Dari Bonggol Jagung, Mahasiswa UTS Wujudkan Tolo’oi Jadi Pusat Jamur

oleh -545 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (20 Agustus 2021)

Bonggol jangung merupakan limbah hasil pertanian yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal khususnya di Sumbawa. Namun di tangan 4 mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Nusa Tenggara Barat, limbah tersebut kini disulap menjadi media untuk budidaya jamur komsumsi seperti merang.

Keempat mahasiswa tersebut adalah Abdul Ajim Pulungan (21), Rahmat Hidayat Katili (19), Wahyu Sailama (20), dan Nusaibah Ali (19), dengan pembimbing Lukman Azis S.TP., M.Sc, Dosen Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, UTS.

Kelompok mahasiswa tersebut merupakan penerima dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) yang didanai Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI) Tahun 2021. Program ini terdiri dari dua tahap.

Tahap pertama ini telah berlangsung dengan pemberian pelatihan budidaya jamur merang di Desa Tolo’oi dari tanggal 8 hingga 10 Agustus 2021. Acara tersebut dihadiri beberapa perangkat desa setempat dan Kelompok Karang Taruna.

Selanjutnya tahapan kedua yang akan berlangsung di antaranya pelatihan penanganan pasca panen jamur, pembuatan produk berbahan dasar jamur, pengemasan, pelabelan serta strategi marketing digital untuk meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Tolo’oi khususnya para pemuda dalam rangka mempersiapkan Bonus Demografi Indonesia di tahun 2035 mendatang.

Ada beberapa tahapan untuk mewujudkan bonggol jagung menjadi media jamur. Diawali dengan pengumpulan bonggol jagung yang sudah menjadi limbah di sekitar Desa Tolo‘oi. Selanjutnya ditata dalam peti berbahan kayu dan bambu yang dialasi terpal. Bonggol jagung tersebut kemudian ditambahkan beberapa bahan seperti bekatul, ragi dan pupuk urea untuk meningkatkan nutrisinya.

Berikutnya, penyiraman untuk menurunkan kelembaban media dan lingkungannya hingga jamur merang tumbuh. Proses penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari selama 14 hari. Setelah proses penyiraman dilakukan, maka media ditutup dengan terpal untuk menjaga kelembaban, suhu serta menghindarkan dari cahaya langsung matahari.

“Proses pembuatan budidaya jamur konsumsi melalui bonggol jagung ini cukup mudah dan bisa dilakukan dimana saja dengan bahan yang mudah didapatkan,” tutur Abdul Ajim.

Setiap lima karung limbah bonggol jagung yang digunakan sebagai media budidaya membutuhkan bekatul sebanyak 3 Kg, ragi 130 Gr dan pupuk urea 750 Gr. Semua bahan tersebut harus dipastikan tercampur secara merata. Perlakuan seperti mengaduk kemudian ditaburkan sedikit demi sedikit di atas bonggol jagung adalah cara yang pas untuk tahapan ini.

Setelah 14 hari, jamur yang tumbuh akan dilakukan penanganan pasca panen jamur. Hal ini dilakukan agar jamur yang telah dipanen tidak rusak. Proses penanganan ini bisa seperti jamur diolah dengan cara dimasak langsung atau diolah menjadi produk pangan yang bisa dikonsumsi langsung namun juga memiliki masa simpan yang lama.

”Program ini berlanjut, pada proses pasca panen, seperti pembuatan produk, praktik pengemasan produk, pelabelan dan marketing digital akan dilaksanakan minggu depan,” tutur Nusaibah, salah satu anggota PKM-PM ini.

Dari percobaan yang dilakukan sebelumnya bersama dosen Teknologi Hasil Pertanian UTS di Laboraturium menunjukkan bahwa proses pengolahan jamur yang tepat seperti pengeringan mampu memperpanjang umur simpan jamur hingga enam bulan lamanya.

Pelatihan pembuatan mie jamur kering, jamur crispy siap makan tanpa penambahan bahan pengawet adalah materi yang akan disampaikan pada pertemuan pekan depan. Produk ini adalah produk inovasi baru yang memiliki daya tarik tinggi serta menjadi peluang besar bisnis di era ini. Melalui pasar lokal maupun nasional baik online maupun offline produk ini akan dipasarkan oleh masyarakat Desa Tolo’oi dan menjadi produk asli desa ini.

Harapan dari program ini adalah termanfaatkannya limbah bonggol jagung di Desa Tolo‘oi serta terwujudnya satu desa satu produk. Ini sesuai dengan program pemerintah dalam usaha meningkatkan UMKM di seluruh wilayah Indonesia.

Selain itu, diharapkan Desa Tolo‘oi mampu menjadi central village untuk desa lain khususnya dalam hal pengembangan potensi desa di bidang pengolahan jamur. (SR)

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *