Gubernur Tidak Ingin Lulusan UTS Jadi Pengangguran dan Beban Masyarakat

oleh -421 Dilihat
Gubernur NTB dan Rektor UTS bersama Kepala LLDIKTI VIII, Bali Nusa Tenggara, Ir.I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T,. IPU.,ASEAN.Eng dan Purn. Laksma Arie Tryono yang memberikan kualitas umum pada acara wisuda UTS

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (2 Maret 2023)–Gubernur NTB, Dr. H. Zulkifliemansyah, SE., M.Sc menyatakan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) bukan kampus biasa dan sekedar meluluskan wisudawan/wisudawatinya untuk mendapatkan gelar. Semua dosennya juga bukan datang mengajar karena ingin mencari nafkah. Namun ada keinginan yang kuat untuk mendistribusikann apa yang diimpikan menjadi kenyataan.

“Visi misi kita tidak sama dengan kampus lain. Visi misi UTS merupakan hasil dari sebuah perenungan yang mendalam,” kata Gubernur yang juga pendiri UTS ini saat memberikan sambutannya pada Wisuda 374 mahasiswa UTS Program Sarjana dan Magister di Ruang Publik Kreatif (RPK) UTS, Kamis (2/3/2023).

Gubernur yang akrab disapa Bang Zul ini menambahkan bahwa, UTS adalah rumah pembelajaran. “Namanya rumah, kemanapun kita pergi, setinggi apapun pangkat dan ekonomi kita, rumah itu tak boleh ditanggalkan. UTS adalah rumah pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan,” terang Bang Zul.

Bang Zul menekankan kepada semua civitas akademika bahwa tidak boleh ada kultur saling menjatuhkan dan kultur yang tidak produktif di UTS. Dari Rektor sampai tukang kebun harus merasa nyaman dan menyenangkan berada di UTS, lalu tumbuh bersama dan utuh sebagai manusia dan bermanfaat bagi semesta alam.

“Kampus ini memberikan kita pembelajaran banyak hal. Kampus ini awalnya gersang tanpa pohon, ini berubah hijau dan asri. Ini bisa terwujud karena kita memiliki mantra “perjalanan panjang selalu harus dimulai dari langkah pertama,” ucapnya.

Menyinggung mahasiswa Pascasarjana UTS yang saat ini mewisuda 122 mahasiswanya, Bang Zul mengatakan bahwa Manajemen Inovasi adalah pertama dan satu-satunya di Indonesia bahkan dunia. Gelar M.M.Inov yang kini disandang para wisudawan adalah gelar baru.

“Karena itu saya mengingatkan  jangan sampai gelar baru ini membuat ita tidak ada perubahan untuk maju. Untuk berubah kita butuh inovasi. Bisa dengan produknya berbeda, bisa juga dengan caranya yang berbeda. Dikatakan inovatif kalau dia mampu menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda,” ujarnya.

Karena menurut Bang Zul, ilmu dan gelar yang direngkuh ini membuat sebuah proses dari lambat menjadi lebih cepat, membuat produk lebih baik dan lebih murah.

“Jangan sampai karena ada gelar M.M.Inov  lalu semua yang dihasilkan menjadi mahal dan lambat. Dengan gelar itu Anda punya tanggung jawab baru untuk tumbuh utuh dan bermanfaat bagi manusia. Kami tidak ingin ada lulusan UTS menjadi pengangguran dan beban masyarakat. Kami juga tidak ingin lulusan UTS tinggi hati, sombong dan melupakan orang tua,” pesannya. (SR)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *