Yudisium FKIP UNSA, Doktor Nining Sampaikan Orasi Ilmiah Soal Pendidikan Karakter

oleh -1429 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (30 September 2024) – Pendidikan karakter menjadi salah satu isu sentral yang diangkat dalam berbagai forum pendidikan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa pendidikan karakter adalah fondasi penting dalam pembentukan pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi tantangan di dunia kerja serta kehidupan sosial yang semakin kompleks.

“Pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya bertujuan untuk mencetak lulusan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang tertentu, tetapi juga individu yang memiliki karakter kuat dan moralitas tinggi. Namun, seringkali fokus utama perguruan tinggi hanya pada aspek akademik, sementara pengembangan karakter mahasiswa kurang mendapat perhatian yang memadai,” ungkap Dr. Nining Andriani M.Pd—Dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Universitas Samawa, saat menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul “Implementasi Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi” pada acara Yudisium Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samawa (FKIP UNSA) di Auditorium UNSA, Senin (30/9/24).

Di hadapan Rektor UNSA, Warek, Dekan dan para mahasiswa yang diwisuda, Doktor Nining mengajak semuanya untuk lebih serius dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di perguruan tinggi, karena inilah yang akan menentukan masa depan bangsa dan negara.

Menurut jebolan Program Doktoral Universitas Negeri Malang ini, bahwa Pendidikan Karakter dapat dipahami sebagai usaha sistematis untuk mengembangkan nilai-nilai moral dan etika dalam diri mahasiswa sehingga mereka mampu membedakan mana yang benar dan salah, serta memiliki kemauan dan keberanian untuk melakukan yang benar meskipun dalam situasi yang sulit.

Pendidikan karakter mencakup berbagai aspek, termasuk disiplin diri, kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Di perguruan tinggi, lanjutnya, pendidikan karakter harus diintegrasikan dalam seluruh aspek kegiatan akademik dan non-akademik.

Hal ini berarti bahwa pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab dosen dalam kelas, tetapi juga seluruh civitas akademika dalam setiap interaksi sehari-hari.

“Pendidikan karakter harus menjadi bagian integral dari kurikulum, kegiatan kemahasiswaan, serta budaya kampus,” tandas Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kampus Mengajar Program Kemendikbud ini.

Mengapa pendidikan karakter penting di perguruan tinggi ? Disebutkan Doktor Nining, pertama, perguruan tinggi adalah lembaga yang menyiapkan generasi penerus bangsa. Jika generasi ini tidak dibekali dengan karakter yang kuat, maka akan sulit bagi mereka untuk menghadapi tantangan masa depan.

Tantangan ini tidak hanya datang dari perkembangan teknologi dan ekonomi, tetapi juga dari krisis moral yang melanda berbagai sektor kehidupan.

Kedua, lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadi pemimpin di berbagai bidang. “Seorang pemimpin yang hanya memiliki kecerdasan intelektual tanpa karakter yang kuat akan cenderung menyalahgunakan kekuasaan dan tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Karena itu, pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama dalam pembentukan pemimpin masa depan yang berintegritas,” imbuhnya.

Ketiga, pendidikan karakter membantu mahasiswa untuk menjadi pribadi yang seimbang. Pendidikan tinggi sering kali menekankan pada pencapaian akademik yang tinggi, namun jika tidak diimbangi dengan pengembangan karakter, mahasiswa bisa menjadi individu yang egois, tidak peka terhadap lingkungan, dan tidak memiliki rasa tanggung jawab sosial. Pendidikan karakter membantu mahasiswa untuk mengembangkan empati, kepedulian, dan komitmen terhadap masyarakat.

Ada beberapa strategi dapat dilakukan. Yakni integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum. Setiap mata kuliah harus mampu menyisipkan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab dalam setiap materi yang diajarkan.

Selain itu, evaluasi terhadap mahasiswa tidak hanya dilakukan berdasarkan hasil akademik semata, tetapi juga perilaku dan sikap mereka dalam proses pembelajaran. Kemudian, pemberdayaan kegiatan kemahasiswaan. Organisasi kemahasiswaan, unit kegiatan mahasiswa, dan kegiatan-kegiatan lain di luar kelas harus diarahkan untuk menjadi wadah pengembangan karakter.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa belajar untuk bekerja sama, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil. Selanjutnya, penguatan budaya kampus. Budaya kampus yang positif dapat menjadi lingkungan yang kondusif bagi pengembangan karakter mahasiswa.

Karena itu, perguruan tinggi harus menciptakan budaya akademik yang menjunjung tinggi nilai nilai kejujuran, keterbukaan, dan inklusifitas. “Kampus juga harus menjadi tempat yang ramah bagi mahasiswa untuk berekspresi, berdiskusi, dan belajar dari satu sama lain tanpa rasa takut atau tertekan,” ujarnya.

Namun, implementasi pendidikan karakter di perguruan tinggi tentu tidak tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah resistensi terhadap perubahan. Banyak pihak yang masih beranggapan bahwa pendidikan karakter bukan tanggung jawab perguruan tinggi, melainkan tanggung jawab keluarga atau lingkungan masyarakat.

Pandangan ini perlu diubah, karena pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi. Kurangnya sumber daya dan dukungan dari berbagai pihak juga menjadi kendala.

Pendidikan karakter membutuhkan komitmen jangka panjang, tidak hanya dari dosen, tetapi juga dari pihak manajemen perguruan tinggi, orang tua, dan masyarakat. Untuk itu perlu adanya sinergi antara berbagai pihak untuk memastikan bahwa pendidikan karakter dapat diimplementasikan dengan baik dan berkelanjutan.

“Pendidikan karakter bukanlah pilihan, tetapi sebuah keharusan bagi perguruan tinggi yang ingin mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan memiliki moralitas yang tinggi. Implementasi pendidikan karakter di perguruan tinggi adalah investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat besar bagi individu, masyarakat, dan bangsa.

“Mari kita semua, sebagai bagian dari civitas akademika, berkomitmen untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap aspek kehidupan kampus. Dengan demikian, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya mampu bersaing di era globalisasi, tetapi juga memiliki hati nurani yang tulus untuk berbuat kebaikan bagi sesame,” tutupnya. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *