendapatkan dukungan psikologi. Khusus untuk penyandang disabilitas, mereka biasanya mendapatkan dua layanan tersebut sekaligus.

Kemudian tantangan terbesar dalam pelaksanaan layanan ini di lapangan, adalah keterbatasan jumlah dan waktu relawan fisioterapis dan tenaga konseling. Sejauh ini, relawan fisioterapis hanya berasal dari Siloam Hospital, serta terdapat keterbatasan waktu dan tenaga dari tim konseling. Padahal, beberapa pasien membutuhkan terapi dan dukungan psikologi secara rutin. Untuk itu, program ini juga membuka kesempatan bagi semua masyarakat yang memiliki keahlian (skill) fisioterapi dan psikologi untuk terlibat menjadi relawan.

Mengenai dampak social dari program ini, di antaranya mempengaruhi kualitas hidup penyandang disabilitas dan lansia secara menyeluruh. Secara umum, program ini membantu pasien dan keluarga dalam hal peningkatan mobilitas, meningkatkan motivasi hidup, serta memupuk semangat dan kemandirian keluarga disabilitas sebagai perawat (caregiver) bagi anggota keluarga mereka.

Ada banyak perubahan fisik dan mental yang dirasakan oleh penerima manfaat program ini. Perubahan fisik tidak hanya dialami oleh penyandang disabilitas, tetapi juga penderita stroke, saraf terjepit, dan pasien cedera yang menjadi peserta layanan. Sebagian besar peserta tidak hanya mendapatkan perawatan, tetapi juga diajarkan cara melakukan latihan fisioterapi secara mandiri di rumah dengan alat sederhana.

Begitu pula bagi keluarga penyandang disabilitas, mereka diberikan pengetahuan dan keterampilan langsung tentang cara mendampingi dan melakukan terapi fisik, serta memberikan dukungan psikologi kepada anggota keluarga secara mandiri di rumah. Masyarakat memberikan respons yang sangat baik dan positif. Mereka memandang bahwa program ini harus tetap diadakan karena sangat membantu dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi karyawan yang ingin menyumbangkan keahlian (skill), baik secara langsung maupun melalui dukungan teknis. Mitra utama AMMAN dalam program ini adalah Siloam Hospital yang secara konsisten menyediakan tim fisioterapis, tenaga medis, dan dokter umum. Selain Siloam Hospital, tim terapis dan konseling dari AMMAN Academy serta psikolog perusahaan juga selalu menyempatkan diri menjadi relawan.

Dalam perkembangannya hingga saat ini, relawan tidak hanya berasal dari karyawan AMMAN dan mitra, melainkan juga dari komunitas dan kelompok masyarakat, seperti Asosiasi Fisioterapi Indonesia di Sumbawa, Komunitas Muda di Lunyuk, Karang Taruna Desa Bukit Damai, dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumbawa.

Aji mengatakan program ini memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri bagi para karyawan AMMAN yang menjadi relawan. Program ini juga membuka kesempatan tidak hanya bagi karyawan, tetapi juga bagi masyarakat luas untuk memperkuat jiwa pengabdian dan kesukarelawanan di lingkungan sekitar. Sebagaimana nama programnya, keterlibatan mereka bersifat 100% sukarela. Dengan sifatnya ini, kegiatan tersebut membangun dan menjalin hubungan baik antara karyawan dan masyarakat, serta memberikan dampak positif pada kehidupan mereka.

