Kades Penyaring Minta Eksavator, Menteri KP: Syaratnya Petani Tambaknya Harus Kompak

oleh -704 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (19 Februari 2025) – Kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP), Ir. Sakti Wahyu Trenggono di Lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) Udang, Desa Penyaring, Kecamatan Moyo Utara, Rabu (19/2/25), dimanfaatkan pemerintah desa setempat untuk menyampaikan aspirasinya.

Dalam kesempatan itu Kades Penyaring Kecamatan Moyo Utara, Abdul Wahab di hadapan Menteri dan rombongan menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR yang telah mengalokasikan program revitalisasi tambak udang tradisional milik masyarakatnya.

Sebelumnya tambak udang di Desa Penyaring dengan luas lahan 200 hektar, terbengkalai dan tak produktif. Namun sejak ada program revitalisasi senilai Rp 36 milyar, tambak-tambak ditata, tanggul diperbaiki, jalan di lokasi tambak dibenahi dan dilakukan pembangunan fasilitas lainnya. Petani tambak pun bergairah sehingga mampu mendapatkan penghasilan dari tambaknya.

Meski semua ini telah ditangani, Kades mengaku ada beberapa kendala. Sejumlah tambak mengalami kebocoran, sehingga produksi panen udang menurun. Sebab dari celah bocornya itu, isi tambak keluar dan dipanen secara bebas oleh masyarakat.

Selain itu perlu dibangun pembatas antara tambak satu degnan tambak lainnya. Dengan tidak adanya pembatas, sangat rentan terjadi masalah. Untuk menangani hal ini, Kades meminta bantuan satu unit eksavator. “Kedatangan bapak Menteri memunculkan harapan baru. Kami butuh alat berat, mohon bantuan bapak,” pintanya.

Menanggapi permintaan itu, Menteri KP, Ir. Sakti Wahyu Trenggono MM, mengatakan, bantuan alat berat itu persoalan kecil. “Besok-besok bisa kami berikan,” ucap Menteri Trenggono.

Namun demikian, menurutnya, keberadaan alat berat tersebut hanya mampu menangani persoalan yang kecil, tidak menyeluruh. Yang ingin dilakukan pemerintah adalah menciptakan kawasan yang kuat dengan manfaat jangka panjang melalui kegiatan rekonstruksi.

Bukan hanya tambaknya yang ditata, pemilik tambaknya diberdaya, prosesnya dimanajemenkan, dan hasil panennya ditingkatkan. Pengelolaan dengan cara yang benar dan didesain dengan cara yang tepat, maka produktivitasnya juga akan tinggi dan hasilnya akan bagus.

“Jadi masalah bantuan alat berat itu persoalan kecil dan bersifat sementara. Yang kita inginkan yang jangka panjang dan memiliki manfaat yang besar. Kuncinya hanya satu, pemilik tambaknya harus kompak,” tandasnya. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *