SUMBAWA BESAR (16 Juni 2022)–Gas LPG 3Kg terlihat langka. Tidak sedikit ibu rumah tangga berkeliling mencari tabung melon subsidi tersebut. Semua pengecer yang didatangi mengaku LPG 3Kg itu habis. Padahal sebagian dari mereka menyembunyikan bahan bakar rumah tangga tersebut yang nantinya dijual dengan harga selangit.
Tidak jarang beberapa pengecer yang memasang tulisan di pintu tokonya “Gas 3Kg Habis”. Padahal gas tersebut disimpan di ruangan bagian dalam. Yang dipajang di depan hanya gas 5Kg—12 Kg (gas non subsidi). Nantinya ada orang yang datang untuk mengambil dalam jumlah banyak, yang kemudian dijual kembali dengan harga mahal.
Kondisi ini menyebabkan harga gas LPG 3Kg terkadang mencapai hingga Rp 30.000—40.000. Harga ini membuat masyarakat menjerit karena sangat jauh dari kemampuan dan melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).
Kenyataan tersebut membuat sejumlah ibu rumah tangga (IRT) yang diback-up Lembaga Pemantau Pembangunan dan Kinerja Pemerintah (LP2KP) menggelar aksi demo di Kantor Bupati dan DPRD Sumbawa, kemarin.
Ketua LP2KP Sumbawa, Muhammad Sidik meminta Pemerintah Kabupaten Sumbawa tidak menutup mata terkait langka dan melambungnya harga gas LPG 3Kg. Sebab bahan bakar itu menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Ia menilai langkanya LPG ini adalah permainan oknum mafia seperti yang terjadi pada anjloknya harga gabah dan jagung.
Untuk itu dia mendesak Bupati Sumbawa dan dinas terkait untuk mencari dalang dari semua itu. Ketika oknum pengusaha yang bermain dapat ditindak tegas dan mencabut izin operasionalnya. Sebab prakteknya melanggar ketentuan pasal 33 Permen ESDM No. 26 tahun 2009.
“Kami menduga kuat muncul persoalan ini karena lemahnya pengawasan dan tidak adanya sikap tegas dari pemerintah sehingga di lapangan terjadi penyalahgunaan pendistribusian LPG 3Kg sehingga harganya melampaui HET,” ujarnya.
Pemerintah harus memberikan perhatian serius agar tidak terjadi konflik di tengah-tengah masyarakat. Terlebih lagi akan berlangsung ajang internasional MXGP di Samota yang kondusifitas daerah harus tetap terjaga. “Masalah gas LPG ini terjadi di semua kecamatan, keberadaannya langka dan harganya juga mahal,” imbuhnya. (BUR/SR)