Sentuhan Humanis dan Budaya Lokal

Aji Suryanto juga menjelaskan terkait pendekatan yang digunakan oleh para psikolog untuk membangun kepercayaan dengan pasien dan keluarganya. Pendekatan humanis dan kekeluargaan dengan komunikasi yang sederhana, serta mendengarkan kebutuhan pasien dan keluarga, menjadi kunci. “Care for the caregiver” adalah salah satu langkah penting untuk memastikan keluarga tetap semangat mendampingi pasien disabilitas dan lansia dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian dengan pendekatan budaya local, juga mampu mempengaruhi cara layanan psikologis diberikan. Menggunakan nilai “Saling Sakiki” untuk menguatkan pasien dan keluarga, serta “Saling Pendi” untuk memberikan motivasi. Secara umum, kegiatan ini dari awal hingga akhir berpedoman pada semboyan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) “Pariri Lema Bariri” dan semboyan Sumbawa “Sabalong Samalewa“.

“Dalam setiap layanan, baik fisioterapi maupun konsultasi psikologi, tim fisioterapis dan konselor selalu berupaya mengenal aktivitas sehari-hari pasien. Tujuannya adalah untuk mempermudah tim layanan dalam memberikan pengetahuan dan melatih kemandirian pasien, disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing,” imbuhnya.

Diakui Aji, banyak masyarakat yang berharap program ini dapat berlanjut. Salah satu strategi perusahaan untuk memastikan program ini berkelanjutan dalam jangka panjang adalah Tim EPP senantiasa mengidentifikasi tingkat urgensi setiap permintaan layanan dari masyarakat, pemerintah desa, maupun komunitas.

Selain itu, Tim EPP juga memastikan seberapa besar kolaborasi perusahaan dengan masyarakat dan seberapa luas dampak yang akan dihasilkan dalam setiap sesi. Hal ini dilakukan agar kegiatan tersebut tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar terlaksana karena sangat dibutuhkan. Apalagi kegiatan layanan ini diinisiasi oleh berbagai pihak, antara lain pemerintah desa, pemerintah kecamatan, komunitas pemuda, dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumbawa. Bahkan, di Sumbawa, seluruh kegiatan ini diinisiasi oleh LPA Sumbawa sebagai bentuk replikasi dari kegiatan pertama di Kecamatan Lunyuk.

Jawaban Nyata atas Kebutuhan Masyarakat

Fatriaturrahma, salah satu pegiat aktif dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Sumbawa, menyambut hangat kehadiran program layanan fisioterapi dan psikologi ini. Menurutnya, program ini menjadi jawaban nyata atas kebutuhan masyarakat, terutama anak-anak dan keluarga dengan disabilitas yang selama ini terabaikan.

“Banyak anak dan remaja dengan kebutuhan khusus yang tidak pernah mendapatkan akses terapi karena terbatasnya layanan di desa. Program ini bukan hanya menyentuh mereka secara fisik, tapi juga memulihkan kepercayaan diri dan semangat dalam keluarga mereka,” ujar Fatriaturrahma.

Ia juga menekankan bahwa keterlibatan LPA dalam inisiasi program ini di Sumbawa merupakan bentuk komitmen untuk memastikan bahwa anak-anak penyandang disabilitas mendapat hak yang sama, termasuk dalam hal kesehatan dan pemulihan psikososial.

“Ini bukan hanya tentang pengobatan, tapi tentang keadilan. Bahwa setiap anak, apapun kondisinya, berhak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung, sehat, dan penuh cinta,” lanjutnya.

Bagi LPA, kolaborasi dengan AMMAN menjadi contoh baik dari sinergi antara dunia usaha dan masyarakat sipil. Ia berharap ke depan, program ini tidak hanya berlanjut, tapi juga diperluas dengan melibatkan lebih banyak pihak, termasuk sekolah, posyandu, dan organisasi pemuda di desa-desa. “Kita butuh lebih banyak gerakan seperti ini. Karena membangun masa depan yang kuat, dimulai dari merawat yang paling rentan,” cetusnya.

Contoh Praktik Baik Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Dukungan terhadap program layanan fisioterapi dan psikologi gratis ini juga datang dari pihak medis daerah. Direktur RSUD Sumbawa, dr. Mega Harta M.PH, menyatakan bahwa langkah AMMAN melalui program EPP ini sangat strategis dalam mengisi celah layanan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan di daerah pedesaan.

