SUMBAWA—Anggota DPRD Provinsi NTB, H. Asaat Abdullah pesimis jalan kabupaten mantap 100 persen, seperti sulitnya diwujudkan. Keyakinan ini dilandasi dengan tidak dianggarkannya dana pemeliharaan jalan.
“Ini sangat menyedihkan, dana pemeliharaan jalan di-nol-kan. Sehingga gaung jalan mantap 100 persen di Kabupaten Sumbawa, hanya menjadi mimpi belaka,” kata Haji Saat—sapaan akrab mantan Kadis PU Sumbawa yang kini menjabat sebagai Ketua DPC Nasdem Sumbawa ini pada acara Reuni IPJK (Inpres Peningkatan Jalan Kabupaten) Sumbawa, di Pondok Perate, Senin (24/1/2022).
Pemerintah daerah saat ini, ungkap Haji Saat, lebih mementingkan peningkatan jalan daripada pemeliharaan. Padahal pemeliharaan jauh lebih penting. Saking pentingnya, alokasi dana pemeliharaan jalan merupakan amanat UU No. 13 tahun 1980 tentang Jalan, yang kemudian sekarang digodok UU No. 38 Tahun 2004, dengan turunannya PP 34 tahun 2006.
Dalam regulasi ini, menyebutkan menjadi kewajiban dari penyelenggara untuk memelihara jalan. “Jadi tidak main-main, ini amanat undang-undang, kenapa tidak dijalankan,” ujarnya dalam nada tanya.
Ia mengakui tanpa pemeliharaan, banyak ruas jalan yang dulunya ditingkatkan sekarang sudah mengalami kerusakan. Sebab ada tiga musuh jalan yaitu air atas, air samping dan air bawah. Dengan adanya kerusakan ini, persentase jalan mantap akan menurun. Karena itu kenyataan ini harus dikoreksi betul terutama dari segi perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan.
“Kalau ini tidak diperhatikan maka jalan yang ada akan hancur. Makanya saya lihat pemahaman dari leading sektor terkait tentang ini tidak ada. Hanya focus hotmix. Memang ini tidak salah, tapi yang salah itu ketika dana pemeliharaan jalan dinolkan dalam APBD,” tukasnya.
Sebagai legislator propinsi, Haji Saat mengaku telah mendorong Pemprov NTB melalui leading sektor terkait untuk mengalokasikan dana pemeliharaan jalan. Mengingat Kadis PUPR NTB sangat paham tentang jalan, maka anggaran untuk pemeliharaannya lebih besar daripada anggaran peningkatan jalan. (SR)






