SUMBAWA BESAR, samawarea.com (25/5/2021)
Pemenang lomba cipta desain cover buku “Dari Sumbawa Menggapai Puncak Eifell” (Rekam Jejak Mr. H.L. Mala Sjarifuddin, DESS., Ph.D Doktor Pertama di NTB), telah ditetapkan. Pengumumannya dilaksanakan Senin (24/5) kemarin, di Aula H. Madilaoe ADT Kantor Bupati Sumbawa.
Adapun pemenang Lomba Cipta Desain Cover Buku ini adalah Zainal Abidin meraih juara pertama. Pemenang Kedua Imam Khoirul Arifin, dan Pemenang Ketiga Alimin Samawa. Sementara empat Pemenang Favorit adalah Andi Ryan Hidayat, Hairul Fikriawan, Erni Sulastri dan Mauro Nicolas Scabuzzo Mahasiswa S2 Universitas Teknologi Sumbawa asal Argentina.
Wakil Bupati Sumbawa, Dewi Noviany, S.Pd., M.Pd., yang hadir pada acara itu mengapresiasi terselenggaranya lomba cipta desain cover buku yang merupakan buah karya Nurdin Ranggabarani SH MH ini. kegiatan ini, kata Wabup, dapat menjadi stimulus para generasi muda Sumbawa untuk membuat karya-karya kreatif.
Untuk diketahui Mr. H. L. Mala Sjarifuddin, DESS., Ph.D., atau populer disebut Doktor Mala, lahir di Desa Jotang Kecamatan Empang, 18 November 1932. Ayah kandungnya bernama Lalu Banggai Abdul Wahab, dan ibu kandungnya Lala Baijuri Dea Masuki Talif.
Doktor Mala menempuh pendidikan SD di Sumbawa Besar, lalu jenjang SMP di Kota Makassar, dan menamatkan SMA di Kota Surabaya. Gelar Doktornya diraih di Universitas Pantheon Assas di Kota Paris, Perancis, dengan predikat summa cumlaude.
Doktor Mala dikenal sebagai pribadi yang sangat disiplin, tegas, lurus dan jujur. Ia diketahui menguasai 7 bahasa asing (Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Rusia, Arab dan Cina). Demikian pula bahasa daerah, selain Bahasa Sumbawa, juga fasih berbahasa Mbojo, Bugis-Makassar, Jawa dan Sunda.
Berkat kecerdasannya itu, Ia pernah didapuk sebagai Kepala Urusan Haji, Kepala Inspektorat NTB, Direktur APDN Mataram dan dosen di berbagai perguruan tinggi. Dia pulalah yang menginisiasi berdirinya Fakultas Hukum Universitas Mataram, IKIP, UNIZAR, dan beberapa perguruan tinggi lainnya.
Selain itu, dikenal suka menolong siapapun, tanpa memandang latar belakang apapun. Sehingga banyak mahasiswa asal Sumbawa yang sering berkumpul di rumahnya di Mataram karena tidak memiliki tempat tinggal.
Akhirnya dia menginisiasi pembangunan asrama mahasiswa Sumbawa di Mataram, dengan menyumbangkan tanah beserta bangunannya. Asrama ini kemudian menjadi cikal bakal lahirnya asrama-asrama mahasiswa Sumbawa di beberapa kota di Indonesia. (SR/**)