“Di fasilitas layanan seperti RSUD, kami menyadari bahwa akses masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah terpencil atau memiliki keterbatasan ekonomi, masih sangat terbatas. Maka ketika ada program berbasis jemput bola seperti ini, sangat membantu meringankan beban sistem layanan formal,” ungkap dr. Mega.

Menurutnya, salah satu tantangan besar dalam pelayanan disabilitas adalah keterbatasan jumlah tenaga rehabilitasi medis dan psikologi klinis yang tersebar merata hingga ke desa. Inisiatif AMMAN menjadi bentuk pelengkap yang sangat dibutuhkan.

“Program ini tidak hanya membawa layanan ke tengah masyarakat, tetapi juga memberikan edukasi. Edukasi ini sangat penting agar masyarakat memahami pentingnya terapi berkelanjutan, bukan hanya sesaat ketika sakit terasa parah,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pendekatan holistik yang digunakan dalam program ini menggabungkan penanganan fisik melalui fisioterapi dan pendampingan mental melalui psikolog sebagai pendekatan ideal dalam dunia kesehatan modern.

“Kami di RSUD siap berkolaborasi lebih jauh, termasuk dalam rujukan pasien atau pelatihan kader kesehatan desa jika diperlukan. Karena pada akhirnya, tujuan kita sama, memastikan masyarakat, khususnya kelompok rentan, mendapatkan layanan yang adil dan menyeluruh,” tegas dr. Mega.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Hj. Nur Atika, S.Keb., M.M.Inov, juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan program layanan fisioterapi dan psikologi gratis yang diinisiasi oleh AMMAN melalui Employee Participation Program (EPP). Ia menilai program ini merupakan contoh konkret sinergi antara dunia usaha dan pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan lansia.

“Program ini menjadi salah satu praktik baik yang perlu direplikasi di wilayah lain. Karena yang disentuh bukan hanya aspek medis, tetapi juga sisi psikososial, yang selama ini kerap terabaikan,” ujar Hj. Nur Atika.

Menurutnya, tantangan layanan kesehatan di daerah seperti Sumbawa adalah keterbatasan tenaga spesialis, khususnya fisioterapis dan psikolog klinis, di tingkat desa dan kecamatan. Dalam kondisi seperti itu, dukungan dari mitra non pemerintah seperti AMMAN sangat membantu memperluas jangkauan layanan.

“Kami menyambut baik pendekatan jemput bola seperti ini, apalagi dengan sentuhan edukatif dan berbasis komunitas. Ini sangat sejalan dengan arah kebijakan kesehatan daerah yang mendorong promotif dan preventif,” tambahnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa siap bersinergi dalam penguatan kader lokal, penyediaan data, hingga mendukung replikasi kegiatan ini ke wilayah lain berdasarkan skala prioritas dan kebutuhan masyarakat.

“Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut dan berkembang. Karena kesehatan adalah tanggung jawab bersama, dan keberhasilan satu program bisa menjadi pondasi untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat yang lebih luas,” pungkasnya.

BPJS Kesehatan Siap Berkolaborasi

Kepala Perwakilan BPJS Kesehatan Sumbawa, Rahmatullah, SE, menyampaikan apresiasinya terhadap program layanan fisioterapi dan psikologi yang digagas oleh AMMAN. Menurutnya, kehadiran program ini tidak hanya memperkuat akses layanan bagi masyarakat rentan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan jangka panjang.

“Banyak masyarakat belum memahami pentingnya rehabilitasi medis, seperti fisioterapi, dalam proses pemulihan. Selama ini mereka hanya fokus pada pengobatan kuratif. Nah, program ini menjembatani kesenjangan itu dengan pendekatan yang edukatif dan langsung menyentuh kebutuhan warga,” ujar Rahmatullah.

