SUMBAWA BESAR, samawarea.com (25 Juli 2026) —Pemerintah Kabupaten Sumbawa memanfaatkan kunjungan sejumlah menteri untuk memaparkan arah pengembangan Kawasan Strategis SAMOTA sebagai kawasan unggulan yang diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata, ekonomi biru, dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam pemaparan yang disampaikan Asisten II Setda Sumbawa, Lalu Suharmadji ST MT, bahwa pengembangan Kawasan Strategis SAMOTA telah memiliki landasan hukum yang kuat melalui Peraturan Daerah Provinsi NTB Nomor 5 Tahun 2024 tentang Kawasan Strategis SAMOTA.
Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut diarahkan pada enam fokus utama, yakni penguatan sektor pariwisata, industri dan perikanan, peningkatan konektivitas wilayah, pelestarian kawasan lindung, pengembangan kawasan budidaya berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan mitigasi bencana.
“Konsep pembangunan SAMOTA bertumpu pada lima pilar utama, yaitu pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pelestarian lingkungan, pelestarian budaya, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pembangunan kawasan yang tangguh terhadap bencana dengan slogan SAMOTA Maju, Lestari, dan Sejahtera,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, Pemkab Sumbawa juga memperkenalkan tujuh keunggulan utama Kawasan SAMOTA yang dinilai memiliki daya saing internasional. Di antaranya Pulau Moyo dengan wisata alam eksklusifnya, Pulau Satonda yang memiliki danau air asin vulkanik, Teluk Saleh yang dikenal sebagai “Akuarium Raksasa Dunia”, hingga Gunung Tambora yang memiliki nilai sejarah global dan potensi sebagai kawasan geopark internasional.
Selain itu, kawasan SAMOTA juga memiliki habitat hiu paus yang menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia, gugusan pulau-pulau eksotis untuk wisata bahari, serta posisi strategis sebagai bagian dari jalur Sail Indonesia melalui Yacht Rally Internasional yang membuka peluang pengembangan wisata kapal pesiar kelas dunia.
Secara keseluruhan, Pemkab Sumbawa menilai SAMOTA memiliki empat keunggulan kompetitif, yakni keunggulan geografi dan geologi, biodiversitas dan konservasi, ekonomi biru berkelanjutan, serta pariwisata premium bertaraf internasional.
Dalam pemaparan tersebut juga disampaikan hasil validasi pasar yang menunjukkan permintaan terhadap destinasi wisata maupun investasi di kawasan SAMOTA terus mengalami peningkatan. Pertumbuhan ekowisata, meningkatnya aktivitas sektor pariwisata, berkembangnya komunitas experiential tourism, hingga semakin luasnya pengakuan internasional menjadi indikator terbukanya peluang investasi di kawasan tersebut.
Tak hanya itu, Pemkab Sumbawa memaparkan capaian investasi di Kawasan SAMOTA sepanjang periode 2020 hingga 2026 yang telah menjangkau 10 kecamatan di Kabupaten Sumbawa.
Sektor pertanian dan perkebunan menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai sekitar Rp 434 miliar atau 44,71 persen dari total investasi kawasan. Posisi berikutnya ditempati sektor perikanan sebesar 15,68 persen, pariwisata 12,75 persen, industri 9,88 persen, dan sektor lainnya sekitar 17 persen.
Ke depan, arah investasi akan difokuskan pada 10 sektor prioritas, meliputi perikanan, budidaya laut, pertanian dan perkebunan, industri, agrowisata, ekowisata, maritim dan pelabuhan, pariwisata premium, energi dan bioindustri, serta perdagangan dan jasa pendukung.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa menegaskan bahwa pengembangan Kawasan Strategis SAMOTA akan terus mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan melalui sinergi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. (SR)






