Sumbawa Barat. Samawarea.com 20 Oktober 2024 – H. Arya Sandhiyudha, Ph.D., Wakil Ketua Komisi Informasi (KI) Pusat Republik Indonesia, baru-baru ini berbagi kisah inspiratif yang menggugah, tentang sebuah cerita nyata yang dikenal dengan nama “The Lost Soldiers and The Map” atau “Prajurit yang Hilang dan Peta.” Kisah ini diambil sebagai metafora dalam membangun sebuah cita-cita dan tujuan besar yang lebih mengutamakan semangat kebersamaan daripada detail perencanaan yang rumit, di acara Visitasi Desa Desaberu Kecamatan Brang Rea.
Dalam paparan yang disampaikan di hadapan sejumlah peserta, H. Arya menjelaskan bahwa dalam perjalanan meraih cita-cita, tidak selalu dibutuhkan peta yang terlalu rinci atau petunjuk langkah yang sempurna. Yang terpenting, kata Arya, adalah adanya semangat yang sama di antara seluruh pihak yang terlibat. “Sebenarnya untuk membangun sebuah cita-cita kadang tidak butuh peta yang terlalu detail, tetapi yang terpenting adalah semangat yang sama tanpa ada sedikitpun celah putus asa. Lalu kekompakan bersama dan semua bergerak ke satu arah yang sama,” tuturnya.
Kisah “Prajurit yang Hilang dan Peta” menggambarkan sekelompok prajurit yang berusaha mencapai tujuan besar meskipun mereka tidak memiliki peta yang lengkap. Meskipun mengalami kesulitan dan tantangan, semangat kebersamaan dan tujuan yang jelas membuat mereka mampu bertahan dan akhirnya mencapai tujuan mereka. Hal ini, menurut H. Arya, sangat relevan dengan konteks pembangunan di Indonesia, khususnya dalam hal transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan informasi publik
Lebih lanjut, H. Arya menekankan pentingnya semangat yang sama dalam membangun masyarakat, seperti yang tercermin dalam implementasi Keterbukaan Informasi Publik (KIP) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), khususnya di Desa Desaberu. Tim Penilai yang melakukan visitasi terhadap desa ini tidak akan terlalu banyak menanyakan detail teknis, melainkan lebih mengutamakan apakah semangat dan komitmen untuk menciptakan transparansi dan akuntabilitas benar-benar telah dipahami dan diterapkan oleh masyarakat dan pemerintah setempat.
“Jika telah berhasil menangkap semangat adanya KIP di KSB, khususnya Desa Desaberu, dipastikan Desa Desaberu akan menjadi yang terbaik,” ujar Arya dengan penuh keyakinan. Menurutnya, KIP yang dijalankan dengan semangat yang kuat dapat mendorong masyarakat untuk lebih aktif berpartisipasi, serta memastikan bahwa informasi yang penting bagi publik dapat diakses dengan mudah dan terbuka.
Wakil Ketua KI Pusat ini juga mengungkapkan bahwa di tengah keberagaman dan potensi alam yang melimpah di Kabupaten Sumbawa Barat, penting bagi setiap lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan memajukan daerahnya dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi. “Jika ingin membawa transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi kepada masyarakat, memang harus sadar bahwa ini Kabupaten yang sangat kaya, sehingga harus dipertanggungjawabkan seterbuka-terbukanya kepada masyarakat yang mendiami dan menghidupi kabupaten ini,” katanya.
Dia menegaskan bahwa keterbukaan informasi akan membawa kemajuan, tidak hanya untuk Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, tetapi juga untuk Desa Desaberu dan seluruh masyarakat yang ada di sana. Semangat untuk saling bekerja sama dan membuka akses informasi, menurut H. Arya, adalah langkah penting untuk menciptakan tata kelola yang baik dan berdampak positif bagi kesejahteraan bersa.
Melalui penuturan ini, H. Arya berharap kisah tentang “Prajurit yang Hilang dan Peta” dapat menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Desa Desaberu dan Kabupaten Sumbawa Barat secara umum, untuk terus bergerak maju meskipun tantangan yang dihadapi tak selalu mudah. Dengan semangat yang tidak pernah padam, kekompakan yang terjalin erat, dan visi yang sama, cita-cita pembangunan yang lebih baik pasti akan tercapai.
“Kita bersama-sama bisa membangun KSB dengan semangat yang satu, untuk kemajuan bersama, dengan penuh kebersamaan dan kepercayaan,” tutupnya, berharap bahwa kisah ini bisa menjadi motivasi untuk terus berjuang bersama demi kemajuan daerah.