Ia juga menilai, meskipun BPJS Kesehatan telah menjamin banyak layanan medis termasuk fisioterapi, masih banyak peserta yang belum memanfaatkan layanan tersebut secara optimal, terutama karena keterbatasan informasi, jarak layanan, hingga keterbatasan fasilitas di wilayah terpencil.

“Program ini bisa menjadi pelengkap yang sangat baik. Bahkan, bisa menjadi pemantik agar masyarakat lebih proaktif memanfaatkan hak-hak layanan kesehatannya sebagai peserta JKN-KIS,” tambahnya.

Rahmatullah juga membuka peluang sinergi ke depan antara BPJS Kesehatan, pemerintah daerah, dan dunia usaha seperti AMMAN dalam meningkatkan pemanfaatan layanan promotif dan preventif berbasis komunitas. “Kami siap berkolaborasi. Karena tujuan kita sama, yaitu meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui layanan kesehatan yang adil, terjangkau, dan berkelanjutan,” tandasnya.

Angka Kunjungan Pasien Fisioterapi Capai 30.643

Ketua Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Cabang Sumbawa, Dini Surya Ramdani, SSt., FT menyebutkan bahwa jumlah kunjungan pasien fisioterapi di fasilitas kesehatan cukup tinggi. Berdasarkan data angka kunjungan Tahun 2024, mencapai 30.643 orang. Mereka tersebar di sejumlah faskes.  Seperti di RSUD Sumbawa 8.022 orang, Rumah Sakit Manambai Abdulkadir (RSMA) 7.472, RSUD Asy Syifa Sumbawa Barat 8.642 dan Klinik AMMAN 6.507 orang.

Dengan adanya program gratis yang dilaksanakan Amman Mineral, dinilai membantu masyarakat terutama dari sisi finansial. Untuk biaya pelayanan fisioterapi cukup variatif tergantung jumlah dan jenis tindakan yang digunakan. Di rumah sakit berkisar 75 ribu – 150 ribu. Home visite ≧150 ribu, tergantung kondisi pasien dan jarak tempat tinggal.

Program social impact AMMAN dengan memberikan layanan Fisioterapi kepada masyarakat secara langsung dan gratis, menurut Dini–sapaan akrabnya, selain sebagai promosi layanan fisioterapi ini juga memudahkan masyarakat untuk mendapatkan atau merasakan layanan fisioterapi tanpa harus ke rumah sakit. Namun dirasa efektifitasnya masih kurang. Karena program layananan Fisioterapi pada program ini hanya di bidang kuratif dan rehabilitatif. Sedangkan Layanan Fisioterapi yang bersifat kuratif/rehabilitatif akan efektif jika dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Sasarannya juga terbatas hanya kepada orang yang sakit.

Ia menyarankan agar programnya diganti berupa layanan promotif dan preventif. Sebab efektifitas yang dirasakan masyarakat dan pemerintah akan sangat besar. Sasarannya lebih luas dan dapat menekan pembiayaan dalam melakukan pengobatan. Karena mencegah akan selalu lebih baik daripada mengobati. Ini juga sesuai dengan harapan pemerintah yaitu Transformasi Kesehatan Nasional yang menekankan layanan promotif dan preventif.

Dini memandang program ini terbilang unik. Masyarakat di desa yang jauh dari kota bisa merasakan layanan fisioterapi secara gratis. Dalam pelayanan, penyakit kronis yang dominan dirasakan pasien adalah low back pain (nyeri pinggang), Osteoarthritis (radang sendi), dan Stroke.

Kritik Konstruktif dan Harapan Perluasan

Kendati demikian program ini dinilai Dini, masih belum sesuai dengan standar pelayanan fisioterapi komunitas. Untuk standar pelayanan fisioterapi komunitas mengikuti pedoman umum yang tertuang dalam PMK No. 65 Tahun 2015, berfokus pada pendekatan promotif dan preventif, seperti edukasi kesehatan dan promosi gaya hidup sehat, untuk mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh kelompok masyarakat secara keseluruhan.

Integrasi antara fisioterapi dan psikologi komunitas dianggap sangat baik dan penting, dengan memadukan latihan fisik yang efektif dengan dukungan psikologis akan dapat meningkatkan fungsi kognitif, emosional dan sosial dalam komunitas. Metode fisioterapi yang digunakan dalam program ini disesuaikan dengan kondisi pasien. Dapat berupa terapi latihan, manual terapi, serta penggunaan modalitas elektroterapi, heating, ice, dan kinesiotaping. Mengenai lama waktu yang dibutuhkan agar pasien mulai merasakan manfaat dari fisioterapi secara signifikan terbilang variatif, tergantung kasus, tingkat cidera, usia dan kondisi pasien. Bisa hitungan hari, minggu bahkan bulan.

Kendati demikian tantangan utama saat memberikan fisioterapi pada pasien kondisi kronis atau disabilitas berat di lapangan, selalu ada. Kurangnya bukti pemeriksaan penunjang seperti radiologi dan laboratorium untuk menunjang penetapan diagnosa, kurangnya bukti medis riwayat penyakit terdahulu, terbatasnya peralatan/modalitas yang dapat dibawa ke lapangan, dan waktu yang terbatas.

Terkait dengan efektifitas home program dalam memulihkan kondisi penderita, dinilai Dini, cukup efektif, asalkan pasien taat dan rutin melakukannya di rumah sesuai dengan anjuran fisioterapis. Indikator keberhasilannya bisa dilihat dari rasa nyeri yang berkurang, dan kemampuan ADL (Activities of Daily  Living).

Peran keluarga dalam proses pemulihan juga sangat krusial untuk kesembuhan penderita. Keluarga berperan sebagai motivator, pendukung moral dan perpanjangan tangan fisioterapi di rumah membantu pasien menjalani program terapi secara konsisten sehingga mempercepat pemulihan dan meningkatkan kemandirian.

Demikian dengan pendekatan terbaik dalam membangun kepercayaan dan semangat keluarga untuk konsisten mendampingi pasien. Pendekatan berpusat pada pasien (Patient-centered care) mengutamakan komunikasi terbuka dan empati, melibatkan keluarga dalam pengambilan keputusan, dan edukasi yang komprehensif.

Pelatihan Kader Lokal sebagai Terapis 

Sehubungan dengan harapan masyarakat untuk keberlanjutan program ini, tentu membutuhkan konsistensi dari Social Impact AMMAN. Dapat dengan cara menjalin kerjasama dengan Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Cabang Sumbawa. Ia tidak setuju tentang rencana pelatihan kader lokal sebagai terapis dasar. Pasalnya sangat tidak aman secara medis. Selain dibutuhkan keilmuan yang mendalam sebagai fisioterapis, ini juga terkait izin praktek. Yang dibutuhkan agar layanan seperti ini bisa direplikasikan di daerah lain secara aman dan berkualitas adalah perlunya koordinasi atau kolaborasi dengan pihak terkait, seperti Dinas Kesehatan, pemerintah setempat, dan Organisasi Profesi (IFI).

Komitmen Bupati  dan DPRD Sumbawa

Program layanan fisioterapi dan psikologi gratis yang diinisiasi AMMAN melalui Employee Participation Program (EPP) juga mendapat respon positif dari Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP. Menurutnya, program ini merupakan bukti nyata bahwa keberadaan industri besar di daerah tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga membawa dampak sosial yang mendalam dan menyentuh langsung masyarakat yang membutuhkan.

“Kami sangat mengapresiasi AMMAN yang telah menghadirkan program yang begitu humanis dan menyentuh akar persoalan masyarakat, khususnya para lansia dan penyandang disabilitas. Ini bukan sekadar layanan kesehatan, tetapi pemulihan harapan hidup dan kemandirian warga kita. Pemerintah Kabupaten Sumbawa siap terus mendukung dan memfasilitasi agar program ini berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak wilayah,” tegas Bupati Haji Jarot.

Program AMMAN ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Daerah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di bidang kesehatan. Sudah beberapa tahun ini, pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran untuk mengakomodir masyarakat Sumbawa terutama dari kalangan tidak mampu dalam program BPJS Kesehatan.

Tahun 2024 lalu, Pemda Sumbawa mengalokasikan anggaran sebesar Rp 47 milyar. Meningkat pada tahun 2025 menjadi Rp 53 milyar, menyusul bertambahnya jumlah cakupan kepesertaan dalam JKN-KIS sebanyak 123.573 jiwa (Juli 2025). Jadi, hanya dengan membawa KTP, masyarakat akan terlayani di sejumlah fasilitas kesehatan.

Komitmen inilah yang membuat Kabupaten Sumbawa setiap tahun meraih UHC Award (Universal Health Coverage). Ini merupakan penghargaan bergengsi yang diserahkan langsung Wakil Presiden RI dalam acara yang digelar di Krakatau Grand Ballroom TMII Jakarta, Agustus 2024 lalu. Kabupaten Sumbawa melalui kerja keras dan sinergi dengan BPJS Kesehatan, berhasil mencapai cakupan kepesertaan JKN-KIS sebesar 98%, jauh melampaui target minimal 95% yang ditetapkan. Keberhasilan ini, tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Sumbawa, tetapi juga memotivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

Dengan menempatkan pelayanan kesehatan sebagai prioritas utama, Pemerintah Daerah Sumbawa bertekad untuk terus berikhtiar dan istiqamah dalam memperbaiki serta memperkuat sistem kesehatan di wilayahnya. Selain itu memastikan seluruh warganya mendapatkan akses layanan kesehatan yang berkualitas dan merata. Tentunya ini berkat kolaborasi dengan semua pihak termasuk AMMAN Mineral.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa menilai kolaborasi menjadi kunci, bukan hanya merumuskan perencanaan pembangunan kesehatan daerah tapi juga pendekatan multi sektor tersebut akan membuat arah pembangunan kesehatan menjadi lebih matang, terarah, dan optimal.

“Pertumbuhan penduduk Kabupaten Sumbawa dalam lima tahun terakhir mencapai 1,38% per tahun. Pada tahun 2024, jumlah penduduk tercatat sebanyak 536.000 jiwa. Seluruh penduduk ini harus dipastikan dalam kondisi sehat, karena kesehatan adalah fondasi pembangunan,” tandas Bupati.

Apresiasi terhadap program AMMAN juga datang dari Ketua DPRD Sumbawa, Nanang Nasiruddin, S.AP., M.M.Inov. Ia menyatakan bahwa kolaborasi seperti ini adalah contoh ideal dari sinergi antara sektor swasta dan pemerintah dalam pembangunan daerah. Pendekatan AMMAN yang melibatkan komunitas, relawan profesional, dan berbasis budaya lokal adalah kekuatan utama dari program ini.

“DPRD sangat mendukung keberlanjutan program ini. Apa yang dilakukan AMMAN adalah contoh terbaik dari CSR berbasis partisipasi nyata, bukan sekadar simbolik. Ini memberi dampak langsung, baik fisik maupun mental, bagi masyarakat rentan. Kami mendorong agar program serupa bisa direplikasi di wilayah lain, bahkan menjadi model nasional,” ujar Nanang.

DPRD siap memfasilitasi pertemuan lintas sektor termasuk dinas teknis, organisasi profesi, dan pelaku industry untuk memastikan program seperti ini mendapatkan dukungan regulatif dan penganggaran yang sesuai, jika diperlukan dalam pengembangan skala lebih besar. (*)

situs slot

slot gacor hari ini

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *